KITA hidup di zaman yang aneh. Stres bukan lagi kondisi darurat, tapi identitas. Orang yang sibuk terlihat lebih “bernilai”, yang lelah dianggap lebih “produktif”, dan yang tenang justru dicurigai: “Kok santai? Memangnya hidupmu tidak punya masalah?” Tanpa sadar, kita sedang membangun peradaban yang memuliakan tekanan dan memiskinkan ketenangan.
Padahal tubuh dan jiwa manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus berada dalam mode siaga. Dalam Islam, manusia adalah makhluk ruhani yang diberi jasad, bukan mesin produksi yang tak kenal henti. Ketika stres dijadikan gaya hidup, sesungguhnya kita sedang melawan fitrah penciptaan kita sendiri.
Secara ilmiah, stres kronis terbukti merusak. Banyak penelitian kesehatan menunjukkan bahwa stres berkepanjangan meningkatkan hormon kortisol secara terus-menerus. Kortisol yang tinggi dalam jangka panjang berkaitan dengan gangguan tidur, penurunan daya tahan tubuh, penyakit jantung, diabetes, gangguan pencernaan, bahkan depresi dan kecemasan. Menariknya, ilmu kedokteran modern baru menyimpulkan apa yang Islam telah lama ajarkan: bahwa ketenangan bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar manusia.
Al-Qur’an menegaskan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” Ayat ini bukan sekadar nasihat spiritual, tetapi juga petunjuk kesehatan jiwa. Penelitian dalam bidang psikologi kesehatan menemukan bahwa praktik spiritual seperti dzikir, doa, dan shalat yang dilakukan dengan khusyuk mampu menurunkan tekanan darah, memperlambat detak jantung, dan menenangkan sistem saraf. Artinya, ibadah bukan hanya menenangkan hati—ia benar-benar menyehatkan tubuh.
Baca Juga: Sehat di Usia Senja: 9 Tips Santai Menjaga Kesehatan Lansia
Namun masalah kita hari ini bukan karena hidup tanpa solusi, melainkan karena hidup tanpa jeda. Kita membawa ponsel ke tempat tidur, membawa pekerjaan ke sajadah, membawa kecemasan ke meja makan. Hati tidak pernah benar-benar pulang. Pikiran selalu berlari ke masa depan yang belum tentu terjadi, atau menyesali masa lalu yang tak bisa diubah. Di titik inilah tenang menjadi barang langka, padahal stres justru berlimpah.
Islam tidak mengajarkan hidup tanpa masalah, tapi mengajarkan cara menyikapi masalah tanpa kehilangan jiwa. Rasulullah SAW adalah manusia dengan beban paling berat—memimpin umat, menghadapi penolakan, ancaman, dan kesedihan—namun beliau dikenal sebagai pribadi yang paling tenang. Ketika tekanan memuncak, beliau tidak melarikan diri ke hiburan yang melalaikan, tetapi berkata, “Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.” Shalat bagi beliau bukan beban tambahan, melainkan ruang pemulihan.
Ilmu saraf modern menyebutkan bahwa aktivitas yang menghadirkan kesadaran penuh (mindfulness) dapat menurunkan aktivitas bagian otak yang memicu kecemasan. Menariknya, shalat yang dilakukan dengan hadirnya hati adalah bentuk mindfulness paling lengkap: ada gerakan, bacaan, pernapasan, fokus, dan penyerahan diri. Islam telah mengajarkan terapi ini lima kali sehari, jauh sebelum dunia mengenal istilah kesehatan mental.
Stres menjadi berbahaya bukan karena masalahnya, tetapi karena kita memikulnya sendirian. Dalam Islam, ketenangan lahir dari tauhid—keyakinan bahwa ada Allah yang mengatur, menggenggam, dan mencukupi. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa orang dengan keyakinan spiritual yang kuat memiliki tingkat resiliensi lebih tinggi dalam menghadapi tekanan hidup. Mereka lebih cepat pulih, lebih stabil secara emosi, dan tidak mudah runtuh oleh keadaan.
Baca Juga: Kasus Influenza di Indonesia Meningkat, Ini Subtipe Dominan dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
Tenang bukan berarti lemah. Tenang adalah tanda jiwa yang terhubung dengan sumber kekuatan. Dunia boleh ribut, target boleh menekan, masalah boleh datang bertubi-tubi, tetapi hati yang punya tempat kembali tidak akan mudah hancur.
Mungkin kita tidak bisa langsung mengubah dunia yang serba cepat ini. Tapi kita bisa memilih: apakah stres akan terus kita pelihara, atau ketenangan yang kita perjuangkan. Islam tidak meminta kita berhenti berjuang, tetapi mengajarkan agar perjuangan tidak menghabisi jiwa.
Karena hidup yang sehat bukan hanya tentang panjangnya usia, tetapi tentang hadirnya hati. Dan di tengah dunia yang menjadikan stres sebagai gaya hidup, menjaga ketenangan adalah bentuk ibadah—dan juga bentuk keberanian.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Dinkes Jabar Catat 65 Kasus Flu Babi Terdeteksi di Bandung, Warga Diminta Waspada
















Mina Indonesia
Mina Arabic