Relawan RSI Gaza Ceritakan Pengalamannya kepada Komunitas Pemuda Arimatea

Bogor, MINA – Relawan Pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza, Palestina, Muqorrobin Al-Ayubi menceritakan pengalamannya selama berada di Gaza kepada para pemuda yang tergabung dalam Komunitas Arimatea, di Bogor, Selasa (1/12).

Pembangunan RS Indonesia di Gaza diinisiasi oleh MER-C (Medical Emergency Resque Committee) dan dilaksanakan oleh sukarelawan dari Pondok Pesantren Al-Fatah seluruh Indonesia.

Muqorrobin berada di Gaza selama 18 bulan lamanya, mengerjakan pembangunan tahap 2 Rumah Sakit Indonesia. Ia menyaksikan bukti keberanian dan perlawanan warga Palestina terhadap Zionis Israel, walaupun dengan sebuah batu.

“Kita ketahui tentara Israel memiliki persenjataan yang lengkap, akan tetapi dengan gagah berani warga Palestina melakukan perlawanan kepada Israel demi mempertahankan tanah kelahirannya,” kata Ayub.

Ia menjelaskan, tentara Israel menembak warga Palestina di bagian lutut dalam sebuah aksi demonstrasi. Jika pelurunya mengenai anggota badan, maka itu dapat  menghancurkan seluruh persediaannya.

Alhamdulillah, dengan adanya Rumah Sakit Indonesia di Gaza, itu sangat membantu warga Palestina, bahkan dalam sehari pasien sedikitnya 200 orang,” ucapnya.

Muqorrobin yang saat ini tinggal di pondok pesantren Al-Fatah, Cileungsi, mengatakan, warga Palestina sangat bersyukur dengan adanya RSI. “Ini rumah sakit yang membanggakan bagi kami,” kata penduduk Gaza kepadanya.

Selanjutnya, Muqorrobin mengatakan, warga Palestina sangat berharap dukungan kepada warga Indonesia untuk kebebasan Masjid Al-Aqsa.

Sebagai bentuk bantuan warga Indonesia untuk warga Palestina,  Ikhwan kita di Gaza dari Al-Fatah sudah menanam 5700 pohon zaitun.

Pohon zaitun di luar gaza dihabiskan, ditebang, diracun oleh pemukim ilegal Israel, bahkan mereka tidak mau Palestina mendapatkan hasil panen zaitun.

Itu adalah bentuk kepedulian kita terhadap warga Palestina dengan menanam pohon zaitun dengan target minimal sebanyak 5.000 pohon.

“Terus berdoa untuk warga Palestina dan umat Islam lain yang tertindas, oleh karena itu jangan meninggalkan Al-Quran, Shalat malam, kita harus bersatu walaupun beda suku, sesama Muslim jangan saling menyakiti satu sama lain,” ucap Ayub. (L/R8/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)