Pembangkit Listrik dengan Tenaga Sampah (PLTSa) Diresmikan

Kota Bekasi, MINA – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Pandjaitan dan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih Bantargebang.

Dalam sehari, DKI Jakarta memproduksi 8.000 ton sampah, sedangkan Kota Bekasi mencapai 1.800 ton. Menteri Nasir berharap PLTSa dapat menjadi solusi pengelolaan sampah nasional di kota- kota besar Indonesia baik di DKI Jakarta maupun di Kota Bekasi.

“DKI Jakarta setiap hari produksi sampah 8.000 ton dan Bekasi produksi 1.800 ton. Jadi total ada sekitar 10 ribu ton sampah per hari. PLTSa Merah Putih Bantargebang ini merupakan ‘pilot project’ sehingga baru mampu mengolah100 ton/hari, kita dorong BPPT untuk menghasilkan teknologi yang mampu mengolah 2.000 hingga 5.000 ton per hari,” kata menteri Nasir di Bantargebang, Bekasi, Senin (25/3).

Menteri Nasir mengajak semua pihak untuk merubah paradigma agar tidak hanya menjadikan sampah sebagai sumber masalah yang harus dibuang, namun menjadikan sampah sebagai sebuah komoditi. Sampah yang dikelola dengan baik akan menghasilkan nilai tambah, seperti listrik yang akan dihasilkan oleh PLTSa Merah Putih.

“Sampah dianggap menjadi komoditi. Tahun 2021 jika pengelolaan sampah tidak dilakukan dengan serius dan sistematis, beberapa kota di Indonesia akan mengalami situasi darurat sampah. Oleh karena itu perlu ada teknologi pengelolaan sampah agar Indonesia bersih dari sampah,” ujar Nasir.

Menteri Nasir menambahkan, kehadiran PLTSa Merah Putih Bantargebang diharapkan juga dapat menjadikan DKI Jakarta dan Bekasi bersih dari sampah. PLTSa ini merupakan program rintisan yang kemudian dapat dikembangkan untuk pengelolaan sampah baik di kota maupun dapat dikembangkan skala lebih kecil untuk pedesaan.

Menko Maritim, Luhut Pandjaitan menyambut baik keberadaan PLTSa Bantargebang. Luhut mengatakan, saat ini Indonesia sedang darurat sampah, kehadiran PLTSa ini adalah langkah pemerintah untuk mengatasi masalah sampah yang saat ini telah menjadi masalah nasional.

Luhut juga berharap BPPT dapat membangun PLTSa dengan kapasitas pengelolaan sampah yang lebih besar, yakni 1.500 ton sampah per hari.

“Saya tanya ke kepala BPPT, bisa nggak bikin 1.500 ton per hari, bisa nggak Pak? Kalau bisa buatan dalam negeri ya nggak apa-apa didukung. Kita kan bisa dalam negeri, ngapain mesti impor? Yang model 150 (ton sampah per hari) itu bisa di kampung-kampung di Labuan Bajo, atau di kampung saya.” ujar Luhut.

Pengelolaan sampah, lanjut Luhut, tidak hanya dapat fokus pada faktor teknologi saja, namun sisi budaya juga harus diperhatikan. Ia berharap agar budaya hidup bersih harus ditumbuhkan mulai dari level keluarga. Dengan demikian dapat menghasilkan masyarakat yang cinta akan kebersihan dan sadar akan pengelolaan sampah yang baik.

“Semua aturan sudah ada tinggal mengintegrasi aturan ini supaya jalan. Bayangkan kita udah pakai MRT, tapi ada sampah,” utur Luhut.

Sementara Kepala BPPT, Hammam Riza mengungkapkan, pilot project PLTSa Merah putih ini dibangun dengan kapasitas pengolahan sampah mencapai 100 ton per hari dan akan menghasilkan listrik sebagai bonus sebanyak 700 kilowatt hour.

Pembangunan PLTSa berlangsung dalam waktu cepat yakni satu tahun, dan merupakan PLTSa pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi termal yang sudah proven.

“Pilot Project ini merupakan hasil kajian desain Tim BPPT, saat ini plant masih dalam kondisi commissioning yang tentunya masih ada beberapa komponen atau proses yang perlu disempurnakan untuk PLTSa ini berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Untuk mempersiapkan implementasi teknologi PLTSa skala besar dan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang PLTSa yang dapat menyelesaikan sampah secara cepat, signifikan serta ramah lingkungan, BPPT bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta dalam membangun Pilot Project PLTSa Merah-Putih di lokasi TPST Bantargebang ini, melalui MoU yang telah ditandatangani oleh Kepala BPPT dan Gubernur DKI Jakarta pada 20 Desember 2017 lalu.

Turut hadir pada acara tersebut Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany; Walikota Bekasi, Rachmat Effendi; Dirjen Pengolahan Sampah dan B3 Kementrian Lingkungan Hidup, Rosa Vivien Ratnawati; Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Setda DKI, Yusmada Faisal; serta tamu undangan lainnya. (R/R09/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)