SETIAP hari kita diuji. Ujian datang silih berganti. Ujian harta, ujian pekerjaan, ujian rumah tangga, ujian Kesehatan, dan seterusnya. Namun ada satu ujian yang mungkin paling berat di zaman ini, yaitu ujian kesetiaan. Bukan kesetiaan kepada pasangan, bukan kesetiaan kepada teman, bukan kesetiaan kepada pekerjaan. Tapi kesetiaan kepada Allah yang terwujud dalam shalat.
Dan ujian itu semakin nyata ketika kita sadar bahwa ponsel di genggaman terasa lebih dekat daripada hamparan karpet di masjid atau sajadah di sudut kamar.
Allah berfirman tentang gambaran orang-orang yang setia pada Allah melalui shalatnya.
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا. إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا . وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا. إِلَّا الْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ
Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Mereka yang tetap mengerjakan shalatnya.” (QS Al-Ma’arij: 19-23).
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Allah menggambarkan manusia secara umum, bersifat mudah gelisah, mudah putus asa, mudah kikir. Tapi ada satu kelompok yang dikecualikan, yaitu al-mushallin, orang-orang yang setia mengerjakan shalat. Allah menambahkan satu sifat khusus tentang mereka:
الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ
“Mereka yang tetap mengerjakan shalatnya.”
Kata daaimun di sini berarti terus-menerus, langgeng, abadi, alias setia. Mereka bukan orang yang shalat hanya kadang-kadang. Bukan orang yang shalat hanya saat Ramadhan. Bukan orang yang shalatnya bolong-bolong. Tapi mereka yang tetap shalat, dalam suka dan duka, dalam lapang dan sempit, saat muda dan tua, dalam sibuk maupun santai. Di sinilah tanda kesetiaan itu terlihat.
Di sinilah ujian kita. Di zaman di mana ponsel menjadi kesetiaan baru,mengalahkan waktu untuk shalat. Di zaman di mana rata-rata anak muda menghabiskan 5-7 jam setiap hari di depan layar. 5 jam untuk dunia maya, sementara shalat hanya beberapa menit. Itupun banyak yang lewat.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Marilah kita renungkan bersama, berjam-jam jam untuk media sosial, tapi hanya beberapa menit untuk bersujud, itupun masih enggan. Berjam-jam melihat kehidupan orang lain. Sementara hanya beberapa menit untuk berbicara dengan Pencipta kehidupan, melalui shalat. Apakah ini adil? Apakah ini yang disebut kesetiaan?
Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
Artinya: “Dan di antara manusia ada yang menjadikan sekutu-sekutu selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman, mereka lebih cinta kepada Allah.” (QS Al-Baqarah: 165).
Ponsel bisa menjadi andad, sekutu. Media sosial bisa menjadi tandingan. Ketika kita lebih memilih scrolling daripada sujud, ketika kita lebih memilih membalas chat daripada menjawab azan, ketika kita lebih memilih menonton video daripada mendengarkan ayat Allah, di situlah kesetiaan kita diuji. Dan Allah melihat siapa yang setia dan siapa yang tidak.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Padahal saat kita bersujud dalam shalat, itulah momentum terdekat kita dengan Allah.
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud.” (HR. Muslim).
Di saat dahi menempel ke bumi, di saat badan merunduk, di saat jiwa merendah, justru saat itulah kita paling dekat dengan Allah. Di situlah kita seolah berbisik ke bumi, dan bisikan itu terdengar sampai ke langit.
Karena itu, marilah jika kekasihmu memanggil. Pasti kita tinggalkan segala sesuatu. Kita matikan ponsel. Kita hentikan tontonan. Kita berlari menemuinya. Kita siapkan diri sebaik mungkin.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Lalu bagaimana dengan Allah? Dialah kekasih sejati. Yang tidak pernah tidur. Yang tidak pernah lupa. Yang tidak pernah menyakiti kita. Yang selalu mendengar. Yang selalu menjawab.
Dan kita? Kita sering malah mematikan panggilan-Nya. Kita mengabaikan azan. Kita mengatakan, “Nanti dulu, ini penting.” Tapi apa yang lebih penting dari panggilan Allah?
Lalu, bagaimana Allah memandang orang yang tidak setia pada shalat? Allah berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Artinya: “Maka datanglah setelah mereka generasi pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS Maryam: 59).
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Utuk itu, marilah menjaga shalat sebagai tanda kesetiaan yang paling nyata. Di saat teman-teman asyik dengan dunia, di saat godaan begitu deras, di saat rasa malas membelenggu, di saat ponsel selalu menggoda, marilah kita tetap bergegas ke masjid. Kita tetap menjawab azan. Kita tetap menghamparkan sajadah.
Ya, itulah kesetiaan. Dan kesetiaan itu sederhana. Bukan tentang sempurna. Bukan tentang khusyuk setiap saat. Bukan tentang tidak pernah lalai. Tapi tentang kembali. Tentang bangkit kembali setelah jatuh. Tentang tetap shalat meskipun hati sedang berat.
Setiap sujud adalah penggugur dosa. Setiap kali dahi menyentuh bumi, Allah ampuni satu dosa. Setiap kali kita kembali shalat, Allah sambut kita dengan kasih sayang-Nya. Itulah kesetiaan. Bukan tentang kesempurnaan.
Pada akhirnya, shalatlah yang akan menjadi teman kita di alam kubur. Shalat pulalah yang akan menerangi gelapnya liang lahat. Shalat juga yang akan menjadi tiket kita menuju surga.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Marilah kita menjadi generasi yang shalatihim daaimun, generasi yang tetap mengerjakan shalat. Karena itulah kesetiaan. Karena itulah cinta. Setia dan cinta pada Allah.
Barakallaahu fiikum ajma’in. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
















Mina Indonesia
Mina Arabic