Banda Aceh, MINA – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria mendorong perguruan tinggi mengambil peran strategis dalam pengembangan ekosistem kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Nezar saat menjadi pembicara kunci dalam seminar terbuka bertajuk Aceh dalam Peta AI Nasional: Infrastruktur, Talenta, dan Ekosistem di Auditorium Prof Ali Hasymi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Senin (2/11).
Perguruan tinggi dinilai memiliki posisi penting dalam menyiapkan talenta digital, mengembangkan riset, serta mendorong pemanfaatan teknologi AI untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Nezar menjelaskan, peta persaingan AI dunia mulai mengalami pergeseran. Jika sebelumnya kompetisi didominasi negara-negara besar yang berlomba mengembangkan model AI generasi terdepan (frontier AI), kini peluang juga terbuka melalui penerapan teknologi tersebut dalam berbagai sektor kehidupan.
Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban
Ia menilai Indonesia tidak harus memulai dari jalur yang sama. Keunggulan dapat dibangun melalui kecepatan mengadopsi AI untuk meningkatkan pelayanan publik, mendorong aktivitas ekonomi, dan menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
“Di perlombaan adaptasi, kita tidak start dari belakang. Kemenangan ditentukan oleh siapa yang paling berani memakai AI untuk pelayanan publik yang lebih manusiawi dan ekonomi yang lebih personal,” kata Nezar.
Dia menyebut empat aspek yang perlu diperhatikan Indonesia dalam membangun ekosistem AI, yakni akses terhadap teknologi dan kedaulatan digital, transformasi tata kelola pemerintahan, penguatan posisi dalam rantai nilai industri, serta kesiapan sumber daya manusia menghadapi perubahan dunia kerja akibat otomatisasi.
Nezar juga menekankan pentingnya memastikan masyarakat memiliki akses terhadap teknologi AI berkualitas tanpa ketergantungan pada satu penyedia teknologi. Selain itu, peningkatan keterampilan melalui program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan kompetensi (upskilling) diperlukan agar masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.
Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan PT Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) tentang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
MoU tersebut ditandatangani Rektor UIN Ar-Raniry Mujiburrahman dan Head of Circle Sumatra PT Indosat Ooredoo Hutchison Agus Sulistio.
Mujiburrahman mengatakan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri menjadi bagian penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia menghadapi transformasi digital.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan. Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, berpikir kritis, serta memahami aspek etika dan tanggung jawab dalam pemanfaatan AI.
Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS
Dia berharap kerja sama dengan Indosat dapat membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen untuk meningkatkan kompetensi digital, mengembangkan penelitian, serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dia menambahkan, UIN Ar-Raniry ingin mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab berbagai kebutuhan daerah, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, penguatan UMKM, pengembangan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Dengan kolaborasi tersebut, Aceh diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari transformasi digital nasional, tetapi juga mampu memberikan kontribusi melalui pengembangan riset dan inovasi yang diperhitungkan di tingkat nasional. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ketika Pintar dan Gelar Tak Menjamin Kebijaksanaan
















Mina Indonesia
Mina Arabic