Pelestarian Bahasa dan Sastra Masih Jadi Tantangan

Jakarta, MINA – Tantangan pelestarian bahasa dan sastra serta kepunahan bahasa daerah masih menjadi tantangan yang signifikan, dalam meningkatkan kontribusi keanekaragaman bahasa dan multilingualisme untuk pembangunan yang berkelanjutan di bidang pendidikan.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Dadang Sunendar pada peringatan Hari Bahasa Ibu Tahun 2019, di Jakarta, Kamis (21/2).

Acara itu digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

“Perhelatan ini bertujuan untuk pemantik ingatan akan kekayaan khazanah bahasa daerah di Indonesia yang sangat bervariasi, dari Sabang sampai Merauke, dan dari Miangas hingga Rote,” ujar Dadang.

Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) keanekaragaman bahasa dan multilingualisme dapat menjadi bagian integral untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, yaitu mendorong pendidikan berkualitas dan merata, dan pendidikan sepanjang hayat.

“Ditargetkan, penggunaan bahasa daerah dan pendidikan multilingualisme dapat mendorong pemerataan pendidikan yang berkualitas untuk pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.

Lebih lanjut Dadang mengatakan, data UNESCO m keanekaragaman bahasa semakin terancam karena semakin banyak bahasa yang hilang. Setiap dua pekan rata-rata satu bahasa hilang. Hal itu setara dengan hilangnya warisan budaya dan intelektual bangsa itu sendiri.

Secara rinci, data Badan Bahasa Kemendikbud per 28 Oktober 2018 mencatatkan sudah terdapat 668 bahasa daerah di Indonesia yang telah dipetakan dan diidentifikasi, baru 74 bahasa yang telah vitalitas atau daya hidupnya (berdasarkan kajian vitalitas bahasa pada 2011-2017). Kemudian, terdapat 11 bahasa yang dikategorikan punah.

Pemetaan ini belum termasuk ragam dialek dan sub-dialek bahasa daerah di Indonesia. Ke depan, Badan Bahasa akan mengidentifikasi bahasa daerah di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat untuk penuntasan pemetaan bahasa daerah di Indonesia.

“Jumlah hasil pemetaan tersebut tentunya akan bertambah, seiring bertambahnya jumlah daerah pengamatan dalam pemetaan berikutnya,” ungkap Dadang.

Hasil Pemetaan Bahasa tersebut, dapat dilihat pada laman Badan Bahasa, yaitu lamanbadanbahasa.kemdikbud.go.id/petabahasa. (R/R10/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)