Operasi Provokasi Polisi Israel di Issawiya (Oleh: Aviv Tatarsky, Al-Quds)

Konfrontasi polisi Israel dengan warga lingkungan Issawiyah, Yerusalem Timur, selama pemakaman Mohammad Obeid, 1 Juli 2019. (Foto: Oren Ziv/Activestill.org)

Oleh: Aviv Tatarsky, peneliti di LSM Israel Ir Amim dan aktif dalam kegiatan solidaritas di lingkungan Isswiya, Yerusalem Timur (Al-Quds) yang diselenggarakan oleh organisasi Free Jerusalem

 

Jam 5:30 pagi. Sekitar 10 van polisi besar menderu memasuki lingkungan Issawiya di Yerusalem Timur (Al-Quds). Van berhenti di tempat sentral di lingkungan, yakni di masjid, area komersial, dan persimpangan utama. Lusinan petugas paramiliter polisi menggelar dan memasang posisi di sekitar blok.

Kata “polisi” di sini menyesatkan. Beberapa dari mereka adalah tentara yang tergabung dalam unit Polisi Perbatasan, sementara yang lain adalah pasukan polisi khusus yang dirancang untuk menghentikan kerusuhan dan tindak terorisme. Mereka lebih suka menggambarkan diri mereka sebagai tentara tempur daripada petugas penegak hukum.

Apa yang dilakukan oleh lusinan petugas militer yang sangat militer di lingkungan Yerusalem Timur? Osama Bin Laden mana yang mereka tangkap hari ini?

Mereka berdiri di sana, senapan ditarik siap tembak. Wanita, anak-anak, dan remaja yang berangkat pagi-pagi harus bersentuhan dengan mereka dalam perjalanan ke toko atau ke rumah teman. Mobil-mobil dihentikan secara acak, mereka memeriksa dokumen para pengemudi, menyebabkan kemacetan yang lama.

Kendaraan polisi memblokir persimpangan dalam jangka waktu yang lama. Pengemudi yang pulang dari kantor atau dalam perjalanan menuju pernikahan, benar-benar macet dan tidak bisa pergi ke mana pun.

Hari demi hari seperti itu. Sekitar 20.000 penduduk Issawiya hanya bisa menekan gigi mereka dan mencoba mengabaikan serangan bersenjata yang telah terjadi selama enam pekan terakhir.

Sebagian besar waktu, polisi pendudukan itu menunjukkan pengekangan yang luar biasa. Namun, sebagian waktu lagi, terkadang polisi anti huru hara sendiri sedang mencoba memancing timbulnya kerusuhan.

Para petugas polisi berdiri di jalan selama berjam-jam, setengah takut, setengah bosan. Tidak ada yang benar-benar terjadi, dan mereka tahu betul dari malam sebelumnya bahwa tidak ada yang akan terjadi.

Ketika bentuk pelecehan “lunak” tidak membantu terjadinya keributan, para komandan mereka mulai melakukan kerusuhan. Mereka akan menghentikan seorang pria muda Palestina secara acak sambil secara agresif meneriakinya atau menggeledahnya.

Mereka pun akan mendekati sekelompok remaja yang mengurus bisnisnya sendiri di dekat salah satu toko dan mengancamnya untuk “keluar dari sini atau yang lain.”

Cepat atau lambat provokasi mereka akan berhasil. Mulailah seseorang Palestina berani berbicara kepada mereka, atau sebuah batu dilempar dari suatu tempat yang tidak terlihat.

Pada saat itu, situasinya menjadi “ancaman keamanan” dan polisi paramiliter diizinkan untuk melakukan kekerasan. Tetapi terhadap siapa? Ini masih sebuah lingkungan, tidak ada musuh bersenjata yang terlihat atau seorang perusuh.

Namun protokol menyerukan “membersihkan area” sehingga semua orang menjadi target. Kekerasan fisik, granat kejut, dan semprotan merica digunakan, tidak hanya memengaruhi mereka yang berada di jalan tetapi juga semua yang tetap berada di dalam ruangan.

Semuanya berlangsung sekitar satu jam. Selama waktu itu, warga harus memilih antara membantu kerabat, tetangga, atau teman mereka yang secara sewenang-wenang ditangkap oleh polisi Israel, atau mereka bersembunyi untuk melindungi diri mereka dari menjadi sasaran.

