DI ZAMAN ketika pencitraan menjadi mata uang sosial, kita sering menyaksikan sebuah fenomena yang terasa manis di permukaan namun getir di kedalaman: saling membanggakan, tetapi jarang menasehati. Prestasi dipamerkan, amal diumumkan, jabatan disorot, sementara kekeliruan ditutup rapat. Yang dipuji diangkat tinggi, yang salah dibiarkan berjalan sendiri. Kita tersenyum, bertepuk tangan, dan berkata, “MasyaAllah,” namun lupa bertanya, “Apakah ini mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan?”
Budaya saling membanggakan ini sering dibungkus dengan niat baik. Katanya untuk memotivasi, menguatkan, atau menjaga perasaan. Namun tanpa disadari, ia melahirkan generasi yang alergi terhadap nasehat. Ketika pujian menjadi rutinitas dan koreksi dianggap ancaman, hati pun mengeras. Padahal Islam tidak dibangun di atas sanjungan kosong, melainkan di atas kebenaran yang disampaikan dengan hikmah. Allah mengingatkan, “Dan saling menasehatilah dalam kebenaran dan saling menasehatilah dalam kesabaran” (QS. Al-‘Ashr: 3). Ayat ini tidak menyebut “saling memuji”, tetapi “saling menasehati”.
Sanjungan yang berlebihan memiliki daya rusak yang halus. Rasulullah SAW pernah menegur keras orang yang terlalu memuji, “Jika kalian melihat orang-orang yang berlebihan memuji, taburkanlah tanah ke wajah mereka” (HR. Muslim). Ini bukan ajaran kasar, tetapi peringatan agar pujian tidak menjerumuskan pada ujub dan kesombongan. Pujian yang tidak disertai nasehat bagaikan gula tanpa obat; manis di lidah, merusak di tubuh. Ia membuat seseorang merasa cukup, padahal sejatinya ia masih butuh perbaikan.
Ironisnya, kita sering takut menasehati karena khawatir merusak hubungan. Kita memilih aman, memilih diam, memilih pujian. Padahal diam di hadapan kesalahan bukanlah kasih sayang, melainkan pembiaran. Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa nasehat adalah inti agama. Beliau mengutip hadits “Ad-dînu an-nashîhah” (Agama adalah nasehat), lalu menegaskan bahwa meninggalkan nasehat saat mampu adalah bentuk pengkhianatan terhadap ukhuwah. Ukhuwah bukan hanya tentang kebersamaan, tetapi juga tentang keberanian menyelamatkan.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Di tengah jamaah, komunitas, bahkan keluarga, fenomena ini kian nyata. Kita mudah membanggakan “kita sudah berada di jalan yang benar”, namun enggan menegur ketika adab mulai longgar, amanah mulai retak, atau ibadah mulai sekadar rutinitas. Sindiran halus sering lebih disukai daripada nasehat jujur. Padahal sindiran tanpa kejelasan sering tidak menyembuhkan, bahkan menambah luka. Islam mengajarkan kejelasan yang santun, bukan kepalsuan yang menenangkan sesaat.
Para ulama salaf justru berlomba mencari orang yang mau menasehati mereka. Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata, “Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tidak mau menasehati kami, dan tidak ada kebaikan pada kami jika kami tidak mau menerima nasehat kalian.” Kalimat ini lahir dari hati pemimpin yang takut pada pujian dan rindu pada kebenaran. Umar tahu, pujian membuat lengah, sementara nasehat membuat terjaga.
Saling membanggakan juga sering melahirkan standar ganda. Kesalahan orang lain cepat disorot, kesalahan “kawan sendiri” ditutupi. Ini bukan ukhuwah, ini fanatisme. Imam Ibnul Qayyim رحمه الله mengingatkan bahwa cinta yang benar adalah cinta yang mengantarkan kepada ridha Allah, bukan yang membiarkan dalam maksiat. Menutupi aib memang dianjurkan, tetapi membiarkan kesalahan tanpa nasehat adalah bentuk kezaliman yang dibungkus empati palsu.
Menasehati memang tidak mudah. Ia butuh ilmu, adab, waktu, dan keikhlasan. Namun sulit bukan alasan untuk ditinggalkan. Allah memerintahkan, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik” (QS. An-Nahl: 125). Hikmah bukan berarti lembek, dan kelembutan bukan berarti menghilangkan kebenaran. Nasehat yang baik adalah yang jujur, tepat sasaran, dan lahir dari cinta, bukan dari ego.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Kita perlu jujur bertanya pada diri sendiri: apakah pujian yang kita ucapkan benar-benar membantu saudara kita, atau hanya membuatnya nyaman di tempat yang salah? Apakah diam kita karena hikmah, atau karena takut kehilangan penerimaan sosial? Imam Al-Ghazali رحمه الله menyebutkan bahwa salah satu tanda cinta dunia adalah enggan berkata benar karena takut kehilangan kedudukan di hati manusia. Nasehat yang ditinggalkan sering kali bukan karena tak tahu, tetapi karena tak mau menanggung risikonya.
Budaya saling menasehati tidak akan tumbuh di lingkungan yang mengagungkan citra. Ia tumbuh di hati yang ikhlas dan rendah. Kita perlu membiasakan diri menerima nasehat sebelum gemar memberi. Sebab orang yang alergi dikoreksi biasanya juga tak mampu menasehati dengan benar. Rasulullah SAW adalah teladan tertinggi: beliau menasehati dengan lembut, namun tegas; memuji pada tempatnya, menegur pada waktunya.
Akhirnya, mari kita luruskan kembali orientasi. Kita tidak sedang membangun panggung pujian, tetapi jalan menuju Allah. Jika benar-benar sayang, jangan hanya banggakan—nasehatilah. Jika benar-benar peduli, jangan hanya tepuk tangan—ingatkan. Karena kelak, yang ditanya bukan seberapa sering kita memuji, tetapi seberapa jujur kita menjaga saudara kita dari kesalahan. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, bukan sekadar saling membanggakan dalam kelalaian.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic