Rajab Bulan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

 

Ali Farkhan Tsani, Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat

Pada umumnya, terutama di Indonesia, bulan Rajab identik dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahui ‘Alaihi Wasallam. Umumnya dikatakan pada tanggal 27 Rajab.

Isra’ Mi’raj diambil dari dua kata, yaitu Isra’ yang berarti “perjalanan malam” dan Mi’raj yang berarti “naik ke langit”.

Perjalanan malam yang dimaksud adalah perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi ke Masjidil Aqsa di Al-Quds (Yerusalem), Palestina. Dari peristiwa Isra’ Mi’raj inilah umat Islam menerima perintah ibadah shalat fardhu lima waktu sehari semalam.

Karena itu, ulama ada yang menyebutkan, shalat bagi orang-orang beriman adalah bagai Mi’rajnya, naik ke langit, ibadah khas kepada Allah.

Kiasan ulama tasawuf menyebutkan:

الصَّلاَةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Shalat itu adalah mi’raj bagi orang-orang yang beriman”.

Mukjizat Isra’ Mi’raj Allah sebut langsung di dalam Surat Al-Isra ayat 1 yang berbunyi:

سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلاً۬ مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُ ۥ لِنُرِيَهُ ۥ مِنۡ ءَايَـٰتِنَآ‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isra [17]  : 1). 

Isra’ Mi’raj terjadi ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berada dalam situasi tekanan, hinaan dan persekusi yang kuat dari kelompok musyrikin Mekkah, terutama dari Abu Jahal, Abu Lahab, dan sekutunya.

Sementara ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam baru saja ditinggal wafat isterinya tercinta Khadijah Al-Kubra, pendamping sejati, pembela dan pendukung utama perjuangan dakwahnya.

Pada saat beriringan, beliau juga baru saja berduka karena meninggalnya Abu Thalib pamannya yang selama ini turut menjadi tameng pembelanya. Itulah tahun duka cita atau disebut dengan ‘amul hazn’.

Oleh karena itu, hikmah Isra Mi’raj yang utama adalah sebagai hiburan (tasliyah) dari Allah untuk Rasulullah Ahallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Begitulah, hiburan sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, baik di bumi maupun di langit.

Sebagai hiburan pula, pada malam Isra’ Mi’raj itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memimpin para Nabi dan Rasul. Saat tiba di kompleks Masjid Al-Aqsha, Nabi shalat dua rakaat mengimami ruh para Nabi, sebelum naik Mi’raj ke langit.

Menjadi imam shalat merupakan penanda bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah pemimpin dan penghulu para Nabi dan Rasul utusan Allah. Walllahu a’lam bish shawab. (A/RS2/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)