Oleh Arif Ramdan, Jurnalis MINA, Penulis Buku “Jurnalistik Gak Ribet”
BEBERAPA bulan terakhir, media sosial Indonesia diramaikan oleh kemunculan sosok bernama Hajar. Melalui platform TikTok, perempuan berhijab ini tampil dengan pembawaan yang menenangkan. Cara bicaranya lembut, intonasinya terjaga, ekspresinya teduh, sementara pesan-pesan dakwah yang ia sampaikan terasa dekat dengan kehidupan generasi muda hari ini.
Melalui akun @nia.hajar_s, yang hingga pekan lalu telah diikuti lebih dari 1,1 juta pengguna dengan lebih dari 13 juta tanda suka, Hajar dengan cepat menarik perhatian publik. Banyak orang terpikat pada gaya komunikasinya yang terasa natural. Penampilannya meyakinkan, materi yang disampaikan tersusun rapi, dan semuanya tampak seperti sosok muslimah muda yang memang aktif berdakwah di ruang digital.
Namun publik kemudian dibuat terkejut. Hajar Ustazah Cantik itu ternyata bukan manusia nyata. Ia merupakan karakter virtual yang dibangun menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) dan dirancang untuk memproduksi konten dakwah secara otomatis melalui sistem generatif. Para pengamat media digital segera menyoroti fenomena ini. Secara teknis, hampir mustahil seorang manusia mampu tampil dengan konsistensi visual, ekspresi wajah, pola bicara, hingga ritme penyampaian yang seragam dalam setiap video yang diunggah secara terus-menerus.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Di titik inilah persoalannya menjadi jauh lebih besar dibanding sekadar perkembangan teknologi. Untuk pertama kalinya, publik mulai berhadapan dengan situasi baru ketika pesan-pesan keagamaan tidak lagi disampaikan manusia, melainkan diproduksi oleh mesin yang mampu meniru cara berbicara, ekspresi emosional, bahkan membangun kedekatan psikologis dengan audiens secara sangat meyakinkan.
Mesin dan Masa Depan Dakwah
Fenomena ini menandai perubahan besar dalam cara manusia memperoleh pengetahuan, termasuk pengetahuan agama itu sendiri. Apa yang selama ini dipahami sebagai proses komunikasi antara pendakwah dan jamaah perlahan mulai memasuki fase baru, ketika teknologi tidak lagi hanya menjadi medium penyampai pesan, tetapi mulai mengambil sebagian peran komunikator.
Dalam kajian Digital Religion, Heidi Campbell menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital secara perlahan mengubah cara manusia mengalami dan menjalankan praktik keagamaan. Internet bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan ruang baru tempat otoritas agama dibangun, diperdebatkan, bahkan dinegosiasikan ulang. Hari ini, banyak orang tidak lagi sepenuhnya belajar agama melalui guru, lembaga formal, atau institusi keagamaan tradisional, tetapi semakin sering melalui platform digital yang bekerja berdasarkan logika algoritma.
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Di satu sisi, perkembangan AI membuka peluang besar bagi masa depan dakwah. Teknologi ini memungkinkan literatur keagamaan diterjemahkan lebih cepat, membantu digitalisasi manuskrip keislaman, serta memungkinkan penyebaran materi dakwah menjangkau audiens global tanpa batas geografis. Dalam lanskap komunikasi modern, AI dapat menjadi alat yang membantu pesan-pesan agama hadir lebih dekat dengan generasi digital yang tumbuh bersama internet.
Namun setiap kemajuan hampir selalu datang bersama konsekuensi. Kecerdasan buatan pada dasarnya bekerja berdasarkan pengolahan data dan pola statistik, bukan pemahaman moral, pengalaman spiritual, atau tanggung jawab etis sebagaimana dimiliki manusia. AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, tetapi tetap berpotensi melahirkan kekeliruan ketika basis data yang digunakan tidak akurat atau bias sejak awal.
Di sinilah persoalan etika mulai menjadi penting. Ketika sebuah sistem AI menghasilkan ceramah atau menjawab pertanyaan keagamaan, publik semestinya mengetahui apakah mereka sedang berinteraksi dengan manusia atau dengan mesin. Transparansi menjadi prinsip mendasar agar teknologi tidak berubah menjadi alat manipulasi persepsi. Bahkan UNESCO dalam Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence tahun 2021 menegaskan pentingnya prinsip transparansi, akuntabilitas, serta pengawasan manusia dalam seluruh sistem AI.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah soal otoritas pengetahuan. Pengetahuan agama, sebagaimana seluruh tradisi keilmuan, tidak pernah sekadar kumpulan informasi. Ia lahir melalui proses belajar yang panjang, pengalaman intelektual, latihan berpikir, tanggung jawab moral, serta kemampuan menempatkan pengetahuan dalam konteks sosial yang tepat. Mesin mungkin mampu menghasilkan jawaban, tetapi ia tidak memiliki kebijaksanaan.
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Dalam beberapa tahun mendatang, generasi yang lahir dan tumbuh bersama AI kemungkinan akan semakin terbiasa menjadikan algoritma sebagai sumber utama informasi sehari-hari, termasuk dalam urusan agama. Pertanyaan yang dahulu diarahkan kepada guru, ulama, atau institusi keagamaan perlahan dapat berpindah kepada chatbot, avatar digital, atau sistem AI yang mampu merespons dalam hitungan detik. Pergeseran semacam ini berpotensi mengubah struktur otoritas keagamaan secara mendasar.
Karena itu, tantangan terbesar hari ini bukanlah menolak perkembangan teknologi, melainkan memastikan teknologi tetap berada dalam batas-batas etika. AI memang dapat membantu dakwah menjangkau lebih banyak orang, membuka akses ilmu yang sebelumnya terbatas, sekaligus membuat penyebaran pengetahuan berlangsung jauh lebih cepat. Tetapi tanpa pengawasan yang memadai, teknologi yang sama juga bisa melahirkan disinformasi keagamaan, manipulasi otoritas, bahkan komersialisasi agama yang sepenuhnya tunduk pada logika algoritma.
Pada akhirnya, masa depan dakwah tidak sedang dipertaruhkan oleh teknologi itu sendiri, melainkan oleh cara manusia memilih menggunakannya. Kecerdasan buatan mungkin dapat berbicara tentang agama dengan sangat fasih. Namun nilai-nilai seperti kebijaksanaan, integritas, tanggung jawab moral, dan kejujuran intelektual tetap menjadi wilayah yang sampai hari ini belum dapat digantikan mesin.
Di era ketika algoritma mulai berbicara tentang agama, pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa canggih teknologi berkembang, melainkan apakah manusia masih memiliki kesadaran untuk menimbang setiap pengetahuan yang diterimanya. Sebab sejak awal Al-Qur’an telah mengingatkan, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…” (QS Al-Isra: 36).
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
Teknologi boleh membantu manusia menemukan jawaban dengan lebih cepat, tetapi tanggung jawab untuk mencari kebenaran dengan kebijaksanaan tetap tidak pernah bisa diserahkan sepenuhnya kepada mesin. Allahu a’alam bisshawwab. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
















Mina Indonesia
Mina Arabic