Protes Antikudeta Myanmar Berlanjut Hari Keenam

Naypyidaw, MINA – Pengunjuk rasa antikudeta pada Kamis (11/2) turun ke jalan-jalan Myanmar selama enam hari berturut-turut, setelah Presiden AS Joe Biden mengumumkan sanksi terhadap jenderal negara Asia Tenggara itu dan menuntutnya melepaskan kekuasaan.

Ada luapan kemarahan dan pembangkangan sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pekan lalu. Suu Kyi ditahan bersama dengan tokoh senior lainnya dari partai Liga Nasional (NLD) untuk Demokrasi yang dipimpinnya, Nahar Net melaporkan.

Pasukan keamanan telah menggunakan gas air mata, meriam air, dan peluru karet untuk melawan para pengunjuk rasa, dengan laporan bahwa peluru tajam juga ditembakkan. Polisi juga meningkatkan gangguannya terhadap NLD dengan penggerebekan di markasnya.

Tetapi para demonstran kembali berbaris dengan damai pada Kamis di Naypyidaw – ibu kota dan benteng militer – serta Yangon, kota terbesar dan pusat komersial, yang menyaksikan puluhan ribu orang membanjiri jalan-jalan.

“Jangan pergi ke kantor,” teriak sekelompok pengunjuk rasa di luar bank sentral Myanmar di Yangon, bagian dari upaya mendesak pegawai negeri dan orang-orang di industri lain untuk memboikot pekerjaan dan menekan junta.

“Kami tidak melakukan ini selama sepekan atau sebulan, kami bertekad untuk melakukan ini sampai akhir ketika (Suu Kyi) dan Presiden U Win Myint dibebaskan,” kata seorang pegawai bank yang memprotes.

Ikut dalam protes itu puluhan dari kelompok minoritas etnis Karen, Rakhine dan Kachin, berbaris di persimpangan utama Myaynigone Yangon.

“Kelompok etnis bersenjata dan etnis kami harus bergabung bersama untuk melawan kediktatoran militer,” kata Saw Z Net, seorang pengunjuk rasa dan insinyur dari etnis Karen.

Ada lebih dari 130 kelompok etnis minoritas di seluruh Myanmar, beberapa di antaranya terpaksa meninggalkan rumah mereka karena bentrokan antara militer dan kelompok etnis bersenjata, yang menuntut otonomi di berbagai negara bagian.

Demonstrasi baru juga muncul di kota Dawei dan Mandalay, dengan pengunjuk rasa membawa tanda-tanda yang bertuliskan “Pulihkan Demokrasi kita!” dan “Kami mengutuk kudeta militer”. (T/RI-1/RS2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)