DI TENGAH situasi perang yang belum sepenuhnya berakhir, sebuah sekolah kuliner di Kota Gaza kembali membuka kegiatan belajar mengajar setelah sempat berhenti beroperasi selama hampir tiga tahun akibat agresi Israel.
Dibukanya kembali sekolah tersebut menjadi simbol semangat masyarakat Palestina untuk mempertahankan pendidikan sekaligus menyiapkan generasi muda menghadapi masa depan.
Sekolah yang sebelumnya beroperasi di gedung lama itu kini menempati lokasi baru setelah bangunan aslinya rusak akibat serangan. Meski fasilitas yang tersedia jauh dari memadai, para pengajar dan siswa tetap melanjutkan proses pembelajaran dengan memanfaatkan peralatan yang masih dapat digunakan.
Direktur sekolah, Ahmed Abu Taha mengatakan pihaknya bertekad menghidupkan kembali kegiatan pendidikan karena banyak pemuda di Gaza membutuhkan keterampilan yang dapat menjadi bekal mencari nafkah di tengah kondisi ekonomi yang terpuruk.
Baca Juga: Israel Culik 28 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Jurnalis Al Jazeera
Menurutnya, proses belajar mengajar masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari terbatasnya peralatan memasak, pasokan listrik yang tidak stabil, hingga sulitnya memperoleh bahan baku dan gas untuk praktik memasak.
Untuk menjaga kegiatan tetap berlangsung, sekolah memanfaatkan generator listrik serta berbagai sumber energi alternatif meskipun biaya operasional terus meningkat.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk terus belajar meski berada dalam situasi perang. Pendidikan adalah investasi penting bagi masa depan Gaza,” ujar Abu Taha, seperti dikutip Al-Jazeera.
Sebagian besar peserta didik merupakan warga yang terdampak konflik. Banyak di antara mereka kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan anggota keluarga akibat perang yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Baca Juga: Sedikitnya 234 Pemukim Israel Serbu Halaman Masjid Al-Aqsa
Salah seorang siswa, Maram Kilab mengaku tetap bersemangat mengikuti program pendidikan kuliner meskipun kini masih tinggal di kamp pengungsian di wilayah selatan Gaza. Ia berharap keterampilan memasak yang diperolehnya dapat menjadi modal untuk membuka usaha sendiri ketika kondisi keamanan mulai membaik.
Menurut Maram, belajar di sekolah tersebut bukan hanya tentang menguasai teknik memasak, tetapi juga membangun harapan di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi masyarakat Gaza setiap hari.
Para instruktur meyakini keterampilan vokasi seperti tata boga memiliki peran penting dalam proses pemulihan pascakonflik. Selain membuka peluang kerja, lulusan sekolah diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru melalui usaha kecil yang dapat membantu menggerakkan kembali perekonomian lokal.
Di tengah keterbatasan akses terhadap pendidikan formal, keberadaan sekolah tersebut juga menjadi ruang aman bagi generasi muda untuk tetap belajar dan mengembangkan kemampuan.
Baca Juga: Empat Warga Palestina Syahid dalam Pelanggaran Terbaru Israel di Gaza
Sejumlah lembaga kemanusiaan internasional menilai pendidikan merupakan salah satu sektor yang harus segera dipulihkan agar dampak perang tidak melahirkan “generasi yang hilang” (lost generation).
Kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza sendiri masih sangat memprihatinkan. Berbagai fasilitas pendidikan, rumah sakit, dan infrastruktur sipil mengalami kerusakan akibat konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga melaporkan sebagian besar penduduk Gaza masih bergantung pada bantuan kemanusiaan karena terbatasnya akses terhadap pangan, air bersih, layanan kesehatan, dan pekerjaan.
Di sektor ekonomi, banyak usaha kecil terhenti akibat kerusakan infrastruktur dan terganggunya rantai pasok. Karena itu, pendidikan berbasis keterampilan seperti kuliner dinilai menjadi salah satu upaya penting untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat ketika situasi mulai kondusif.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Dibukanya kembali sekolah kuliner tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Palestina tidak hanya berjuang mempertahankan kehidupan, tetapi juga berusaha menjaga keberlangsungan pendidikan bagi generasi penerus.
Di tengah suara ledakan dan keterbatasan yang masih membayangi Gaza, ruang-ruang belajar tetap menjadi tempat menumbuhkan harapan bahwa masa depan yang lebih baik masih dapat diwujudkan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
















Mina Indonesia
Mina Arabic