Sebab Lemahnya Iman (bag. 2)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Iman itu kadang naik kadang turun. Begitulah sunnatullah-nya iman. Iman bagi seorang Muslim adalah harta berharga yang jika dilepaskan, maka akan celaka dunia hingga akhirat. Bahkan, nilai hidup seorang Muslim itu sangat ditentukan seberapa kuatnya dia mempertahankan iman di dadanya.

Tak bisa dipungkiri, ujian dalam hidup ini memang tidak mudah. Inilah dunia, tempat dimana keburukan dan kebaikan bersanding satu sama lain untuk saling menjatuhkan. Orang yang kebaikannya lebih dominan, adalah mereka yang imannya sedang tumbuh subur. Sebaliknya, orang yang keburukannya jauh lebih banyak, bisa dipastikan karena imannya sedang turun drastis.

Jika sebelumnya dibahas Sebab Lemahnya Iman pertama adalah kurangnya keikhlasan, maka selanjutnya yang menjadi sebab lemahya iman adalah sebagai berikut.

Kedua,  Konsistensi Emosional. Setiap manusia mempunyai emosi (perasaan) dan akal sehat kecuali manusia yang telah Allah cabut akalnya (gila). Namun, kebanyakan manusia tenggelam di lautan emosi hingga hilang sikap bijaksananya yang akhirnya menyebabkan ketumpulan dalam berfikir. Jika sudah tumpul dalam berfikir, maka seseorang menjadi mudah untuk melakukan kesalahan serta meninggalkan kebenaran.

Inilah kondisi yang dialami sebagian orang yang bersikap konsisten secara emosional bukan karena keinginan sendiri atau kesadaran suci. Terkadang, sikap konsisten semacam ini timbul karena dipengaruhi suatu nasihat yang ia dengar atau karena suatu kalimat yang memengaruhi dirinya. Pengaruh semacam ini bersifat sementara, dan mudah hilang terutama ketika cobaan kecil dialami hatinya, hingga melemahkan sikap konsistensinya bahkan kadang melenyapkan sama sekali.

Hal terpenting dalam sikap konsistensi adalah kemauan yang kuat, kesadaran total dan adanya kemauan yang keras. Orang yang masuk dalam area konsistensi seharusnya mengetahui bahwa keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat serta untuk mendapatkan cinta Allah adalah dengan menaati-Nya dan berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah.

Ketiga, Kecenderungan kepada Apa yang Telah Berlalu. Saat seseorang Muslim mau bersikap konsisten, tiba-tiba ia merasakan suatu perpindahan dalam hidupnya, karena di masa lalu ia berada penuh dalam kehidupan maksiat kepada Allah Ta’ala, lalu ia berpindah menuju keseimbangan ruhani dan ketenangan jiwa. Tentu saja, saat proses itu terjadi, dia menemukan perbedaan yang amat jauh antara kehidupan masa lalu dengan kehidupannya yang sekarang.

Namun, pada hari-hari tertentu ia ingat pada masa lalunya, sahabat-sahabat masa lalu dan berbagai prilakunya bersama mereka. Lalu ia melepaskan tali kekang pikirannya untuk terus menelusuri masa lalu pada ingatannya. Sikapnya yang semacam ini secara tidak langsung telah memberi peluang kepada setan untuk melancarkan serangan tipu daya serta bermain-main dengannya. Akibatnya, ia berfikir untuk kembali ke masa lalunya dan kembali pada teman-teman lamanya.

Teman-teman masa lalunya pun ikut menumbangkan (menggerogoti) benih-benih iman yang baru saja mulai bersemi dan kebersihan jiwanya dari dalam hatinya. Sebagaiman disebutkan bahwa teman itu adalah perampas (penggerogot). Maka saat itu pula dia sedang hidup di antara dua arus antara kemaksiatan dan ketaatan. Sementara dia sendiri hidup dalam pertarungan jiwa antara kebenaran (haq) dan kebatilan.

Karena itu, untuk mengatasi masalah di atas, maka menurut para ulama, sepantasnya bagi seorang yang telah bertaubat untuk memisahkan dirinya dari keadaan-keadaan yang biasa ia lakukan di masa maksiat lalu berpaling secara menyeluruh dari semua kemaksiatan itu, dan menyibukkan dirinya pada hal positif yang bisa mendukung sikap konsistennya.

Bukankah dalam hadis shahih Bukhari Muslim pernah dikisahkan orang yang telah membunuh 100 orang, lalu ia diarahkan oleh ulama untuk mengunjungi sebuah desa, dimana di desa tersebut dihuni oleh orang-orang yang sholeh? Ini artinya, sikap konsisten seseorang yang sudah bertaubat, harus dibangun dengan cara berkumpul bersama orang-orang yang sudah meninggalkan dunia maksiat secara totalitas.

Jika ia tidak segera berkumpul dengan orang-orang yang saleh, maka setan akan selalu berusaha untuk menghembuskan angan-angannya di masa lalu. Tipu daya setan itu teramat kuat, sehingga bisa mengembalikan orang yang sudah bertaubat kembali kepada masa lalunya untuk melakukan kemaksiatan.

Selain itu langkah yang harus dilakukan oleh mereka yang bertaubat adalah memperkaya diri dengan menambah ilmu-ilmu agamanya. Caranya, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu. Dengan begitu, celah setan untuk membuatnya cenderung kepada masa lalunya akan terkubur, wallahua’lam.(A/RS3/RI-1)

Sumber: Buku 31 Sebab Lemahnya Iman penerbit: Darul Haq, Jakarta.

 

Mi’raj News Agency (MINA)