Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kasus Influenza di Indonesia Meningkat, Ini Subtipe Dominan dan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Redaksi Editor : Chamid R - Ahad, 4 Oktober 2026 - 09:13 WIB

Ahad, 4 Oktober 2026 - 09:13 WIB

44 Views ㅤ

Virus influenza. Ilustrasi 3D yang menunjukkan tonjolan glikoprotein pada permukaan virus, yaitu hemaglutinin berwarna ungu dan neuraminidase berwarna oranye. Kredit gambar: Kateryna Kon / Shutterstock.

Jakarta, MINA – Kasus influenza di Indonesia mengalami peningkatan pada akhir September 2026. Meski demikian, peningkatan tersebut belum menunjukkan lonjakan luar biasa dan masih berada dalam pola musiman yang umum terjadi di Indonesia.

Informasi tersebut dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dalam artikel “FAQ Influenza: Informasi, Penanganan, dan Pencegahan” yang dipublikasikan pada 2 Oktober 2026.

Berdasarkan informasi tersebut, peningkatan kasus influenza terpantau pada pekan ke-38 tahun 2026. Dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen positif influenza atau memiliki positivity rate sebesar 56 persen.

Angka tersebut merupakan proporsi spesimen positif dari jumlah spesimen yang diperiksa, bukan berarti 56 persen penduduk Indonesia terkena influenza. Kenaikan kasus juga disebut masih mengikuti pola musiman yang umum terjadi di Indonesia.

Baca Juga: Dinkes Jabar Catat 65 Kasus Flu Babi Terdeteksi di Bandung, Warga Diminta Waspada

Mengapa Kasus Influenza Meningkat?

Kenaikan kasus influenza dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain pergantian musim, meningkatnya mobilitas dan pertemuan banyak orang, serta subtipe virus yang sedang dominan.

Indonesia sebagai negara tropis memungkinkan virus influenza beredar sepanjang tahun dengan periode peningkatan tertentu. Karena itu, peningkatan kasus tidak otomatis berarti terjadi wabah atau kondisi darurat.

Kondisi influenza saat ini juga belum dinilai mengkhawatirkan. Aktivitas influenza di layanan primer melalui surveilans ILI berada pada tingkat sedang, sedangkan aktivitas influenza di rumah sakit melalui surveilans SARI masih rendah.

Influenza A(H1N1)pdm09 Jadi Subtipe Dominan

Laman Kemenkes juga menyebut Influenza A(H1N1)pdm09 menjadi subtipe yang dominan di Indonesia pada pekan ke-38 tahun 2026. Jenis virus tersebut juga disebut sebagai virus yang dominan beredar secara global.

Baca Juga: Rasil dan Komunitas Terapis Al-Fatah Kembali Gelar Baksos Thibbun Nabawi

Sementara itu, istilah “superflu” bukan merupakan istilah resmi dari WHO maupun CDC. Istilah tersebut sering dikaitkan dengan Influenza A subtipe H3N2 subclade K.

Di Indonesia, temuan subclade K hingga pekan ke-38 tahun 2026 tercatat sebanyak 22 kasus. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan 166 temuan pada 2025.

Kenali Gejala Influenza

Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akut akibat virus influenza, umumnya tipe A dan B. Virus dapat menyebar melalui percikan pernapasan ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara.

Gejala influenza yang umum meliputi demam, batuk dan pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, serta kelelahan berat. Sebagian besar penderita dapat sembuh sendiri dalam waktu sekitar satu minggu tanpa perawatan khusus.

Baca Juga: Pakai Masker: Menjaga Amanah Tubuh Titipan Allah

Namun, influenza dapat berkembang menjadi lebih berat dan menyebabkan komplikasi seperti pneumonia pada kelompok rentan. Kelompok tersebut meliputi anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta atau komorbid.

Penanganan Influenza di Rumah

Untuk kasus influenza dengan gejala ringan, Kemenkes menganjurkan penderita cukup beristirahat, memperbanyak minum air putih, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta memantau kondisi tubuh secara berkala.

Obat antivirus seperti oseltamivir tidak diperlukan untuk semua penderita influenza. Penggunaannya ditujukan bagi pasien dengan gejala berat atau kelompok berisiko tinggi berdasarkan penilaian dokter.

Oseltamivir paling efektif apabila diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Namun, antivirus tersebut masih bermanfaat bagi pasien rawat inap atau mereka yang berisiko mengalami komplikasi berat meski diberikan setelah 48 jam.

Baca Juga: Qailulah Tidur Siang Singkat Sunnah Rasulullah yang Kini Ditiru NASA

Antibiotik tidak dapat mengobati influenza karena penyakit tersebut disebabkan oleh virus. Antibiotik hanya digunakan apabila dokter menemukan adanya infeksi bakteri tambahan.

Waspadai Tanda Bahaya

Penderita influenza perlu segera mendapatkan layanan kesehatan apabila mengalami demam tinggi yang tidak turun lebih dari tiga hari, sesak atau napas cepat, nyeri dada, sangat lemas, kejang, sulit dibangunkan, tanda dehidrasi, atau kondisi yang sempat membaik tetapi kembali memburuk.

Untuk mencegah penularan influenza, masyarakat dianjurkan rutin mencuci tangan dengan sabun dan air, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker saat sakit atau berada di keramaian, serta mengurangi kontak dekat dengan orang lain ketika sedang sakit.

Imunisasi influenza tahunan juga dianjurkan untuk membantu menurunkan risiko gejala berat, komplikasi, dan rawat inap. Vaksinasi tidak menjamin seseorang terbebas sepenuhnya dari influenza, tetapi tetap berperan penting dalam mengurangi risiko penyakit berat.

Baca Juga: Tren Morning Routine Sunnah Rasululllah Di Pagi Hari Yang Baru Terungkap

Dalam menghadapi peningkatan influenza, Kemenkes menyebut pemerintah terus memperkuat surveilans dan laboratorium, memastikan kesiapan fasilitas serta tenaga kesehatan, menerbitkan surat edaran kewaspadaan ke daerah dan fasilitas kesehatan, serta melakukan komunikasi risiko secara rutin kepada masyarakat.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Kesehatan adalah Keseimbangan Fisik, Mental dan Spiritual, Resep Ibnu Sina

Rekomendasi untuk Anda