Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sumpah Pemuda Beriman

Ali Farkhan Tsani - Senin, 23 Oktober 2017 - 14:22 WIB

Senin, 23 Oktober 2017 - 14:22 WIB

603 Views

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency) 

Tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia menyatakan Sumpah Pemuda. Isinya, Pertama, Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia. Kedua, Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia). Ketiga, Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.

Dampaknya sungguh sangat luar biasa. Ia seperti menjadi energi pemersatu bangsa, yang memperatukan perjuangan bangsa Indonesia ini dalam bertanah air, berbangsa dan berbahasa.

Baca Juga: Diplomasi Publik Israel

Contoh sederhana, bagi seorang da’i asal tanah Jawa misalnya, tatkala hendak berdakwah ke tanah Papua, Sulawesi, atau kawasan Bukit Barisan hingga ke ujung Sabang. Walau tak bisa dengan bahasa daerah setempat. Cukuplah dengan bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Bagaimanakah jika yang bersumpah itu adalah pemuda beriman, dan isi sumpahnya adalah untuk menjalankan syariat Allah di muka bumi ini? Untuk memberi warna kesejahteraan bagi semesta alam.

Cuplikan sejarah para pemuda beriman, yang bersikap sama menyatukan diri dalamkebulatan tekad menegakkan kebenaran, walau harus terasing sekalipun.

Allah meneguhkannya di dalam ayat:

Baca Juga: Sinyal-Sinyal Kehancuran Zionis Israel Semakin Nyata

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ( ) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا ( )

Artinya : “Kami kisahkan mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (QS Al-Kahfi  [18]: 13-14).

Sekelompok pemuda Ashabul Kahfi yang beriman kepada Allah, yang meyakini bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, mereka teguh di atas keyakinan yang benar tersebut. Meskipun mereka harus bertentangan dengan mayoritas kaum mereka yang berada dalam kesesatan, kedzaliman, kebatilan dan kesyirikan.

Para pemuda pada hakikatnya adalah orang yang mudah untuk menerima petunjuk dan kebenaran. Ini bukan berarti golongan tua tidak menerima kebenaran atau petunjuk. Tetapi hal ini merupakan satu kiasan bahwa sistem pendidikan dan pengajaran nilai-nilai Islam bermula sejak anak usia muda.

Para Nabi pada umumnya dari generasi muda dengan berbagai keunggulannya. Di antaranya Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dengan keberanian, tanggung jawab, kecerdasan dan kemahirannya beradu argumentasi secara logis dan sistematis.

Baca Juga: Gencatan Senjata Gaza: Jaminan dan Skenario Pascaperang

Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam dengan keilmuan, kebijaksanaan, kesabaran dan kejujurannya, yang akhirnya mengantarkan dirinya menjadi pemimpin yang disegani.

Pembicaraan al-Qur’an tentang pemuda menjadi pe­tunjuk bahwa masa muda merupakan masa yang paling menentukan bagi seorang hamba dalam meraih kebaikan dan kemuliaan.

Sampai dikatakan oleh Imam Al-Biqa’i bahwa pemuda pada kenyataannya adalah sosok yang lebih responsif menerima kebenaran, dan lebih mudah menerima petunjuk jalan, seperti yang dicontohkan oleh para pemuda yang tergolong dalam Ashabul Kahfi.          

Karenanya, Ibnu Qutaibah menyimpulkan, orang-orang beriman yang sukses adalah mereka yang dapat memanfaatkan masa mudanya untuk banyak beramal kebaikan. Sehingga, ketika memasuki usia lanjut pahala kebaikan mereka tidak berkurang, meski mereka tidak lagi mampu melakukan ketaatan seperti ketika usia muda dahulu.

Baca Juga: Peristiwa-peristiwa Bersejarah di Hari As-Syura

Perlindungan Pemuda

Masa muda dalam pandangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam me­rupa­kan masa bercocok tanam kebaikan. Banyak orang berasumsi, untuk berbuat baik nanti menunggu masa pensiun, masa tua baru bisa full time beribadah dan berjuang maksimal di jalan Allah.

