Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Shalat Tiang Agama yang Memperkokoh Kehidupan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 22 Juli 2026 - 07:31 WIB

Rabu, 22 Juli 2026 - 07:31 WIB

85 Views ㅤ

Ilustrasi: Shalat Subuh berjama'ah. (foto: ist)

ADA sebuah bangunan bernama agama. Megah, menjulang, dengan cita-cita setinggi awan. Di dalamnya ada mimpi-mimpi besar, beban-beban berat, dan harapan-harapan yang tak terhingga. Tapi bangunan ini hanya akan tegak jika ada tiang yang kokoh. Tanpa tiang, ia hanya reruntuhan. Itulah shalat.

Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ أقَامَهَا فَقدْ أقَامَ الدِّيْنَ وَمنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنَ

Artinya: “Shalat adalah tiang agama, maka barang siapa mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agamanya; dan barang siapa meninggalkan shalat, sungguh ia telah merobohkan agamanya.” (H.R. Al-Baihaqi).

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Pada hadits lain disebutkan:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“Inti segala perkara adalah Islam dan tiangnya adalah shalat.” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Shalat. Satu kata yang menjadi penopang seluruh sendi kehidupan. Ketika tiang ini kokoh, seluruh bangunan berdiri dengan gagah. Ketika tiang ini rapuh, bergoyanglah rumah iman. Ketika tiang ini roboh, ambruklah seluruh cita-cita.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Bayangkanlah. Semakin tinggi sebuah bangunan, semakin besar pula beban yang harus ditopang. Semakin jauh cita-cita yang hendak dijangkau, semakin kuat pula pondasi yang diperlukan. Begitu pula dengan agama.

Semakin besar cita-cita seorang hamba, ingin menjadi manusia terbaik, ingin mengubah dunia, ingin meraih ridha-Nya di setiap Langkah, maka semakin kokoh pula tiang shalatnya. Ia tidak boleh goyah. Ia tidak boleh retak. Karena beban kehidupan yang berat hanya bisa ditahan oleh tiang iman yang terpancang kuat di tanah keikhlasan.

Pernahkah kita melihat bangunan tinggi yang tegak di tengah badai? Tiang-tiangnya tertanam dalam, menahan guncangan angin dan gempa. Demikianlah shalat. Ia adalah tiang yang menahan guncangan dunia. Ketika badai masalah menerjang, shalatlah yang membuat kita tetap tegak. Ketika gempa kesedihan mengguncang, shalatlah yang menjaga kita agar tidak tumbang.

Tapi shalat bukan sekadar tiang yang kaku dan dingin. Ia adalah jembatan. Jembatan yang menghubungkan bumi yang fana dengan langit yang abadi. Jembatan yang menghubungkan hati yang lemah dengan Zat Yang Maha Kuat.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Dalam hal ini kita ingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَاصَلَّى يُنَاجِيْ رَبَّهُ

Artinya: “Sesungguhnya apabila salah seorang di antara menunaikan kalian shalat, maka dia sedang bermunajat dengan Tuhannya.” (H.R. Bukhari).

Setiap kali kita mengangkat tangan takbir, kita sedang membentangkan jembatan penghubung. Setiap kali kita rukuk dan sujud, kita semakin dekat. Setiap kali kita membaca Al-Fatihah, kita sedang berdialog kepada-Nya. Dan setiap kali kita mengucapkan salam, kita sedang menyelesaikan pertemuan cinta dengan Sang Kekasih.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Semakin sering kita melintasi jembatan penghubung ini, semakin kuat hubungan itu. Semakin khusyuk kita di dalamnya, semakin erat tali cinta yang terikat. Semakin lama semakin dekat. Semakin rajin shalat, semakin terasa kehadiran-Nya dalam setiap detak jantung.

Ingatlah, ketika kita bermimpi menjadi pemimpin yang adil, perbanyaklah shalat kita. Ketika kita  memiliki cita-cita atau harapan yang tinggi, perbanyaklah shalat kita. Ketika kita berharap menjadi orang tua yang membanggakan, perbanyaklah shalat kita. Karena tanpa tiang yang kuat, semua cita-cita itu hanya fatamorgana.

Shalatlah yang akan membawa kita melewati lembah kesulitan. Shalatlah yang akan menuntun kita menuju puncak kesuksesan. Shalatlah yang akan mengingatkan kita ketika kita hampir terjatuh. Shalatlah yang akan mengangkat kita ketika kita terpuruk.

Maka, ketika shalat mulai kita tinggalkan, saat itulah tiang mulai patah. Awalnya mungkin hanya retak kecil. Kita masih merasa kokoh. Tapi kemudian retakan itu merambat, menyusup ke seluruh sendi bangunan. Dan suatu hari, tanpa diduga, bangunan itu ambruk berantakan, roboh berkeping-keping.

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Begitulah. Bangunan tanpa shalat adalah bangunan tanpa nyawa. Megah dari luar, kosong di dalam. Indah dipandang, tapi tak bertahan lama.

Karena itu, wahai jiwa-jiwa yang merindukan keagungan! Mari kita tegakkan shalat sebagai tiang kehdupan. Bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk selamanya. Mari kita jadikan shalat sebagai napas kehidupan. Sehingga setiap tarikan napas adalah takbir, dan setiap hembusan adalah tasbih.

Dan ketika tiang shalat kita tegak, seluruh bangunan akan berdiri dengan gagah. Cita-cita kita akan menggantung tinggi di langit. Beban kita akan terasa ringan. Dan hubungan kita dengan Sang Pencipta akan menjadi hubungan yang paling indah, hubungan cinta yang tak pernah pudar. Astaghfirullah. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

 

 

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Tausiyah
Tausiyah
Hikmah
Tausiyah
MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia