Muslim Calgary Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Kanada

Calgary, MINA – Muslim Kanada melalui cabang Islamic Relief Calgary (IRC) menyalurkan bantuan untuk korban banjir di negaranya.

Organisasi kemanusiaan cabang Calgary mengisi barang-barang yang diperlukan ke truk container untuk dikirim kepada orang-orang yang terkena dampak banjir di kawasan British Columbia. Calgary Herald melaporkan, Sabtu (11/12).

Staf dan sukarelawan bekerja sama untuk menyiapkan barang mendesak seperti air kemasan, sup kalengan dan sayuran, sampo, sabun, deterjen, pel, ember, dan lainnya. Mereka menggunakan dana yang dikumpulkan untuk B.C. respon banjir. Tim juga meminta warga Calgaria untuk menyumbangkan barang-barang untuk truk tersebut.

Sejauh ini, tim telah menghabiskan $3.000 (sekitar Rp43 juta) untuk membeli barang-barang yang diperlukan mendesak dan dipusatkan di Pusat Islam Akram Jomaa di timur laut Calgary pada Jumat sore.

Barang-barang mendesak tahap awal terdiri dari air kemasan, seperti sup kalengan dan sayuran, sampo, sabun, deterjen, pel, ember, dan lainnya.

Kohawar Khan, manajer penggalangan dana kawasan Alberta untuk Islamic Relief Canada, mengatakan dia berharap warga Alberta akan membantu mengisi dua pertiga sisanya.

Tim juga meminta warga Calgaria untuk menyumbangkan barang-barang untuk truk tersebut.

“Mereka sedang menghadapi kesulitan dan kami perlu melakukan yang terbaik yang bisa kami lakukan, jadi itu bukan proses pemikiran yang besar bagi kami. Kami di sini untuk menjawab panggilan sekarang,” kata Khan.

“Kami masih membutuhkan barang-barang lagi seperti kain pel, ember, tempat sampah, sekop, barang-barang pembersih, dan berbagai barang yang dapat membantu orang-orang dalam kehidupan mereka sehari-hari,” lanjutnya.

Islamic Relief Canada secara keseluruhan sejauh ini telah mengumpulkan sumbangan keuangan untuk tanggap darurat di situs webnya, dengan $79.240 (Rp1,137 miliar)

Biro Asuransi Kanada memperkirakan kerusakan yang diasuransikan akibat banjir di British Columbia bulan lalu mencapai $450 juta (Rp6,4 triliun), dan menyebutnya sebagai “peristiwa cuaca buruk paling mahal dalam sejarah provinsi.”

Pada puncak keadaan darurat, hampir 15.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. (T/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)