Sebab Lemahnya Iman (bag. 3)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Iman itu mahal. Nilainya tak sebanding dengan harta sepenuh bumi. Namun, betapa sedikit orang yang berusaha untuk menjaga terus imannya dengan senantiasa menuntut ilmu dari berbagai majelis ilmu yang setiap saat bisa ia datangi. Di antara sebab lemahnya iman selanjutnya antara lain sebagai berikut.

Keempat, Sedikit Menuntut Ilmu. Sebaik-baik ibadah yang seharusnya dilakukan oleh orang yang konsisten adalah menuntut ilmu, sebagaimana Allah Ta’ala sudah menyampaikan dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ibnu Qayyim berkata, “Dalam ayat di atas ini terdapat keterangan bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan orang-orang berilmu sebagai saksi atau ke-Esa-an Allah, hal ini menunjukkan bahwa orang-orang berilmu memiliki keistimewaan di sisi Allah Ta’ala dari beberapa aspek, antara lain.

pertama, mengkhususkan mereka sebagai saksi atas ke-Esa-an Allah tanpa mengikutsertakan golongan manusia lain. Kedua, menyejajarkan kesaksian mereka dengan kesaksian Allah. Ketiga, menyejajarkan kesaksian mereka dengan kesaksian para malaikat-Nya. (Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafahu karya Ibnu  Qayyim.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dunia adalah terlaknat, terlaknat segala sesuatu yang ada padanya, kecuali dzikir kepada Allah, dan segala sesuatu yang ber-wala’ kepada-Nya orang berilmu, dan orang yang menuntut ilmu.” (hadist shahih).

Maka menuntut ilmu adalah sebuah kemuliaan, memiliki kedudukan tinggi serta merupakan ibadah yang istimewa. Orang yang memperhatikan kehidupan sebagian orang yang bersikap konsisten akan menemukan kehampaan diri mereka dari ilmu, bahkan dari ilmu yang sangat sederhana dan bersifat mendasa sekali, seperti pemahaman tentag kalimat: “Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah”, tiga landasan utama dan empat masalah penting, rukun-rukun shalat, dan lainnya.

Semangat Menuntut Ilmu

Seseorang pernah melihat betapa Imam Ahmad bin Hambal sedang membawa tempat tinta, maka berkata pria itu kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdullah, engkau adalah seorang Imam besar akan tetapi engkau masih saja membawa tempat tinta. Lalu Imam Ahmad berkata, “Aku akan tetap membawa tempat tinta ini hingga aku menuju liang lahat.”

Itulah sekelumit pengalaman yang diambil dari lautan sejarah kehidupan para pahlawan ilmu yang Allah jadikan mereka sebagai penjaga agama-Nya. Sedangkan keadaan kita hari ini, dimana terdapat banyak buku-buku diterbitkan dengan edisi mewah dengan kertas paling berkualitasa, kitab-kitab tersedia dimana-mana, perpustakaan dan toko baju. Namun, sayang sekali kemalasan selalu saja merajai setiap manusia di negeri ini.

Hal yang tak kalah menyedihkan adalah hilangnya waktu dengan sia-sia pada kehidupan orang-orang yang konsisten  dan bahkan hari-hari mereka berlalu dengan sia-sia tanpa ada manfaatnya sedikitpun. Orang-orang yang banyak menyia-nyiakan waktu dan masa amal sholeh itulah termasuk kelak dalam golongan orang-orang yang merugi.

Mari tumbuhkan semangat untuk selalu menuntut ilmu sebagai wujud rasa cinta dan syukur kepada Allah Ta’ala. Bersyukur karena masih diberi kesehatan dan waktu luang untuk menuntut ilmu. Puncak menuntut ilmu bagi seorang muslim adalah tumbuhnya rasa takut hanya kepada Allah Ta’ala.

Ibnu Abbas radhiallahu ’anhu pernah berkata, “Ilmu adalah takut kepada Allah, sedangkan kebodohan yang tidak bisa diusir kecuali dengan ilmu, dan manusia  adalah musuh bagi sesuatu yang tidak ia ketahui.”

Kebodohan terkadang dapat menjerumuskan manusia pada kesesatan yang tidak ia sadari, dan orang yang berilmu lebih ditakuti oleh setan daripada seratus orang yang ahli ibadah. Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu agar tidak tersesat di akhirat kelak, wallahua’lam. (A/RS3/RI-1)

Sumber: Buku “31 Sebab Lemahnya Iman” penerbit: Darul Haq, Jakarta.

 

Mi’raj News Agency (MINA)