PBB: Sedikitnya 2 Juta Anak di Kongo Berisiko Kelaparan

CDN.Vanguardn

Jenewa, MINA – Lebih dari dua juta anak di Republik Demokratik Kongo (DRC) berisiko kelaparan jika mereka tidak menerima bantuan yang mereka butuhkan, PBB memperingatkan.

Komentar tersebut muncul menjelang pertemuan antara Mark Lowcock, kepala kemanusiaan PBB, dengan donor potensial yang bersedia memberikan uang bantuan untuk membantu negara tersebut dalam situasi mengerikan.

“Kita memiliki tanggung jawab yang besar di DRC. Sekarang waktunya untuk terus memantau masalah ini,” kata Jens Laerke, juru bicara PBB, dalam sebuah briefing di Jenewa, Swiss.

Kekerasan antaretnik dan protes terhadap Presiden Joseph Kabila adalah alasan utama terjadinya gejolak di negara Afrika Tengah itu.

Akhir pekan lalu setidaknya ada 79 orang tewas saat pertempuran terjadi antara penggembala Hema dan petani Lendu di provinsi utara Ituri.

Perselisihan etnis antara Hema dan Lendu dimulai pada 1970-an. Masyarakat terlibat dalam konflik bersenjata dan kekerasan antara 1998 dan 2003, yang mengakibatkan puluhan ribu orang terbunuh.

Dalam beberapa tahun terakhir, kedua kelompok masih terlibat konflik skala rendah, dengan kekerasan yang kadang-kadang terjadi dalam kekerasan.

Akibat konflik tersebut, petani tidak dapat menanam tanaman selama beberapa tahun, menyebabkan tingginya tingkat kekurangan gizi.

Provinsi lain juga mengalami kekerasan, terutama Kasai dan Tanganyika, tempat ratusan ribu orang berisiko.

Di Tanganyika dan daerah sekitar Haut Katanga, lebih dari 12.000 laporan pelanggaran hak asasi manusia tercatat pada 2017, menurut PBB.

Kekerasan etnis antara kelompok etnis Bantu dan Twa telah meningkat sejak pertengahan 2016.

Komite Penyelamatan Internasional (IRC) mengatakan lebih dari 400 desa hancur antara Juli 2016 dan Maret 2017 sebagai akibat dari konflik tersebut.

DRC juga mengalami peningkatan demonstrasi menentang Presiden Joseph Kabila, yang telah memimpin negara ini sejak 2001.

Masa jabatannya berakhir pada 2016, tapi pemilihan umum belum ada tanda-tanda akan berlangsung sampai akhir tahun ini.

Tuntutan agar Kabila mundur dari jabatannya telah mengakibatkan bentrokan kekerasan antara pemrotes dan pasukan keamanan.

Tahun lalu, konflik memaksa 1,7 juta orang menyeberangi DRC, meninggalkan rumah mereka untuk menyelamatkan diri.

Pada bulan Oktober 2017, UNHCR mengatakan ada 3,9 juta pengungsi internal di negara ini, dan lebih dari 600.000 pengungsi dari DRC tersebar di 11 negara Afrika. (T/R11/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)