Radio Rohingya

Pada September 2017, ratusan ribu pengungsi Muslim Rohingya menyelamatkan diri dari Myanmar, tempat militer melancarkan serangan brutal terhadap mereka.

PBB menggambarkannya sebagai “contoh buku teks tentang pembersihan etnis”.

Di antara mereka yang menyelamatkan diri dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, ke negara tetangga Bangladesh adalah Mohammed Yusuf, istri, orang tua, dan adik laki-lakinya yang berumur 23 tahun.

Mantan guru dan keluarganya itu menetap di sebuah rumah sementara di kamp pengungsi Kutupalong-Balukhali yang luas di Cox’s Bazaar. Di sana, ia dengan cepat menemukan bahwa di antara banyak hal yang dirampas dari para pengungsi, ada satu yang menonjol, yaitu informasi.

Ketiadaan informasi dapat menuntut beban praktis dan psikologis yang berat terhadap para pengungsi. Mereka memiliki akses terbatas kepada jaringan telepon dan tidak dapat memahami radio lokal Bangladesh.

“Ke mana pun saya pergi di kamp, ​​semua orang menunggu dan mencari berita,” Yusuf menjelaskan.

Konsekuensinya, mereka kurang mendapat informasi tentang kapan bantuan akan tiba atau bagaimana melindungi tenda-tenda tipis mereka dari hujan monsun. Termasuk sulitnya menemukan orang-orang yang mereka cintai setelah berpisah saat melarikan diri.

“Orang-orangku butuh informasi,” kata Yusuf. “Berita bukan hanya tentang kamp, tetapi juga orang-orang yang kami tinggalkan di Myanmar.”

Masalah muncul karena informasi yang tepat tidak mencapai tempat yang tepat.

Namun, Yusuf punya rencana.

Muhammad Yusuf membangun stasiun radionya di kamp pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh. (Foto: Al Jazeera)

Dia ingin membangun stasiun radionya sendiri yang akan melaporkan berita dan memberikan informasi kepada para pengungsi.

Ini adalah usaha besar bagi seseorang dengan sumber daya yang begitu sedikit dan begitu banyak rintangan untuk dinavigasi.

Yusuf sangat sadar bahwa menyampaikan berita memiliki tanggung jawab besar ketika begitu banyak orang yang bergantung padanya.

Mimpi itu tidak hanya berbicara tentang penderitaan praktis para pengungsi, tetapi juga kebutuhan mereka untuk berbagi cerita, didengar, dan terhubung dengan dunia di luar kamp.

Namun, bisakah Yusuf mengatasi kekacauan birokrasi, hujan angin dan trauma perjuangan keluarganya sendiri dalam bertahan hidup untuk mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan?

Ketika para pengungsi Muslim Rohingya yang tiba di Bangladesh berpikir mencari makanan dan atap untuk bernaung, Yusuf justru terobsesi untuk membangun layanan radio Rohingya pertama di kamp-kamp pengungsi.

Clement Gargoullaud dan Prashun Mazundar dari Al Jazeera memutuskan memfilmkan Yusuf ketika dia mencoba mengubah idenya menjadi kenyataan.

Keduanya mengatakan, menyaksikan kehidupan seorang pengungsi adalah menyaksikan perjuangan di setiap saat.

“Anda tidak akan pernah tidur nyenyak atau cukup, Anda tidak pernah akan makan dengan baik atau cukup,” katanya.

Selama setahun terakhir, keduanya berada di sisi Yusuf, siang dan malam, melalui hujan angin dan panas terik. Di setiap langkah, mereka tercengang oleh kekuatan, tekad, dan semangatnya dalam mengejar mimpinya melawan segala rintangan.

“Kehidupan Mohammed Yusuf telah menjadi salah satu ketahanan, ambisi dan harapan. Pencariannya membawa kita pada perjalanan yang unik dan menegangkan, tidak seperti hal lain yang telah kita lihat pada krisis Rohingya hingga saat ini,” kata keduanya. (AT/RI-1/RS3)

 

Sumber: tulisan Clement Gargoullaud dan Prashun Mazundar di Al Jazeera.

 

Mi’raj News Agency (MINA)