Nasihat Bagai Tongkat Saat Kaki Lemah Melangkah

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Wartawan MINA (Mi’raj News Agency)

Hidup adalah perjalanan dari tiada, belum lahir, kemudian ada di dunia ini, lalu tiada lagi alias wafat dan singgah di alam kubur. Hingga ada kembali nan abadi di akhirat kelak.

Akhirat, tempat pembalasan atas segala apa yang telah kita katakan, kita kerjakan, kita lakukan. Amal baik berbalas baik, amal buruk berbalas buruk. Kepada Allah-lah tempat kembali.

Dalam meniti jalan kehidupan menuju ridha ilahi itu, kita sebagai manusia biasa yang penuh dengan segala kedhaifan dan kekurangan, tentu seringkali menemui hambatan, cobaan bahkan godaan dan rayuan. Sehingga kadangkala terpeleset ke dalam jurang kemaksiatan dan terjerembab dalam kubangan dosa dan kemungkaran.

Di sinilah diperlukan apa yang disebut dengan nasihat atau tausiyah. Sebuah nasihat atau tausiyah kehidupan yang berguna bagi setiap orang beriman hingga para pimpinan sekalipun. Sebab, dengan tausiyah itulah jalan bengkok kembali diluruskan, onak dan duri kembali dibersihkan, dan rintangan hambatan kembali dirapikan.

Allah berfirman di dalam Surat Al-Ashr:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Ashr: 1-3).

Pada surat ini dijelaskan bahwa secara umum manusia itu berada dalam kerugian, kecuali yang memiliki empat sifat, yaitu mereka yang beriman, dan beramal sholeh, dan saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Dalam ayat lain Allah berfirman :

ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ

Artinya: “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling menasihati untuk bersabar dan saling menasihati untuk berkasih sayang.” (QS Al-Balad: 17).

Ayat ini menerangkan tentang saling menasihati tentang kesabaran dan saling menasihati tentang saling mengasihi dan menyayangi sesama orang beriman.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan di dalam haditsnya:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ .

Artinya: “Agama adalah nasihat”. Kami (sahabat) bertanya, “Untuk siapa?” Nabi menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpin kaum Muslimin dan umatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bersyukur kita jika kita masih senang menerima nasihat, masih gemar mendengarkan tausiyah, masih suka membaca bacaan tentang mau’idzah hasanah, masih gemar menghadiri majelis ta’lim (dengan protokol kesehatan masa pandemi). Bersyukur juga masih ada pimpinan atau orang yang menasihati kita, membimbing kita, dan mengarahkan kita.

Begitulah, nasihat bagi kita bagaikan tongkat saat kaki kita lemah melangkah untuk pegangan berjalan. Nasihat bak seberkas cahaya saat kita di kegelapan malam. Nasihat seperti air jernih ketika kita begitu kehausan siang. Nasihat bak kendaraan walau terlihat butut, tapi sangat penting ketika kita perlukan saat tak ada alternatif kendaraan lainnya.

Mari saling menasihati dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang karena Allah. Semoga Allah senantiasa memelihara kita selalu di jalan ilahi. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)