Jakarta, MINA — Pemerintah Iran menyampaikan tanggapan atas pemberitaan yang menyebut Indonesia akan menjadi negara pertama yang mengirim pasukan ke Jalur Gaza sebagai bagian dari upaya stabilisasi internasional. Iran menegaskan tidak akan ikut campur dalam keputusan tersebut.
Namun, Teheran secara tegas mempertanyakan kredibilitas Amerika Serikat (AS) sebagai mediator dalam proses tersebut.
Pernyataan itu disampikan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, yang menyatakan bahwa Teheran menghormati kedaulatan dan hak setiap negara untuk membuat kebijakan luar negerinya sendiri, termasuk keputusan Indonesia yang dipandang akan berkontribusi pada keamanan di antara pihak yang terlibat konflik di Gaza.
Dalam peringatan Hari Nasional Iran dan Peringatan ke-47 Kemenangan Revolusi Islam Iran di Jakarta, Selasa (10/2) malam, Boroujerdi juga menyampaikan keraguan kuat terhadap peran Washington dalam inisiatif yang diprakarsai oleh Board of Peace, sebuah forum perdamaian internasional yang dipimpin oleh mantan Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
Ia menilai AS terlalu berpihak pada kepentingan Israel sehingga dinilai tidak dapat menjadi fasilitator yang objektif bagi penyelesaian konflik Palestina–Israel.
Pernyataan Iran tersebut muncul di tengah diskusi global mengenai rencana pembentukan “International Stabilization Force” (ISF) untuk menjaga gencatan senjata dan membantu upaya rekonstruksi di wilayah Gaza.
Indonesia dilaporkan sedang mempersiapkan sekitar 5.000 hingga 8.000 personel TNI untuk berpartisipasi dalam misi tersebut, meski detail seperti jumlah final dan mandat operasional masih dibahas.
Di dalam negeri, isu rencana pengiriman pasukan ini telah menimbulkan perdebatan politik dan akademis tentang implikasi keamanan dan diplomasi Indonesia, termasuk komentar dari sejumlah think-tank yang mengingatkan perlunya kajian matang terhadap keputusan strategis semacam itu.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
Iran sendiri selama ini menjadi salah satu aktor kunci di Timur Tengah yang kerap mengkritik kebijakan AS dan sekutunya terhadap Palestina, sementara Indonesia tetap mempertahankan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara dalam kerangka hukum internasional. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
















Mina Indonesia
Mina Arabic