Tangkal Bahaya Laten Komunisme, Generasi Muda Diajak Pelajari Sejarah

Ketua Presidium Aqsa Working Group (AWG) M Anshorullah (kiri) saat menjadi pembicara Diskusi "Kebangkitan Komunisme dan PKI Mungkinkah?" di Masjid Ar-Royyan Tanjung Priok, Ahad (26/9/2021)(Foto: Rana/MINA)

Jakarta, MINA – Ketua Presidium Aqsa Working Group (AWG) M Anshorullah mengajak para pemuda Muslim agar tetap peka dan mempelajari sejarah kelam komunisme-PKI (Partai Komunis  Indonesia).

Menurutnya, generasi muda Muslim harus mampu mengembangkan intelektualnya dan harus bisa kritis untuk melihat peristiwa Gerakan 30 September (G30S)/PKI tahun 1965 sebagai peristiwa kelam yang bertujuan mengubah Indonesia menjadi negara komunis.

Pengkhianatan untuk merubah Pancasila itu dapat digagalkan oleh kekuatan-kekuatan Pancasilais terutama sekali oleh ummat Islam.

“Sebagai pemuda Muslim kita harus mempersiapkan diri untuk tantangan masa depan. PKI itu dahulu kala membuat kekacauan di negeri ini dan jangan sampai terulang kembali karena mereka mencoba untuk menghancurkan bangsa dan agama,” kata Anshorullah saat menjadi pembicara Diskusi “Kebangkitan Komunisme dan PKI Mungkinkah?” di Masjid Ar-Royyan Tanjung Priok, Ahad (26/9).

Selain waspada, Anshorullah juga meminta pemuda Muslim tetap tenang serta tidak berlebihan dalam merespon isu-isu yang dianggap berhubungan dengan kebangkitan komunisme-PKI.

“Jangan sampai kita terprovokasi dan terjebak pada pertentangan dengan saudara-saudara kita yang lain,” ujarnya.

Dia juga mengajak pemuda Muslim untuk selalu mengembalikan semua fenomena kepada Al-Quran dan AsSunnah.

Terkait kebangkitan PKI ini, Anshorullah menyatakan tidak sedikit juga pihak yang menganggap bahwa ada pihak-pihak yang berkepentingan dan menunggangi isu ini.

“Tentu untuk kepentingan mereka sendiri. Inilah yang berbahaya. Saya sendiri meyakini bahwa komunisme dan PKI akan sangat sulit bangkit dengan beberapa alasan,” katanya.

Menurutnya, isyu kebangkitan komunisme dan PKI saat ini menjadi bagian dari dinamika politik. Di satu pihak wacana ini menjadi alat untuk menyerang, sedangkan di pihak lain isu ini dipakai untuk memprovokasi masyarakat yang traumatis terhadap PKI yakni umat Islam untuk bereaksi.

“Seolah-oleh mempermainkan emosi umat Islam hanya demi kepentingan politiknya; membangun stigma umat Islam yang reaksioner dan halu,” kata Anshorullah.

Diskusi yang digelar Majelis Syubban Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Niyabah Jakarta Utara ini disiarkan secara langsung di Niyabah TV dihadiri para jamaah Masjid ArRoyyan dan para pemuda.

Acara diskusi ini sekaligus peluncuran Niyabah TV media informasi dan dakwah Jama’ah Muslimin Niyabah Jakarta Utara.

Naib Jama’ah Muslimin Jakarta Utara Ade Nuryaman mengingatkan kembali bahwa bangsa Indonesia pernah mengalami sejarah yang kelam akibat pengkhianatan dan kekejaman PKI terhadap para ulama dan santri.

Ditambahkan Ade, kegiatan diskusi khusus mengenai kebangkitan komunisme dan PKI yang ditujukan kepada para jamaah dan khususnya para generasi muda itu, bertujuan untuk membentengi diri dari pengaruh bahaya laten komunis.

“Menilik sejarah di masa lalu hendaknya dijadikan sebagai pelajaran berharga untuk setiap generasi, termasuk sejarah peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang dikenal sebagai peristiwa G30S/PKI,” pungkasnya.(L/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)