Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:32 WIB

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:32 WIB

11 Views ㅤ

Pengungsi Yaman. (Sarabic)

Sanaa, MINA – Lebih dari 290.000 warga terpaksa mengungsi sejak awal Agustus akibat kebangkitan konflik di Yaman, kata PBB pada Jumat (30/10).

Pengungsian terbaru ini menambah jumlah dari data sebelumnya 5,2 juta orang yang sudah mengungsi secara internal di Yaman sebelum pertempuran kembali terjadi, serat ribuan lainnya telah melarikan diri menyeberangi Laut Merah ke Djibouti.

Laporan memperingatkan pertempuran tidak menunjukkan tanda-tanda mereda dan ribuan wanita hamil termasuk di antara mereka yang terpaksa mengungsi. Arab News melaporkan.

Dana Populasi PBB memperkirakan hampir 6.100 wanita hamil termasuk di antara yang baru-baru ini mengungsi, termasuk 600 yang diperkirakan akan melahirkan dalam dua pekan ke depan, kata juru bicara PBB Stephane Dujarric.

Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya

Lembaga tersebut telah mengerahkan tim bergerak dan bidan ke lokasi pengungsian serta memberikan bantuan kesehatan ibu hamil.

Kekerasan juga memengaruhi orang-orang yang sebelumnya mengungsi dari negara lain dan mencari perlindungan di Yaman. Lebih dari 65.000 pengungsi dan pencari suaka menghadapi “situasi kemanusiaan yang memburuk dengan cepat,” menurut Badan Pengungsi PBB.

Sejak Agustus, lembaga ini telah membantu lebih dari 600 pengungsi Somalia kembali ke rumah secara sukarela.

Mitra kemanusiaan sejauh ini telah berhasil menjangkau hampir 249.000 orang yang mengungsi dengan bantuan makanan, perlengkapan kebersihan, dan dana darurat, serta telah meningkatkan respons mereka sebisa mungkin, kata Dujarric.

Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa

PBB menegaskan kembali seruannya kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk “melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil, menghormati hukum humaniter internasional, serta memungkinkan akses kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, dan tanpa hambatan, sehingga bantuan dapat menjangkau semua yang membutuhkan.” []

Mi’ra News Agency (MINA)

Baca Juga: Saudi Koordinasi dengan NATO dan Eropa Bahas Perkembangan Kawasan

Rekomendasi untuk Anda