Sekitar 50 Ribu Anak-Anak Yaman Meninggal Dalam Setahun

Sana’a, MINA – Konflik selama bertahun-tahun di Yaman ditambah blokade ekonomi mengakibatkan tingkat kematian sekitar 50.000 anak-anak dalam setahun.

Kematian bayi telah meningkat menjadi proporsi yang sangat mengkhawatirkan karena kelaparan, kurangnya perawatan medis dan kemiskinan yang meluas. Media TRT World melaporkan, Jumat (13/3).

Laporan tentang kematian anak telah muncul sejak perang di Yaman pecah pada tahun 2015, tetapi masalah ini hampir tidak mendapat tanggapan internasional.

Data UNICEF tahun 2018 menyebutkan, sekitar 30.000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal dalam setahun akibat penyakit yang kekurangan gizi.

Juru bicara Kementerian Kesehatan di Sana’a, Saif al Hadri, menggambarkan situasi anak-anak Yaman sebagai “bencana dalam bayang-bayang perang”, menunjukkan bahwa “sekitar 5,5 juta anak di bawah umur lima tahun menderita kekurangan gizi “.

Al Hadri mengungkapkan bahwa “satu anak meninggal setiap sepuluh menit di Yaman” dan mencatat: “80 persen anak-anak di Yaman hidup dalam keadaan anemia karena kekurangan gizi.”

Dia menambahkan: “Dua ratus ribu wanita usia subur atau beberapa dari mereka hamil atau telah melahirkan anak-anak yang kekurangan gizi, yang mengancam kehidupan anak-anak.”

Dukungan dari masyarakat internasional tidak cukup, menurut al Hadri. Ia juga menambahkan, tidak ada kekuatan global terkemuka yang mengambil inisiatif serius untuk memaksa negara-negara Teluk pimpinan Arab Saudi untuk membuka blokade Yaman.

Kematian anak-anak di Yaman meningkat pada musim dingin, terutama di daerah pegunungan yang dingin.

Kekurangan gizi, malaria, dan difteri terbukti berakibat fatal bagi puluhan ribu anak yang tinggal di daerah perkotaan.

Menurut UNICEF, Yaman adalah krisis kemanusiaan terbesar di dunia, dengan lebih dari 24 juta orang atau sekitar 80 persen dari populasi, membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk lebih dari 12 juta anak. (T/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)