Sinar Cerah untuk Shuffah Al-Quran Abdullah bin Masud

 

Oleh: Heri Budiyanto

Silaknas ICMI pada 7-9 Desember 2018 lalu di Gedung Pasca Sarjana Universitas Bandar Lampung, yang  dan dihadiri 500 Profesor dan Doktor seluruh Indonesia, plus 11 Negara Asia Tenggara, telah usai. Silaknas dibuka Presiden dan ditutup oleh Wakil Presiden.

Pasca itu, Sekolah Tinggi Shuffah Al Quran Abdullah bin Masud (STSQABM) seperti mendapatkan sinar cerahnya matahari pagi. Semakin sering mendapat perhatian dari berbagai kalangan untuk berdiskusi masalah masalah besar Indonesia.

Makalah yang disampaikan Dr. Lili Solehuddin dari STSQABM dijadikan Program kerja unggulan tahun 2O19, yaitu mendirikan Sekolah Tinggi Al Quran dan Sain seluruh Provinsi di Indonesia di bawah binaan ICMI langsung dan Proposal kita akan dikaji secara mendalam.

Selain ICMI, setidaknya ada 4 (empat) lembaga yang juga sudah bersinergi dengan SQABM, yaitu : Pangdam II / Sriwijaya tentang kajian komunisme menurut Al-Quran. Bukan hanya itu, lembaga ini juga siap untuk menerima alumnus STSQABM untuk menjadi Perwira di TNI melalui jalur tahfidz Quran.

Lembaga lainnya, KPK, yang memasukan Kurikulum Korupsi dari tinjauan syariat Imam dan akan dijadikan dosen pengampu.

Begitu juga, Provinsi Lampung, untuk Pembinaan 4.000-an Masjid Jami’ se-Lampung tentang standardisasi baca Quran bagi Imam Masjid dan guru TPA. Pemprov Lampung juga sangat mendukung setiap kegiatan STSQABM dengan Fasilitas yang dimiliki Pemprov. Hingga lembaga tinggi negara, MPR RI tentang empat pilar kebangsaan dari tinjauan syariat Islam.

Rencana yang tidak kalah pentingnya adalah pada tanggal 27 April nanti, STSQABM akan mengumpulkan pakar dan praktisi kesehatan, baik konvensional maupun syariah, untuk berseminar tentang kesehatan ala Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi wasallam.

Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah), KH Yakhsyallah Mansur,MA selaku Pembina Utama menghendaki STSQABM sebagai pelopor pemikiran berdirinya Rumah Sakit Syariah di seluruh Indonesia. Ini sekaligus untuk mengantisipasi fenomena Hijrah yang tidak bisa dibendung lagi, di kalangan kaum terdidik cerdik pandai dan kalangan elit menengah ke atas akhir akhir ini sebagai isyarat akhir zaman.

Kesempatan emas terbuka lebar bagi kita untuk dicatat tinta emas sejarah perintis cikal bakal peradaban Islam ini, baik dunia terlebih di akhirat kelak. Ini semua karena semua pihak membutuhkan tempat yang representatif sebagai Homepage (Markaz) untuk memecahkan problematika yang dihadapi Muslimin khususnya dan manusia umumnya.

Untuk itu, STSQABM mengajak kaum Muslimin dan Muslimat untuk mendukung dan menguatkan dakwah izul Islam wal Muslimin ini. Sebagaimana tujuan didirikannya STSQABM oleh Imaam Muhyiddin Hamidy Allahu Yarham adalah untuk rahmatan lil ‘alamin. Sama dengan visi didirikannya Masjid An-Nubuwwah di Kompleks Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Lampung Selatan.

Melalui kampus STSQABM ini, direncanakan membangun gedung tiga lantai. Rencana ini bahkan jauh sebelum membangun Masjid An-Nubuwwah. Hal ini karena mustahil Peradaban Islam akan kuat dan besar bila tidak ada perguruan tinggi Al-Quran.Begitu harapan yang pernah disampaikan Imaam Hamidy semasa hidupnya.

Ini diperkuat oleh Imaam Yakhsyallah Mansur, bahwa sebagaimana Shuffah Rasulullah adalah lembaga Perguruan Tinggi Islam Pertama, karena yang belajar para Sahabat yang sudah dewasa, bukan anak-anak.

Gedung kampus STSQABM ini pun berintegrasi dengan Masjid sebagaimana pola Tarbiyah Rasulallah, menjadikan satu kesatuan antara Tarbiyah, Masjid dan Al Quran.

STSQABM dibangun di atas tanah seluas 4.375 m2, dengan luas bangunan 2.320 m2, membutuhkan dana sekitar Rp15 miliar. Di depan kampus nantinya akan berdiri kokoh Monumen Al-Quran sebagai suatu Filosofi dasar Civitas Akademika yang menjadikan Al-Quran sebagai Referensi Utama dalam beraktivitas, pendidikan, pengajaran, penelitian, riset dan pengembangan serta pengabdian Masyarakat.

Selain kelas, gedung ini akan dilengkapi dengan perpustakaan Al-Quran, yang akan menampilkan sejarah Al-Quran sampai dengan perkembangan terakhir percetakan Al-Quran. Termasuk tafsir Al-Quran dari ulama-ulama besar dalam berbagai bahasa seluruh dunia.

Tidak hanya itu, kampus yang berada di tengah kompleks Pondok Pesantren Al-Fatah seluas kurang lebih 100 hektar tersebut, juga akan dibangun ruang Laboratorium Al-Quran sebagai tempat Ulama dan Cendikiawan melakukan penelitian, dan menjawab permasalahan ummat manusia dengan Al-Quran. Terdapat juga ruang Auditorium, tempat ulama dan cendikiawan muslim menyampaikan hasil penelitian dan gagasan segar tentang keumatan dan didiskusikan oleh para pakar.

Sehingga diharapkan masyarakat dan pemerintah ke depan menjadikan pemikiran dan ilmu baru berbasis Al-Quran yang lahir dari STSQABM dijadikan rujukan dalam kebijakan dan pengamalan. Untuk itulah, STSQABM menyerukan agar Kaum Muslimin dan Muslimat ikut berlomba lomba bershadaqah merealisasi rencana yang sangat mulia ini.

Kita diingatkan oleh salah satu hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak yang shalih.” (HR. Muslim no. 1631).

Infaq/Donasi dapat disalurkan melalui Rek BNI Syariah No Rek: 8605130000009120. an “Donasi Pembangunan Shuffah Al-Quran”. (A/RI-1/RS2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)