Nadiem Makarim, Menteri Termuda di Kabinet Indonesia Maju

Oleh: Hasanatun Aliyah, Wartawan Kantor Berita Islam MINA

Presiden Indonesia Joko Widodo telah melantik menteri-meneri Kabinet Indonesia Maju  (2012 – 2024) di Istana Negara pada Rabu (23/10/2019).

Nadiem Anwar Makarim merupakan salah satu menteri yang dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud) yang akan mengurusi masalah pendidikan formal dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Nadiem di usianya yang baru 35 tahun dipercaya Jokowi sebagai menteri dalam kabinet Indonesia maju mewakili kalangan milenial, karena usianya yang dibilang termuda dibanding dengan menteri-menteri lainnya.

Nadiem juga menjadi tokoh yang berhasil mencuri perhatian publik karena latar belakangnya sebagai pebisnis,  ia. Nadiem adalah pendiri dan CEO Go-jek yang merupakan usaha rintisan anak bangsa berbasis online, yang kini telah menjadi perusahaan terbesar atau Dekakorn (decacorn) di Indonesia.

Jokowi menunjuk Nadiem sebagai Mendikbud diharapkan membuat terobosan signifikan dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM). Selain itu Nadiem juga mendapat tugas mencetak SDM yang siap memasuki dunia kerja.

Presiden mengaakan: “Kita akan membuat terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM, yang siapkan SDM siap kerja, yang link and match pendidikan ke Industri.

Nadiem menyakinkan dirinya mampu mengemban amanah dari presiden, seperti dinyatakannya usai serah terima jabatan Mendikbud dari Muhadjir Effendy kepada Nadiem Makarim di Kantor Kemendikbud, Gedung A, Lantai 3, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, beberapa jam setelah pelantikan sebagai menteri, Rabu (23/10/2019).

Pria kelahiran Singapura 4 April 1984 ini yakin bahwa semua masalah yang ada saat ini bisa diatasi dengan meningkatkan kualitas generasi. Kemudian untuk mentransformasi suatu negara juga harus melalui pendidikan, yakni tergantung kualitas generasi berikutnya.

“Ini merupakan kehormatan yang luar biasa untuk saya diberi amanah oleh presiden, tapi yang terpenting adalah mengapa saya menerima jabatan yang sangat berat ini? Karena menurut saya cara paling efektif untuk mentransformasi suatu negara itu melalui pendidikan,” ujar Nadiem.

Ia memastikan selama menjabat Mendikbud akan ada perubahan dalam pendidikan Indonesia dengan mengintegrasikan pendidikan dan teknologi.

“Yang pasti berkaitan dengan saya, milenial dan teknologi akan ada perubahan yang terjadi,” katanya kepada wartawan usai Sertijab.

Latar Belakang

Nadiem merupakan anak ketiga dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri. Ayahnya adalah seorang aktivis dan pengacara terkemuka di tanah air yang berketurunan Minang-Arab. Sedangkan ibunya, Atika merupakan penulis lepas, putri dari Hamid Algadri, seorang pejuang perintis kemerdekaan Indonesia katurunan Arab.

Pendidikan

Nadiem menjalani proses pendidikan dasar hingga SLTA berpindah-pindah dari Jakarta ke Singapura. Sehabis menyelesaikan pendidikan SMA-nya di Singapura, pada tahun 2002 ia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan Hubungan Internasional di Brown University, Amerika Serikat. Ia juga sempat mengikuti [ertukaran palajar di London School of Economics. Setelah memperoleh gelar sarjana pada tahun 2006, tiga tahun kemudian ia mengambil pasca-sarjana dan meraih gelar Master of Business Administration di Harvard Bussiness School.

Karier dan Bisnis

Nadiem mendirikan startup (usaha rintisan) Go-Jek pada 2010. Di samping itu ia juga menjadi Co-Founder dan Managing Director Zalora Indonesia pada tahun 2011. Kemudian pada 2012, Nadiem memutuskan keluar dari Zalora untuk mengembangkan Go-Jek, perusahaan rintisannya sendiri. Tahun 2019, dalam kurun 8 tahun kini Go-Jek sudah menjadi salah satu dari 19 decacorn di dunia, dengan valuasi Go-Jek mencapai USD 10 miliar.

Nadiem menikah dengan Franka Franklin pada tahun 2014. Dari pernikahannya, ia mempunyai anak bernama Solara Franklin Makarim.

Nadiem yang dinilai sukses dalam dunia bisnis, kali ini tertantang dalam memajukan pendidikan Indonesia. Apalagi saat ini tugas Kemendikbud tidak hanya pada pendidikan Sekolah Dasar (SD) sampai ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK/sederajat) dan Kebudayaan, kini ditambah dengan kembalinya Pendidikan Tinggi di bawah Kemendikbud.

Sebelumnya Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi berada dalam lingkungan Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud, kini menjadi Kemendikbud). Kemudian dalam kabinet Presiden Jokowi periode pertama 2014-2019 Pendidikan Tinggi digabung dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Namun dalam Kabinet Presiden Jokowi kedua periode 2019-2024 pendidikan tinggi digabungkan kembali dengan Kemendikbud.

Lalu langkah dan trobosan apa yang akan dilakukan Nadiem dalam 5 tahun mendatang dalam Kebudayaan dan Pendidikan Indonesia? Ini menjadi banyak pertanyaan dikalangan masyarakat, terutama pakar, pelaku dan pengamat pendidikan.

Mari kita doakan semoga program-program trobosannya tidak keluar dari asas pendidikan Indonesia, sehingga dapat diterima dan tidak bertentangan, namun juga tercapai dalam menciptakan SDM unggul menuju Indonesia maju melalui pendidikan. (A/R10/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)