Oleh Dr. Deni Rahman, S.Sos.I, M.I Kom, Petugas PPIH Arab Saudi 2026, bertugas di sektor 2 Mekkah
PENYELENGGARAAN ibadah haji merupakan salah satu aktivitas keagamaan terbesar di dunia yang melibatkan jutaan manusia dari berbagai negara, latar belakang budaya, dan tingkat pemahaman yang beragam. Dalam kompleksitas tersebut, kelancaran ibadah haji tidak hanya ditentukan oleh aspek fisik dan manajerial, tetapi juga oleh kelancaran arus informasi. Di sinilah peran media menjadi sangat penting sebagai penghubung antara kebijakan, petugas, dan jamaah.
Media dalam konteks haji tidak hanya terbatas pada media massa konvensional. Mencakup juga media digital, platform sosial, hingga sistem informasi yang digunakan oleh penyelenggara. Semua ini berfungsi untuk memastikan bahwa informasi yang dibutuhkan jamaah dapat tersampaikan dengan cepat, tepat, dan akurat.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Dalam perspektif Islam, penyampaian informasi memiliki dimensi etis yang sangat kuat. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (kebenarannya)…” (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menegaskan pentingnya verifikasi informasi (tabayyun). Dalam konteks haji, prinsip ini menjadi sangat relevan, mengingat banyaknya informasi yang beredar di tengah jamaah. Informasi yang tidak akurat dapat menimbulkan kebingungan, bahkan kepanikan, yang pada akhirnya mengganggu kelancaran ibadah.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras terkait penyebaran informasi yang tidak benar. Beliau bersabda:
كَفَىٰ بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Hadits ini menjadi pengingat bahwa tidak semua informasi layak disebarkan. Dalam situasi haji yang penuh dinamika, kehati-hatian dalam menyampaikan informasi menjadi sangat penting.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Dalam praktiknya, media memiliki setidaknya tiga peran utama dalam mendukung kelancaran ibadah haji yakni sebagai sumber informasi, sarana edukasi, dan alat koordinasi.
Pertama, media sebagai sumber informasi. Bahwa Jamaah haji membutuhkan berbagai informasi penting, seperti jadwal keberangkatan, lokasi hotel, rute transportasi, waktu pelaksanaan ibadah, hingga kondisi cuaca. Informasi ini harus disampaikan secara jelas dan mudah dipahami. Ketika informasi tersampaikan dengan baik, jamaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan terarah.
Sebaliknya, ketika informasi tidak tersampaikan atau disampaikan secara tidak tepat, maka potensi terjadinya kesalahan akan semakin besar. Jamaah bisa tersesat, terlambat, atau bahkan kehilangan kesempatan untuk menjalankan ibadah dengan baik.
Kedua, media sebagai sarana edukasi. Ibadah haji memiliki banyak aspek fiqih yang tidak sederhana. Jamaah membutuhkan pemahaman yang cukup agar dapat menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan syariat. Media dapat digunakan untuk menyampaikan edukasi secara berkelanjutan, baik sebelum keberangkatan maupun selama pelaksanaan haji.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Melalui video, artikel, siaran langsung, dan berbagai platform lainnya, jamaah dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang tata cara ibadah, adab di Tanah Suci, serta hal-hal yang perlu dihindari. Edukasi yang baik akan mengurangi kesalahan dan meningkatkan kualitas ibadah.
Ketiga, media sebagai alat koordinasi. Dalam kondisi jutaan jamaah yang bergerak secara bersamaan, koordinasi menjadi kunci utama. Media digunakan untuk menyampaikan instruksi, perubahan jadwal, atau informasi darurat secara cepat. Bahkan dalam situasi tertentu, kecepatan informasi dapat menjadi faktor penentu keselamatan jamaah.
Namun demikian, peran media juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangan terbesar adalah maraknya informasi yang tidak terverifikasi, terutama di media sosial. Tidak jarang, informasi yang tidak jelas sumbernya menyebar dengan cepat dan menimbulkan keresahan di kalangan jamaah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media tidak hanya dapat menjadi solusi, tetapi justru menjadi sumber masalah jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk menggunakan media secara bijak.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Dalam konteks ini, jamaah juga memiliki tanggung jawab untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya. Prinsip tabayyun harus menjadi pedoman dalam menerima dan menyebarkan informasi.
Selain itu, petugas haji juga memiliki peran penting dalam memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada jamaah bersifat akurat dan mudah dipahami. Komunikasi yang jelas dan konsisten akan membantu mengurangi potensi kesalahpahaman.
Peran media dalam haji juga mencerminkan pentingnya komunikasi dalam Islam. Penyampaian pesan yang benar, jelas, dan bertanggung jawab merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim. Dalam kondisi haji, hal ini menjadi semakin penting karena menyangkut kenyamanan dan keselamatan banyak orang.
Media seharusnya tidak hanya digunakan sebagai alat penyebaran informasi, tetapi juga sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Informasi yang disampaikan harus mengandung unsur kejujuran, kejelasan, dan kemaslahatan.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Kelancaran ibadah haji adalah tanggung jawab seluruh pihak yang terlibat, dan media menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung hal tersebut. Ketika media digunakan secara bijak, ia akan menjadi sarana yang memudahkan ibadah. Namun ketika disalahgunakan, ia dapat menjadi sumber gangguan.
Informasi adalah amanah yang harus dijaga. Wallahu a’lam bish showab. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
















Mina Indonesia
Mina Arabic