Natsir Zubaidi: Pahlawan Dinilai dari Prestasi Jasa untuk Bangsa

Jakarta, MINA – Dalam suasana peringati Hari Pahlawan 10 November, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan luar Negeri PP DMI Muhamad Natsir Zubaidi mengatakan, pahlawan itu ditentukan oleh ” prestasi” dan jasanya untuk bangsa, bukan karena prestise (wibawa).

Mohammad Roem, Seorang Founding Fathers pernah menyatakan “Pahlawan itu, bukan ditentukan oleh tempat dimana dia dimakamkan. Tetapi pahlawan itu ditentukan oleh jasa-jasanya kepada bangsa dan negaranya, katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (10/11).

Rakyat Indonesia, katanya pasti mengingat para pahlawan sejak Sultan Agung (Abad ke 16) Pangeran Diponegoro Imam Bonjol, Teuku Umar, Hasanuddin (Abad ke 18) sampai pada Sukarno Hatt, Sultan Syahrir, Agus Salim, Mohammad Roem Jenderal Sudirman, Nasution dan Presiden RI ke-2 Suharto, Kyai Masykur, Kyai Noer Ali dan lainnya.

“Mereka telah berbuat luar biasa untuk bangsa dan negara dalam bidang masing-masing pada zamannya,” ujarnya.

Pada era abad 21 tidak ada halangan seseorang untuk menjadi pahlawan, dengan ciri-ciri atau kriteria, sebagai perintis, pelopor, penggerak dan memiliki prestasi dibidang yang ditekuni bermanfaat bagi kemajuan, kesejahteraan masyarakat dan bangsa.

“Saat ini bisa menjadi pelopor dan berprestasi di bidang yang ditekuni seperti
politik, kenegaraan, pendidikan, pertanian, lingkungan, olahraga, seni dan budaya, sosial, agama, termasuk keamanan dan ketertiban masyarakat,” ujar Natsir.

Diantaranya pahlawan yang dibantai oleh Partai Komunikasi Indonesia (PKI) Jenderal Ahmad Yani, S. Parman, Haryono, dan pahlawan Ampera Arief Rahman Hakiem dan Aris Margono.

“Saat ini kita dapat ikut andil menjadi pahlawan kemanusiaan seperti petugas kesehatan dan relawan kemanusiaan yang selalu siaga terhadap kebencanaan,” kata Natsir. (L/R4/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)