Pentingnya Merasa Cukup Bagi Amil (Oleh: Nana Sudiana)*

  • Nana Sudiana adalah Sekjen. FOZ dan Direksi IZI

Bukan seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa banyak yang kita nikmati, yang membuat kebahagiaan.” Charles Spurgeon.

Di moment Maulid Nabi ini sudah sepantasnya kita kembali memaknai ajaran dan perilaku Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam bagi kehidupan kita, termasuk bagi amil zakat yang semangatnya sejak awal ingin terus “nunut Kanjeng Nabi” (meneladani Nabi).

Kita semua tahu, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah  sosok manusia sempurna. Beliau adalah pemimpin umat sekaligus penguasa jazirah Arab. Saat yang sama, keistimewaan Rosul ini juga adalah bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjamin surganya untuknya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dengan status yang sedemikian tinggi dan terhormat, tentu saja bila beliau menghendaki dan berkeinginan untuk meraih atau memperoleh sesuatu, tentu tak sulit untuk dikabulkan, baik oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala maupun oleh umatnya.

Namun justru Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam mengajarkan kesederhanaan hidup pada umatnya. Mengajarkan untuk tak berlebihan dalam menikmati dan mengelola kehidupan sehari-harinya.

Dalam tulisan sederhana ini, kita ingin memberikan gambaran bagaimana para amil secara ideal bisa hidup sederhana dan merasa cukup dalam menjalani hari-harinya sebagai seorang amil.

Bagaimana Agar Hati Merasa Cukup

Soal hidup sederhana memang tak datang tiba-tiba. Ia harus berangkat dari tumbuhnya rasa syukur yang ada dalam hati seseorang. Dengan rasa syukur yang baik, ia akan berpengaruh pada hadirnya perasaan pentingnya merasa cukup dan hidup sederhana.

Hidup sederhana sejatinya merupakan bagian langsung dari sikap manusia yang senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan hidup sederhana, kita akan selalu merasa cukup atas segala sesuatu yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selain itu, hidup yang penuh dengan kesederhanaan juga akan membuat kita dan keluarga selalu menggunakan segala sesuatu dengan bijak, seperlunya, dan tidak berlebihan.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikut yang menganjurkan umat-Nya untuk senantiasa bersyukur berikut ini.

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 152).

Masih dalam surat yang sama, yakni Al-Baqarah ayat 172, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.

Umat Islam yang selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini pun akan mendapatkan balasan.

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Ali-Imran [3]: 145).

Dengan kehidupan yang selalu merasa cukup, dengan sendirinya kita tidak suka dengan segala sesuatu yang berlebihan.

Dan kita semua juga tahu bahwa ada istilah “Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik,” bukan? Karena memang Islam menganjurkan umatnya untuk hidup sederhana. Selain itu, manfaat hidup sederhana pun sangatlah banyak dan mengandung kebaikan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang setiap umat-Nya yang suka melampaui batas atau berlebihan. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran berikut:

Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 77).

Jadi, sudah sangat jelas bahwa agama Islam memang tidak suka segala sesuatu yang sifatnya berlebihan, termasuk dalam hal gaya hidup.

Amil dan Perasaan Cukup

Menjadi amil yang serius dan sungguh-sungguh serta profesional, tentu tak mudah. Perlu terus belajar dan menata hati. Memastikan hadirnya keseimbangan diri dan perasaan dalam bekerja dan berkiprah sebagai amil.

Di balik kebutuhan hidup amil yang makin tinggi serta semakin kuatnya arus gaya hidup modern yang dekat dengan gaya hidup penuh hedonisme, menjadi amil tentu saja menjadi semakin tak mudah.

Saat yang sama, pengawasan terhadap proses pekerjaan amil juga semakin ketat. Regulator serta stekholder zakat semakin punya kepentingan kuat untuk mengawal proses pengelolaan zakat ini menjadi semakin efektif, efisien dan tepat sasaran.

Amil di tengah kebutuhan hidupnya yang makin tinggi, ia bukan hanya harus bisa “berdamai” dengan gaya hidup yang sesuai, namun juga ia harus menjadi inisiator bagi tumbuhnya sikap keteladanan dalam keseharian masyarakat, baik bagi muzaki, apalagi bagi mustahik.

Hidup sederhana bagi amil adalah keniscayaan. Dan menjauhi kemewahan dan berlebih-lebihan dalam keseharian tentu sebuah keharusan. Hal ini agar muzaki tidak kecewa terhadap amil karena mereka merasa dikhianati amanahnya. Juga agar mustahik tak marah dan mendoakan keburukan bagi para amil karena amilnya dianggap egois dan hanya mementingkan diri mereka sendiri.

Mari kita selalu berkaca pada kesederhanaan Rosul yang memang nyata. Agar hidup kita tenang dan hati senantiasa terasa lapang.

Ditulis di Ciawi Bogor, 19 Oktober 2021

(A/R8/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)