Beirut, MINA – Gencatan senjata selama 10 hari antara gerakan perlawanan Hezbollah di Lebanon dan Israel resmi diberlakukan, sejak Jumat (17/4).
Al-Madayeen melaporkan, kesepakatan gencatan senjata ini mulai berlaku per hari ini, menghentikan sementara pertempuran yang selama ini menjadi aktor utama dalam konflik di wilayah perbatasan kedua negara.
Gencatan senjata diumumkan melalui inisiatif diplomatik Amerika Serikat setelah serangkaian upaya untuk meredakan eskalasi yang sebelumnya semakin meluas.
Kesepakatan ini dinilai sebagai langkah penting guna menahan konflik yang berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam krisis yang lebih besar.
Baca Juga: Kota di Prancis Kibarkan Bendera Palestina Tolak RUU Antisemitisme
Meski demikian, situasi di lapangan masih tergolong rapuh. Menjelang pemberlakuan gencatan senjata, kedua pihak dilaporkan masih saling melancarkan serangan.
Hezbollah juga menyatakan akan menyesuaikan sikapnya sesuai perkembangan situasi, sehingga potensi pelanggaran kesepakatan tetap terbuka.
Dalam kerangka kesepakatan tersebut, pemerintah Lebanon didorong untuk mencegah Hezbollah melancarkan serangan ke wilayah Israel. Di sisi lain, Israel tetap menegaskan haknya untuk membela diri, meskipun diminta menahan operasi ofensif selama masa gencatan senjata berlangsung.
Pengamat menilai, kesepakatan ini tidak hanya berdampak pada hubungan kedua negara, tetapi juga berkaitan dengan dinamika konflik yang lebih luas, termasuk ketegangan regional yang melibatkan kekuatan besar.
Baca Juga: Mayoritas Senator Demokrat AS Kini Tolak Pengiriman Senjata ke Israel
Konflik di Lebanon selama ini menjadi salah satu pemicu instabilitas kawasan, termasuk gangguan terhadap keamanan dan ekonomi regional. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: China Kecam Ancaman Sanksi AS terhadap Bank-Banknya atas Iran















Mina Indonesia
Mina Arabic