Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sa‘id bin al-Musayyab, Sosok yang Memiliki Keteguhan Ilmu di Generasi Tabi‘in

Redaksi Editor : Arif R - Senin, 9 Februari 2026 - 12:05 WIB

Senin, 9 Februari 2026 - 12:05 WIB

36 Views

Ilustrasi

DI  antara deretan emas generasi tabi‘in, nama Sa‘id bin al-Musayyab berdiri tegak sebagai simbol keteguhan ilmu, ketulusan ibadah, dan keberanian moral.

Ia bukan sekadar ulama besar Madinah, tetapi juga potret manusia yang memilih hidup sederhana di tengah tawaran kekuasaan dan kemewahan dunia. Dalam dirinya, ilmu tidak hanya dihafal, melainkan dihidupi.

Nama lengkapnya adalah Sa‘id bin al-Musayyab bin Hazn bin Abi Wahb al-Makhzumi al-Qurasyi. Kun-yah-nya Abu Muhammad. Ia berasal dari kabilah Quraisy, Bani Makhzum, sebuah nasab terpandang di jazirah Arab. Namun kemuliaan Sa‘id bukan terletak pada garis keturunan, melainkan pada konsistensinya menjaga warisan kenabian melalui ilmu dan akhlak.

Sa‘id bin al-Musayyab dilahirkan pada masa pemerintahan Umar bin al-Khattab, sebuah periode yang dikenal sebagai puncak keadilan dan kesederhanaan dalam sejarah Islam. Ia tumbuh dalam atmosfer Madinah yang masih dipenuhi para sahabat Nabi ﷺ. Sejak kecil, Sa‘id sudah menyerap denyut kehidupan kota ilmu itu, masjid sebagai pusat peradaban, halaqah sebagai ruang pembentukan karakter.

Baca Juga: Anas bin Malik, Pelayan Rasulullah hingga Menjadi Guru dan Sahabat Terakhir yang Wafat

Ayahnya, al-Musayyab bin Hazn, adalah seorang sahabat Nabi. Ibunya, Ummu Sa‘id binti Hakim, dikenal sebagai perempuan salehah yang memberi perhatian besar pada pendidikan spiritual anaknya. Lingkungan keluarga inilah yang membentuk Sa‘id menjadi pribadi yang memadukan kecerdasan intelektual dan kedalaman ruhani.

Murid Para Sahabat, Guru Para Ulama

Keistimewaan Sa‘id bin al-Musayyab terletak pada kedekatannya dengan banyak sahabat besar. Ia meriwayatkan ilmu dari Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Aisyah ra., Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, dan sahabat-sahabat utama lainnya. Bahkan disebutkan, Sa‘id adalah menantu Abu Hurairah, sebuah ikatan yang semakin menguatkan transmisinya dalam bidang hadis.

Dalam literatur hadis, Sa‘id dikenal sebagai tsiqah (sangat terpercaya). Imam az-Zuhri berkata, “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih alim tentang sunnah Umar selain Sa‘id bin al-Musayyib.” Pernyataan ini menunjukkan posisi Sa‘id sebagai penghubung otoritatif antara praktik sahabat dan generasi setelahnya.

Baca Juga: Kisah Tatang Asy’ari dari Lorong ke Lorong Istiqamah di Jalan Dakwah

Para ulama klasik menggambarkan posisi Sa‘id di tengah tabi‘in seperti Abu Bakar di tengah para sahabat, sebuah analogi yang menunjukkan keluasan ilmu, kewibawaan moral, dan keteladanan hidup. Ia termasuk dalam kelompok Fuqaha’ al-Sab‘ah (Tujuh Ahli Fikih Madinah), fondasi utama mazhab fikih Madinah yang kelak sangat memengaruhi Imam Malik.

Sa‘id bukan tipe ulama istana. Ia memilih hidup bersahaja, menolak kedekatan dengan penguasa Bani Umayyah. Bahkan, ia pernah dipenjara dan disiksa karena menolak berbaiat kepada khalifah yang dinilainya tidak sah secara moral dan politik. Keteguhan ini bukan lahir dari ambisi oposisi, melainkan dari keyakinan bahwa ilmu harus berdiri merdeka dari kekuasaan.

Keilmuan Sa‘id tidak berhenti pada teks. Ia dikenal sangat menjaga adab, shalat berjamaah, dan keikhlasan niat. Diriwayatkan, selama puluhan tahun ia tidak pernah tertinggal takbiratul ihram bersama imam di Masjid Nabawi. Baginya, ibadah bukan rutinitas, melainkan komitmen seumur hidup.

Ia juga dikenal sangat selektif dalam berbicara. Jika tidak yakin akan kebenaran suatu riwayat, ia memilih diam. Dalam tradisi ilmiah Islam, sikap ini menjadi fondasi metodologis penting bahwa diam lebih mulia daripada bicara tanpa ilmu.

Baca Juga: Abu Hurairah Sang Penjaga Hadits, Ahli Ibadah, dan Teladan Ramadhan

Salah satu sisi paling humanis dari Sa‘id bin al-Musayyab adalah keberaniannya menjaga jarak dengan kekuasaan. Ia menolak menikahkan putrinya dengan putra khalifah, dan justru menikahkannya dengan murid miskin yang saleh. Bagi Sa‘id, kemuliaan bukan pada status sosial, melainkan pada iman dan akhlak.

Kisah ini sering dikutip dalam literatur tarbiyah dan sosiologi Islam sebagai contoh resistensi moral ulama terhadap kooptasi kekuasaan. Sa‘id menunjukkan bahwa ulama sejati bukan yang dekat dengan singgasana, tetapi yang dekat dengan nurani umat.

Sa‘id bin al-Musayyib wafat pada tahun 94 H di Madinah. Namun jejaknya terus hidup dalam kitab-kitab hadis, fikih, dan sejarah Islam. Pemikirannya menjadi bagian dari fondasi intelektual Islam Sunni, khususnya dalam metodologi periwayatan hadis dan praktik fikih Madinah.

Lebih dari itu, Sa‘id mewariskan etos keilmuan: kesungguhan belajar, keberanian bersikap, dan ketulusan hidup. Di tengah zaman yang sering menukar ilmu dengan popularitas, sosok Sa‘id hadir sebagai cermin bahwa kemuliaan ilmu justru lahir dari kesunyian, konsistensi, dan keberanian berkata “tidak” pada ketidakadilan.

Baca Juga: Kisah Uwais al-Qarni, Tabi’in Terbaik yang Dipuji Rasulullah

Sa‘id bin al-Musayyab mengajarkan bahwa menjadi alim bukan soal banyaknya hafalan, tetapi tentang kesatuan antara ilmu, iman, dan sikap hidup. Ia bukan manusia tanpa rasa takut atau luka, tetapi justru manusia yang memilih setia pada prinsip di tengah tekanan zaman.

Di tangannya, ilmu bukan alat kekuasaan, melainkan jalan pengabdian. Dan dari Madinah, Sa‘id mengajarkan pada dunia bahwa keteguhan yang sunyi sering kali lebih menggetarkan sejarah dibandingkan teriakan yang ramai. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Muhammad bin Sirin, Ulama Tabi’in Penjaga Integritas di Era Bani Umayah

Rekomendasi untuk Anda

Sosok
Indonesia