Semarak Gerakan Literasi di SMPN 178 Jakarta Bersama Kedubes Uzbekistan

(Foto: Rana/MINA)

Jakarta, MINA – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 178 Jakarta menyelenggarakan Gerakan Literasi Sekolah pada Selasa (8/10) di sekolah tersebut.

Kegiatan ini dimulai di lapangan utama outdoor yang diikuti sekitar 750 siswa dengan menampilkan tarian daerah Betawi dan penyampaian Story Telling dalam Bahasa Inggris oleh siswa.

Puncak gerakan literasi diadakan Seminar Gerakan Literasi bertajuk “Cross Cultural Understanding: Literacy Education in Uzbekistan” menghadirkan pembicara Second Secretary Kedutaan Besar Uzbekistan untuk Indonesia, Mr. Muzzaffar S. Abduazimov, dan Ms. Nia S. Amira (Konsultan Media dan Manajemen Kajian Negara-Negara Islam khususnya negara bekas Uni Soviet).

Acara seminar sendiri dihadiri 150-an siswa dan puluhan guru, serta tamu undangan dari mitra sekolah dan MUI, semarak gerakan literasi menyadarkan akan pentingnya membangun kebiasaan membaca dan menulis di kalangan siswa SMP.

Kepala Sekolah SMP Negeri 178 Jakarta Dra. Hj. Erni Sasmita, kegiatan gerakan literasi sekolah ini meliputi empat kegiatan dilakukan di dalam kelas, lapangan, maupun perpustakaan, memalui literasi media, membaca, menulis dan budaya.

Kegiatan di sekolah yang memiliki 826 peserta didik serta 57 guru dan karyawan ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.

“Menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar atau learning organisation, menjaga budaya literasi di sekolah, dan membuka wawasan kepada kita semua peserta didik, para undangan, dan seluruh warga SMPN 178 mengenal budaya beberapa negara sahabat khususnya negara Uzbekistan,” kata Erni.

Sebagai pembicara, Muzzaffar menjelaskan Uzbekistan sebagai sebuah daratan tua di Asia Tengah yang hidup dengan banyak legenda dan sastra dengan pemandangan budaya Islam abad pertengahan yang menawan.

“Uzbekistan menjadi salah satu destinasi wisata religi penting karena salah satu daerah yang memiliki peradaban muslim terbesar, seperti makam Imam Bukhari dan Ibnu Sina. Terdapat sekitar 700 monumen dan peninggalan arsitektur yang dibangun pada Abad Pertengahan,” katanya.

Dia juga menjelaskan empat kota yang wajib dikunjungi sebagai destinasi wisata religi Muslim penting di antaranya Samarkand yakni kota tua yang masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO. Samarkand juga merupakan kota penting dalam sejarah Islam di Asia Tengah.

Selain itu, Bukhara kota kelahiran Imam Bukhari ini ini, beragam bangunan indah yang menjadi saksi berkembangnya peradaban Islam masa lampau. Selanjutnya, Khiva yang memiliki arsitektural yang sangat khas gaya Timur Tengah dengan dinding kota yang kuno mengelilinginya.

Tashkent sebagai Ibukota Uzbekistan merupakan kota tua yang usianya sudah berabad-abad. Kota tersebut dulunya merupakan lokasi pemberhentian dalam rute perdagangan Jalur Sutra dari Asia menuju Eropa.

Muzaffar mengatakan sebagai daya tarik bagi wisatawan Indonesia yang merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, Uzbekistan membuka penerbangan langsung ke negara yang dijuluki sebagai Negeri Dongeng itu, dari Jakarta menuju Tashkent.

Pada kesempatan tersebut, Nia S Amira, seorang penulis, penyair, dan juga seorang jurnalis menyampaikan pesan kepada siswa bahwa melek literasi itu penting dalam kehidupan manusia dan menulis lebih penting daripada membaca, karena dengan menulis seseorang akan mencari berbagai referensi untuk bahan tulisannya. Sementara itu, seseorang yang suka membaca mungkin belum tentu suka menulis.

Amira yang pagi itu memakai pakaian khas Uzbek yang juga disebut IKAT menambahkan pentingnya Critical Thinking dalam literasi. Berpikir secara kritis bukan mengkritik tetapi menulis berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.

Menjadi pembicara Amira membawakan makalah tentang keindahan kebun yang dibangun oleh Sultan Babur Salam. Kebun babur yang berada di Kabul, Afghanistan, berada di atas tanah seluas 11 hektar, dibangun Zahiruddin Muhammad Babur, pendiri dan kaisar pertama Dinasti Mughal di India, seorang cucu pendiri Uzbekistan, Amir Timur.

Taman tersebut adalah kebun pertama yang dibangunnya setiba di Afghanistan yang sejuk pada 500 tahun silam. Selain Ottoman, Dinasti Mughal tercatat memiliki peradaban arsitektur megah dalam sejarah dunia Islam.
Program literasi tersebut juga dipublikasi di Channel TV Uzbekistan News.

Kepala Seksi Kurikulum SMP dan SMA Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Dr. Saryono mengapresiasi kegiatan gerakan literasi yang digelar di SMPN 178 Jakarta ini.

“Kami mengapresiasi kegiatan ini. Kegiatan membahas literasi pendidikan di negara sahabat terutama Uzbekistan ini menjadi contoh bagi gerakan literasi yang dilakukan sekolah lainnya,” katanya.

Senada dengan Saryono, Kepala Seksi Pendidikan Dasar (DIKDAS) dan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Suku Dinas (Sudin) Pendidikan Wilayah I Kota Administratif Jakarta Selatan, Iskandar, juga sangat mengapresiasi kegiatan literasi di lingkungan sekolah SMPN 178 Jakarta.

“Kami mengharapkan pada kegiatan ini peserta didik dapat mempelajari sejarah. Kegiatan ini juga dapat memberikan motivasi pengembangan peserta didik,” ujarnya.

Program literasi di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI ini merupakan inisiatif dari pengawas Suku Dinas (Sudin) Pendidikan Wilayah I Kota Administratif Jakarta Selatan, Dr. Ester Ekarista Sinambela, M.Pd., yang difasilitasi oleh Nia S. Amira dengan tujuan untuk memberi wawasan internasional kepada sekolah-sekolah menengah yang ada di lingkungan pengawasan Dr Ester Sinambela.

Ester menjelaskan, Gerakan Literasi Sekolah adalah sebuah gerakan dalam upaya menumbuhkan budi pekerti siswa yang bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat.

“Kegiatan rutin ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik,” jelasnya.

“Kegiatan ini bagian dari jejaring lintas budaya dan lintas negara dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Kemendikbud. Kami mengharapkan kegiatan ini dapat membangun critical thinking peserta didik sehingga kedepan dapat meraih Higher Order of Thinking Skill (HOTS) dalam menyukseskan Kurikulum 2013,” tambah Ester.

HOTS sendiri, lanjut dia, merupakan kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Gerakan Literasi Sekolah ini merupakan upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah baik guru, peserta didik, orang tua/wali murid, dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan sehingga membutuhkan dukungan kolaboratif berbagai elemen.(L/R01/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)