Namun nyatanya, begitu usia jelita (jelang lima puluh tahun) lalu beranjak ke kepala 6. Mau maksimal, malah diselimuti dengan minyak angin, padahal sebelumnya minyak wangi. Masuk angin menjadi langganan, kaki kesemutan, darah tinggi, kolesterol, dan berbagai penyakit yang sebelumnya tersembunyi.

Jadi, ternyata justru kalau mau belajar, beribadah dan berjuang maksimal, ya ketika muda, bukan saat renta, usia sisa. Orang yang sukses memanfaatkan masa mudanya untuk beribadah kepada Allah menduduki tempat kedua setelah pemimpin yang adil dalam memperoleh naungan Allah pada hari kiamat kelak.

Baca Juga: Bahaya Sifat Egois

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebut di dalam sabdanya:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ…..

Artinya : “Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, (yaitu) : (1) Imam yang adil, (2) Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah…..” (HR Bukhari dan Muslim).

Mengisi waktu muda dengan kontribusi segala kebaikan sebelum tua menjelang, juga dipesankan oleh baginda Nabi.

إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَا بَكَ قَبْلَ هَرَ مِكَ ، وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَ غِنَا كَ قَبْلَ فَقْرِ كَ ، وَ فَرَا غَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ،وَ حَيَا تَكَ قَبْلَ مَوْ تِكَ

Artinya : “Gunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: (1) mudamu sebelum tuamu, (2) Sehatmu sebelum sakitmu, (3) kayamu sebelum miskinmu, (4) Lapangmu sebelum sibukmu, (5) Hidupmu sebelum kematianmu.” (HR Al-Hakim).

Baca Juga: Solidaritas Palestina sebagai Panggilan Jiwa Kemanusiaan

Pembela Kebenaran

Para pemuda dikenal sebagai para pembela kebenaran. Seperti pada tahun-tahun permulaan Islam, di Makkah dan Madinah. Para pemudalah yang lebih dulu menyambutnya dengan sepenuh jiwa raga.

Lihatlah bagaimana usia muda Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam (masing-masing 8 th) telah terlibat dalam perjuangan dakwah dan jihad. Ada juga Abdullah bin Umar (13 th),  Sa’ad bin Abi Waqash (17 th), Usamah bin Zaid (18 th), Zaid bin Haritsah (20 th).

Jadi, usia menengah SMP hingga SMU mestinya adalah masa-masa kaderisasi da’i-da’i, para pejuang kebenaran, khatib, ahli tafsir, qari’, dan sebagainya.

Baca Juga: Puasa Asyura 10 Muharram Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Muhammad Al-Fatih saat memimpin pasukan pembebasan Konstantinopel pun masih sangat belia, usia 23 tahun, Imam Asy-Syafi’i hafal Al-Quran pada usia sekitar 9 tahun dan mulai diminta ijtihadnya pada usia kira-kira 13 tahun.

Mereka adalah pemuda yang memiliki karakter khas, para pemuda pencegah kemungkaran dengan ketangguhannya, penjaga Kehormatan dengan kesalehannya, pemilik kebijaksanaan dengan keilmuannya, serta teladan dengan akhlaq mulianya.

Menukil pemikiran Dr. Syakir Ali Salim yang mengatakan, para pemuda Islam merupakan tumpuan umat, penerus dan penyempurna misi risalah Ilahiah. Perbaikan pemuda berarti adalah perbaikan umat. Oleh karena itu, eksistensinya sangat menentukan di dalam masyarakat. Kaderisasi para pemuda beriman menjadi keniscayaan, agar mereka dapat menegakkan kepala dan menyarakan suara Sumpah Pemuda Beriman, janji tekad dan komitmen dalam keimanan. (A/RS2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Negara-Negara Eropa terus Persenjatai Israel

Rekomendasi untuk Anda

MINA Preneur
Tausiyah
Sosok
Tausiyah