Kuala Simpang, MINA – Pembina Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) KH. Drs. Yakhsyallah Mansur, MA, Rabu (31/12) mengunjungi Pos relawan di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Kunjungan tersebut sekaligus memberi semangat untuk mereka yang sedang mengabdi membantu warga terdampak banjir di kawasan itu.
Sebelumnya, Imaam Yakhsyallah Mansur, tiba di Pondok Pesantren Al-Fatah, Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, yang juga berdiri pos relawan UAR yang bertugas membantu warga Sumut. Dalam kesempatan itu, ia juga memberikan nasihat dan semangat untuk relawan dan warga tedampak banjir di Tanjung Pura.
Dalam pertemuan tersebut, Imaam Yakhsyallah Mansur menyampaikan apresiasi dan motivasi kepada para relawan UAR yang telah bekerja siang malam membantu korban terdampak, baik dalam penanganan darurat maupun penguatan solidaritas sosial.
Dalam tausiyahnya di hadapan warga di Pondok Pesantren Al-Fatah, Tanjung Pura, Ia mengajak jamaah menumbuhkan empati dan rasa cinta sesama saudara, khususnya terhadap mereka yang tengah diuji dengan musibah. Menurutnya, rasa ikut merasakan penderitaan orang lain merupakan bagian dari ukhuwah dan tanda hidupnya nurani keimanan.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Imam menjelaskan makna musibah, baik secara bahasa maupun istilah. Secara bahasa, musibah berarti sesuatu yang “mengenai dengan tepat”, sedangkan dalam pengertian umum ia dimaknai sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia. Namun, dalam perspektif iman, musibah tidak semata-mata bermakna penderitaan, melainkan memiliki hikmah dan tujuan ilahiah.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Imaam Yakhsyallah mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 155–157, yang menjelaskan bahwa manusia akan diuji dengan berbagai bentuk cobaan, antara lain: rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, serta berkurangnya hasil atau buah-buahan.
Ujian-ujian tersebut, lanjut Imam, merupakan sunnatullah dalam kehidupan manusia. Lebih jauh, Imam menguraikan bahwa musibah dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk utama. Pertama, bala atau musibah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang dicintai, sebagai sarana peningkatan derajat dan pemurnian iman.
Kedua, musibah sebagai tadzkirah atau peringatan dari Allah, agar manusia melakukan introspeksi dan memperbaiki diri, yang juga merupakan tanda kasih sayang-Nya. Ketiga, musibah berupa azab, yang ditimpakan kepada orang-orang yang telah diberi peringatan namun enggan bertobat dan kembali kepada jalan Allah.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Dalam menghadapi musibah, Imam menekankan adanya tuntunan syariat yang harus dipegang oleh kaum beriman. Di antaranya adalah memberikan penguatan dan penghiburan (takziyah) kepada yang tertimpa musibah, mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” sebagai bentuk pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dan akan kembali kepada Allah, serta memanjatkan doa agar Allah mengganti musibah tersebut dengan kebaikan yang lebih baik:“Allahumma’jurni fi mushibati wakhluf li khairan minha.”
UAR merupakan organisasi yang bergerak dalam respons cepat terhadap bencana dan krisis, menggabungkan unsur rescue, logistik, serta layanan dukungan psikososial di daerah terdampak. Organisasi ini kerap melibatkan relawan dari berbagai wilayah untuk memperluas jangkauan bantuan dan respon terhadap kebutuhan masyarakat di lapangan.
Kunjungan Pembina UAR tersebut mempertegas komitmen bersama antara tokoh agama dan relawan kemanusiaan dalam menghadapi situasi krisis, dengan menekankan pentingnya solidaritas, empati, dan keteguhan dalam menjalankan misi sosial di tengah tantangan yang ada. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
















Mina Indonesia
Mina Arabic