Nasir: Dibutuhkan Pemimpin Perguruan Tinggi Kreatif dan Inovatif

Jakarta, MINA – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia saat ini tengah berada pada era revolusi industri 4.0, karena itu diperlukan pemimpin PT kreatif dan inovatif yang mampu mengelola perguruan tinggi dengan cara baru.

“Berinovasi dan berkreasi merupakan sebuah keharusan dalam memimpin perguruan tinggi saat ini, karena cara memimpin dengan cara biasanya (business as usual) sudah tidak relevan dengan dengan zaman,” ucap Menristekdikti saat Upacara Pelantikan Pimpinan Perguruan Tinggi dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi periode 2018-2022  di Senayan, Jakarta, Kamis (20/12).

Ide kreatif dan segar pada Tri Dharma Perguruan Tinggi sangat dibutuhkan dari pimpinan PT, katanya, sehingga pimpinan perguruan tinggi dapat menghasilkan kebijakan inovatif yang dapat meningkatkan mutu perguruan tinggi Indonesia di tingkat dunia dan menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi yang sesuai dengan tuntutan revolusi industri 4.0.

Program studi, kurikulum, kompetensi dosen, kompetensi lulusan, sistem pembelajaran, riset dan kebijakan lainnya harus diselaraskan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat, dunia industri dan perkembangan zaman.

Pada kesempatan yang sama Menristekdikti mengingatkan pimpinan perguruan tinggi, kepala lembaga layanan pendidikan tinggi dan pejabat di lingkungan Kemenristekdikti untuk tidak menyalahgunakan wewenang sebagai pejabat tinggi dan menjauhkan diri dari tindakan yang tidak terpuji.

“Sebagai penjaga moral, lembaga pendidikan tinggi berkewajiban melayani publik dan masyarakat. Jangan menyalahgunakan kekuasan untuk hal-hal tidak baik, apalagi sampai mengatasnamakan nama pejabat, perseorangan, bahkan Menteri di lingkungan Kemenristekdikti,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada pimpinan perguruan tinggi yang baru saja dilantik untuk mengelola perguruan tinggi dengan baik, dengan cara menjalankan “good university governance” yang memiliki 4 instrumen utama, yakni transparansi, ‘awareness’, ‘accountability’, dan ‘responsibility’. Empat instrumen tersebut dapat diterapkan pada perguruan tinggi, lembaga layanan pendidikan tinggi dan satuan kerja utama yang ada di Kemenristekdikti, agar dapat berjalan dengan baik. (R/R10/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)