Taktik, Doa dan Wahyu di Kala Perang Badar

Oleh: Rudi Hendrik, wartawan MINA

Di malam menjelang Perang Badar, Allah Azza wa Jalla menurunkan hujan untuk mensucikan kaum Muslimin dan meneguhkan telapak kaki mereka di atas bumi. Allah Azza wa Jalla menjadikan hujan tersebut sebagai bencana yang besar bagi kaum musyrikin.

Tentang ini Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِذۡ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةً۬ مِّنۡهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذۡهِبَ عَنكُمۡ رِجۡزَ ٱلشَّيۡطَـٰنِ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِڪُمۡ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ

“(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu).” (QS. Al-Anfal [8] ayat 11)

Di antara nikmat Allah Azza wa Jalla kepada kaum Muslimin saat itu adalah Allah menjadikan para sahabat mengantuk sebagai penenteram jiwa.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membawa pasukannya mendekati mata air Badar mendahului orang-orang musyrik Quraisy agar musuh tidak bisa menguasai mata air.

Saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah menentukan satu posisi, Habab bin Mundzir radhiyallahu ‘anhu mengeluarkan pendapatnya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapat Anda tentang posisi ini? Apakah posisi ini diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla sehingga kita tidak boleh maju atau mundur? Ataukah ini hanya pendapat, siasat dan taktik perang saja?”

Rasulullah menjawab, “Ini hanya pendapat, siasat dan taktik perang saja.”

Habab lalu mengatakan, “Wahai Rasulullah, posisi ini kurang tepat, bawalah orang-orang ini ke sumur yang paling dekat dengan posisi musuh. Kita kuasai sumur itu lalu yang lainnya kita rusak. Kita membuat telaga besar lalu kita penuhi air. Kemudian baru kita perangi mereka, kita bisa minum sementara mereka tidak bisa.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada Habab, “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyetujuinya dan melakukannya.

Ketika sudah menguasai tempat yang ditunjukkan oleh Habbab, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dibuatkan tenda oleh para sahabat sebagai tempat bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla dan memantau jalannya peperangan.

Doa Rasulullah saat bertempur di Perang Badar

Setelah melakukan semua persiapan fisik yang memungkinkan untuk mewujudkan kemenangan di medan tempur, malam itu di kemahnya, Rasulullah memohon kepada Allah agar menolongnya.

Di antara doa yang beliau ucapkan adalah

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

“Ya Allah Azza wa Jalla, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim 3/1384 hadits no 1763)

Begitu khusyuknya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdoa. Doanya terus-menerus dengan menengadah tangan yang tinggi, sehingga selendang beliau jatuh dari pundak.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang dan mengambil selendang tersebut kemudian meletakkan kembali di pundak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Begitu tekunnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdoa, sampai-sampai Abu Bakar berkata membujuk, “Wahai Nabi Allah Azza wa Jalla, sudah cukup engkau bermunajat kepada Rabb-mu dan Allah Azza wa Jalla pasti akan memenuhi janji-Nya.”

Kemudian turunlah firman Allah QS. Al-Anfal ayat 9.

إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَڪُمۡ أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلۡفٍ۬ مِّنَ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ مُرۡدِفِينَ

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu ‘Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut’.”

Setelah itu, Abu Bakar memegang tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata, “Cukup wahai Rasulullah, engkau telah berkali-kali memohon kepada Rabb-mu.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam segera mengambil baju besi dan terjun ke medan tempur seraya membaca firman Allah QS Al-Qamar [54] ayat 45.

سَيُہۡزَمُ ٱلۡجَمۡعُ وَيُوَلُّونَ ٱلدُّبُرَ

“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Golongan manakah yang akan dikalahkan? Dan golongan apa yang akan dimenangkan?” Umar melanjutkan, “Tatkala perang Badar, aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerjang musuh dengan baju besinya, seraya mengucapkan ayat ini. Ketika itu tahulah aku maksud ayat ini.”

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku memperhatikan diri kami pada saat Badar. Saat itu, kami berlindung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau adalah orang yang paling dekat dengan musuh dan orang yang paling susah.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad 2/63)

Dalam riwayat lain diceritakan, “Ketika peperangan sudah berkecamuk, kami berlindung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau adalah orang yang paling menderita. Tidak ada seorang pun yang lebih dekat posisinya dengan orang musyrik dibandingkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada para sahabatnya saat perang Badar, “Janganlah sekali-kali ada salah seorang di antara kalian yang maju kepada sesuatu, sampai aku berada di dekat sesuatu itu.” (HR. Muslim)

Ibnu Katsir mengatakan, “Sungguh beliau telah berperang dengan sungguh-sungguh. Demikian pula Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana keduanya berjihad di tenda dengan berdoa, mereka juga keluar, memberikan motivasi untuk berperang dan mereka juga ikut berperang dengan fisik.” (A/RI-1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)