Serikat Buruh Pimpin Demo Hentikan Ekspor Senjata Inggris ke Israel

Aksi protes “Pekerja untuk Palestina yang Merdeka” di Edinburgh, Inggris, Kamis, 21 Maret 2024. (Workers World)

London, MINA – Para pekerja dan anggota serikat buruh di Inggris dan Skotlandia memimpin aksi demonstrasi menuntut penghentian ekspor senjata Inggris ke Israel.

Di bawah bendera “Pekerja untuk Palestina yang Merdeka”, para pekerja  dan anggota serikat buruh menutup akses terhadap GE Aviation Systems di Cheltenham dan Leonardo UK di Edinburgh. MEMO melaporkan, Kamis (21/3).

Massa mengingatkan keputusan Pemerintah Kanada baru-baru ini untuk menghentikan ekspor senjata ke Israel, menyusul pemungutan suara yang tidak mengikat dalam referendum.

Dewan Perwakilan Unite, UNISON, British Medical Association (BMA), Broadcasting, Entertainment, Communications and Theatre Union (BECTU) merupakan beberapa dari serikat pekerja yang mengambil bagian dalam aksi sipil. Serikat tersebut memiliki perwakilan dari sektor pendidikan, perhotelan, akademisi dankarya seni.

“Jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Inggris mendukung gencatan senjata, dan satu juta orang telah melakukan demonstrasi untuk tujuan tersebut.

Baik Partai Konservatif maupun Partai Buruh menolak untuk mendengarkan,” kata Laura, anggota serikat pekerja dan organisator Pekerja untuk Palestina Merdeka.

Sebagai reaksi yang berani terhadap niat pemerintah untuk membatasi protes di Inggris dengan dalih “anti-ekstremisme”, blokade ini akan menjadi bagian dari serangkaian tindakan langsung yang mengganggu selama sebulan.

Lebih dari 20 mobil ditolak di gerbang Cheltenham, dan manajer pabrik menyarankan karyawannya untuk tinggal di rumah.

“Kami tidak bisa membiarkan senjata yang digunakan untuk membantai warga Palestina, disuplai atas nama kami dan didanai oleh pajak kami. Sebagai penduduk lokal, kami tidak ingin pembunuhan dilakukan di depan pintu rumah kami.

Hal ini membuat kami merasa terlibat,” kata Cam, seorang warga setempat yang ikut serta dalam blokade Edinburgh.

Cam menambahkan, “Kami tidak menyalahkan para pekerja di lokasi ini.

Kami menyalahkan para bos yang memutuskan untuk menjual komponen-komponen ini ke Israel agar dapat digunakan dalam genosida yang sedang berlangsung.”

“Ketika Israel mengancam untuk menyerang Rafah, yang diperkirakan akan menyebabkan pertumpahan darah brutal yang tak terbayangkan, kami tidak bisa berdiam diri, sementara pabrik-pabrik di ujung jalan melakukan pembantaian sumber daya. Kami harus bertindak,” lanjutnya.

Menurut catatan, pabrikan di Inggris memasok 15 persen komponen untuk jet tempur F-35. (T/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.