Ramadhan yang sebenarnya….. (Oleh: Rifa Berliana Arifin)

Tak terasa, dalam hitungan hari ke depan kita akan berjumpa untuk kesekian kalinya dalam hidup ini, dengan kekasih cinta bulan Ramadhan karim.

Covid-19, meski ia membawa banyak masalah dan ujian bagi kita, akan tetapi seorang Muslim yang Allah Subhanahu wataalla karuniai bashirah, tentu akhirnya bisa melihat hikmah yang tersirat di balik ujian itu. Bagaimana ia bisa menghayati Ramadhan yang sebenarnya.

Ramadhan kali ini tidak akan tersibukkan dengan aktifitas menyiapkan segala jenis hidangan buka puasa, tidak ada momen ngabuburit, tidak akan dipusingkan dengan banyaknya menu makanan.

Tidak ada kumpul-kumpul malam, tidak ada sahur keliling, semua mempersiapkan kebutuhannya di rumahnya masing-masing.

Bulan Syawal nanti tidak akan bersibuk dengan macam dan model jenis pakaian. Karena tak pulang kampung.

Ramadhan kali ini seyogyanya adalah waktu untuk self-reflection, dan self-reflection akan berkesan apabila kita lakukan dengan menyendiri sendiri solitude.

Nabiyullah Yunus alaihissalam, bertaubat kepada Allah Subhanahu wataalla saat dirinya terpenjara di dalam perut ikan paus selama 40 hari lamanya.

Rasulullah Shallahu alaihi wassalam menerima wahyu pertama saat dirinya bertafakur menyendiri di gua Hira.

Maka sebenarnya, kita akan lebih mudah untuk menyadari dosa kita dan reconnect dengan Sang Pencipta saat kita menyendiri, terbebas dari gangguan dunia luar, termasuk orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Oleh karenanya, apabila kita kembali menyisir dan menghayati sirah nabawiyah, kisah Rosullullah shallahu alaihi wassalam bersama para sahabatnya, apabila telah datang bulan Ramadhan, mereka mengasingkan diri beruzlah. Yang berarti setiap waktu dalam bulan suci ini akan diisi penuh oleh amalan-amalan ibadah. Karena fokus bulan Ramadhan adalah memperbaiki rohani jiwa, bukan melayani nafsu badan.

Tidak semua kita bisa melakukan apa yang Nabi dan para sahabatnya perbuat selama Ramadhan, akan tetapi seharusnya kita menyadari bahwa kita telah banyak lupa akan makna Ramdhan itu sendiri.

Pasar Ramadhan yang selalu menjadi destinasi favorit untuk menyiapkan iftar, bahkan terkadang makanan yang tidak perlu akhirnya terbeli, rela berdesak-desakan, di saat yang lain berebut pahala, ini malah menguras pahala.

Setelah membeli makanan untuk iftar, duduklah seisi keluarga, sahabat, teman menunggu masuknya waktu Maghrib. Berapa banyak orang di waktu ini sempat membaca Al-Quran atau berzikir? Atau semata-mata hanya sekedar menunggu membuka bungkusan makanan?

Berbuka puasa, semua makanan yang begitu banyak jenisnya tersajikan tapi apa daya perut tak bisa menampungnya, itupun sudah sesak, akhirnya Isya dan Tarawih lewat.

Padahal Ramadhan adalah waktu untuk berdisiplin, mengurangi asupan makanan yang berlebih, melatih diri dengan asupan spiritual, akan tetapi para kapitalis berhasil membuat kita menjadi lalai bahkan lebih rakus dari bulan-bulan biasanya.

Masuk shalat tarawih, mencari masjid yang besar dan megah alih-alih karena imam shalat tarawihnya terkenal, meski jauh ia tempuh, padahal beberapa langkah dari rumahnya ada masjid, ia lewati.

Yang paling menyedihkan adalah di hari-hari terakhir Ramadhan, Ramadhan sudah tak berwujud, orang sudah disibukan untuk mempersiapkan pulang kampung. Rinciannya ; belanja baju baru. Belanja kue dan makanan. Tukar uang untuk angpauw, habiskan waktu di malam hari dengan jalan-jalan sampai pagi. Sepuluh malam terakhir yang harusnya digunakan untuk I’tikaf  akhirnya kandas akibat hal-hal materealistik.

Maka, jadikanlah momen Pembatasan Sosial Berksala Besar (PSBB) di bulan Ramdhan untuk kembali ke Ramadhan yang sebenarnya, karena tidak ada waktu yang paling mendukung untuk mengamalkan cara hidup sunnah dan ibadah selain di bulan Ramadhan. Makan secukupnya, shalat on time, tidur di awal waktu, begitu juga bangun lebih awal, giat dan selalu membaca Al-Quran dan berzikir hingga menjelang adzan Maghrib.

Sekali lagi, bisa jadi Allah Subhanahu wataalla jadikan Covid-19 adalah sarana untuk kita mengatur ulang manusia ke setelan yang sebenarnya. Juga mengingatkan kita tentang kemanusiaan, mengembalikan manusia kepada fitrahnya.

Wallahu a’lam bishawab

(A/RA-1/P1)

Miraj News Agency (MINA)