Wanita Palestina di lingkungan Issawiya, Yerusalem Timur, menyaksikan penggerebekan polisi Israel di tempat tinggal mereka, 1 Juli 2019. (Foto: Oren Ziv/Activestill.org)

Para polisi pendudukan melakukan beberapa penangkapan sebelum polisi paramiliter kembali ke van mereka atau berbaris di jalan dan keluar dari lingkungan, dengan senjata yang siap ditembakkan.

Mereka yang ditangkap akan dibebaskan dalam 24 jam, terkadang lebih cepat. Dalam satu kasus, polisi menembak dan membunuh Mohammad Obeid yang berusia 20 tahun, saat penggerebekan di lingkungan itu, menudingnya telah meluncurkan kembang api ke arah mereka dalam satu penggerebekan tersebut. Warga menuduh polisi menggunakan kekuatan berlebihan dan menembak Obeid dari jarak dekat.

Penggerebekan rutin ini telah terjadi sejak 12 Juni. Serangan itu belum pernah terjadi sebelumnya dan kondisi ini tidak pernah saya (Aviv Tatarsky) saksikan selama bertahun-tahun saya bekerja di Yerusalem Timur.

Israel tidak malu dengan hukuman kolektif. Pada tahun 2014 dan 2015, ketika gelombang kekerasan Palestina mengguncang Yerusalem, pihak berwenang Israel menggunakan tindakan kekerasan yang menargetkan ratusan ribu warga Yerusalem Timur yang tidak bersalah.

Terlebih lagi, istilah “hukuman kolektif” mungkin tidak berlaku untuk peristiwa di Issawiya. Saya tidak menemukan laporan kekerasan yang berasal dari Issawiya yang dapat – menurut logika pendudukan – menjadi alasan operasi kekerasan Israel terhadap lingkungan itu.

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang jelas: mengapa ini terjadi?

“Alasan” yang jelas adalah kekerasan terhadap warga Israel di sekitar lingkungan. Apakah di lingkungan French Hill, yang dibangun di atas tanah yang dirampas dari warga Issawiya? Atau jalan raya menuju permukiman Ma’ale Adumim, yang berdekatan dengan lingkungan itu dan memisahkannya dari tanah yang diperlukan untuk pengembangannya (jalan raya juga dibangun di atas tanah yang dirampas dari warga Issawiya).

Memang, juru bicara polisi konon mengatakan kepada wartawan bahwa serangan itu adalah hasil dari kerusuhan besar. “Kami memerangi terorisme sehingga tidak masuk ke Yerusalem Barat,” kata seorang wartawan mengutip pernyataan polisi Israel.

LSM Israel Ir Amim yang berfokus pada isu mengubah Yerusalem menjadi kota yang lebih adil dan berkelanjutan, kemudian mengirim surat kepada kepala distrik Kepolisian Yerusalem, menuntut agar ia menghentikan penggerebekan. Ini adalah respon yang diterima Ir Amim:

“Dalam beberapa pekan terakhir, ratusan kerusuhan dan insiden kekerasan hebat terjadi di Issawiya. Ini menargetkan polisi Israel serta warga sipil Israel yang mengemudi di jalan raya menuju Ma’ale Adumin. Mereka termasuk menembakkan amunisi langsung, melempar bom Molotov, menembakkan kembang api, dan melempar batu, mengakibatkan cedera warga sipil Israel. Polisi Israel akan terus bertindak terhadap teroris.”

Namun, fakta menceritakan kisah yang berbeda. Orang Israel yang terluka oleh amunisi langsung atau bom molotov akan menjadi berita utama di Israel. Tetapi tidak ada laporan seperti itu selama berbulan-bulan sebelum atau sejak penggerebekan polisi dimulai pada bulan Juni.

Memang, terlepas dari enam pekan penggerebekan yang sedang berlangsung, polisi belum menyita satu senjata pun, juga tidak ada warga Issawiya yang ditangkap dan dituduh terlibat dalam kegiatan tersebut. Sangat jarang bahwa Israel – yang berkolaborasi dengan oknum Palestina dalam memata-matai penduduk sipil Palestina – tidak dapat menunjuk ke satu pelaku tunggal kekerasan terhadap warga Israel. (AT/RI-1/RS1)

Sumber: 972 Magazine

Mi’raj News Agency (MINA)