Pasca Banjir Libya: Warga Derna Tuding Pemerintah Lalai

Kondisi kota Derna pasca banjir mematikan di Libya timur pada Senin, 11 September 2023. (Gambar: dok. Sky News)

, MINA – Ratusan pemrotes berunjuk rasa di Derna yang dilanda bencana banjir di pada Senin (18/9). Mereka menuduh pihak berwenang lalai setelah banjir bandang besar menghancurkan kota pesisir tersebut dan menyebabkan ribuan orang tewas.

Para pengunjuk rasa berkumpul di luar masjid agung kota itu dan meneriakkan slogan-slogan menentang parlemen di Libya timur dan pemimpinnya Aguilah Saleh. The New Arab melaporkan.

“Rakyat ingin parlemen jatuh”, “Aguila adalah musuh Tuhan”, “Darah para martir tidak tertumpah dengan sia-sia”, dan “Pencuri dan pengkhianat harus digantung”, teriak mereka.

Sebuah pernyataan yang dibacakan atas nama para pengunjuk rasa, mendesak “penyelidikan cepat dan tindakan hukum terhadap mereka yang bertanggung jawab atas bencana tersebut.”

Baca Juga:  Awawda Lanjutkan Mogok Makan ke 170 Hari Meski Kesehatannya Memburuk

Mereka juga menuntut pendirian kantor di Derna dan dimulainya “rekonstruksi kota, ditambah kompensasi bagi penduduk yang terkena dampak”, dan penyelidikan terhadap dewan kota saat ini dan anggaran sebelumnya.

Beberapa pengunjuk rasa berbaris di sebuah rumah yang dilaporkan milik Wali Kota Derna yang tidak populer, Abdulmonem al-Ghaithi. Rumah tersebut dibakar, menurut gambar yang dibagikan di jejaring sosial dan media Libya.

Televisi Al-Masar melaporkan bahwa kepala pemerintahan yang berbasis di wilayah timur, Oussama Hamad, telah membubarkan Dewan Derna dan memerintahkan penyelidikan terhadap dewan tersebut.

Politisi dan pengamat mengatakan, kekacauan di Libya sejak jatuhnya Muammar Gaddafi pada tahun 2011 dan pembunuhannya telah mengesampingkan pemeliharaan infrastruktur penting.

Baca Juga:  PBB: Korban Meninggal Banjir di Libya Tembus 11.300 Orang

Pada tanggal 10 September, dua bendungan yang dilaporkan mengalami keretakan sejak tahun 1998 jebol setelah Badai Daniel melanda Libya bagian timur, menimbulkan arus deras yang dahsyat dan mematikan yang melanda kota berpenduduk 100.000 orang tersebut.

Bencana ini menewaskan lebih dari 11.300 orang menurut data PBB dan menyebabkan ribuan lainnya hilang.

Puluhan ribu warga yang mengalami trauma menjadi tunawisma dan sangat membutuhkan air bersih, makanan, dan persediaan dasar di tengah meningkatnya risiko kolera, diare, dehidrasi, dan kekurangan gizi, demikian peringatan badan-badan PBB. (T/RI-1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)