Teks Khutbah Idul Fitri 1440H: Idul Fitri Sebagai Momentum Memperkokoh Kesatuan dan Persatuan Umat Islam

Teks Khutbah Idul Fitri 1440H: Idul Fitri Sebagai Momentum Memperkokoh Kesatuan dan Persatuan Umat Islam

Oleh: Ir. Agus Priyono, M.S.; Amir Majelis Dakwah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

اَلْحَمْدُ لِله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ

مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا،مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَاللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

قال الله تعالى فى القران الكريم:  وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّى حِينٍ

فَـإِنّ  أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَـابُ اللهِ , وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّالْأُمُوْرِ مُحْدَثاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِى لنَّارِ

الله اكبر, الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد

 Hadirin kaum Muslimin Rahimakumullah,

Pada hari ‘Idul Fitri ini umat Islam di berbagai penjuru dunia serentak merayakan suatu hari kemenangan, yang kemudian dilanjutkan dengan saling bersilaturahmi untuk saling bermaaf-maafan. Oleh karena itu, ‘Idul Fitri hendaknya dijadikan sebuah momentum bagi umat Islam untuk mempererat dan memperkokoh tali persaudaraan, sehingga umat Islam menjadi umat yang bersatu, karena pada dasarnya muslim dengan muslim lainnya itu saudara, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun pernah bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam menjelaskan pula:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Orang mu’min terhadap orang mu’min itu tak ubahnya bagaikan suatu bangunan yang bagian-bagiannya saling kuat menguatkan.” (HR.Muslim).

Kalau kita melihat persatuan dan kesatuan masyarakat muslim di zaman Rasulullah sungguh sangat menakjubkan. Rasulullah telah membangun suatu masyarakat yang berada dalam persatuan dan kesatuan yang kokoh yang dilandasi atas dasar kecintaan dan tolong menolong. Suatu keistimewaan masyarakat muslim di zaman Rasulullah ialah kuatnya ukhuwah fi dinillah, mahabbah (kecintaan) dan tolong menolong di antara mereka, khususnya dalam kebaikan dan ketakwaan.

Rasulullah sangat menjaga kesatuan ummat Islam, bahkan masalah persatuan ini mendapatkan perhatian yang sangat besar bagi beliau. Apalagi ketika beliau berada di Madinah, Rasulullah mempererat tali ukhuwah antara kaum Muhajirin dan Anshar. Dengan demikian jelaslah bahwa beliau dan para sahabatnya telah mencontohkan wujud kesatuan umat yang utuh dengan ikatan persaudaraan.

Begitu juga dengan Shaum Ramadhan yang baru saja kita lalui, sesungguhnya pendidikan Ramadhan telah mengajarkan kepada kita tentang kesatuan umat yang harus dibangun.

Lihat saja syariat terlihatnya hilal sebagai ketetapan awal Ramadhan bagi muslimin sedunia, menandakan umat Islam jangan berbeda dalam pelaksanaan ibadah ini.

Demikian juga Perintah Shaum untuk semua umat para Nabi, “Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu…”. (QS. Al-Baqarah[2]:183). Penggalan ayat diatas dapat difahami bahwa dalam kewajiban bershaum ada makna kontinuitas atau keberlanjutan, dimana perintah shaum itu tidak hanya bagi umat Nabi Muhammad SAW saja, melainkan shaum itupun telah diwajibkan bagi  para Nabi dan umat-umat sebelumnya. Hanya tentang waktu dan aturanya saja yang berbeda, dari sini tampak bahwa Umat manusia itu dipandang oleh Allah SWT sebagai satu kesatuan.

Kesatuan juga di gambarkan pada prediksi kesamaan mengawali dan mengahiri shaum Ramadhan. Adanya perhitungan/hisab yang diprediksikan sama oleh para Ahli Hisab untuk beberap tahun kedepan menjadi potensi bagi Muslimin untuk dapat menumbuhkan semangat kesatuan dan persatuan sehingga mewujud pada Ukhuwwah Islamiyyah, untuk itu Kaum Muslimin diharapkan melalui bulan Ramadhan ini mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan tentang perintah berjama’ah sebagai wujud Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Jamaah Idul Fitri Rahimakumullah 

Bagaimana dengan kondisi umat saat ini? Kita sadari bahwa salah satu kelemahan ummat Islam selepas kepemimpinan Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyyin hingga saat ini adalah terbelahnya kesatuan dan persatuan umat. Padahal adanya kesatuan dan persatuan akan dapat menentukan masa depan dan sejarah ummat Islam itu sendiri.

Maka tanpa adanya persatuan, ummat Islam menjadi lemah, beramacam-macam coraknya dan terpisah-pisah potensinya, bahkan sebagian mencaci sebagian yang lain.  كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka.

Tanpa adanya kesatuan, sepertinya tidak dapat digambarkan bahwa ummat Islam ini akan bangkit kembali sebagai umat yang kuat dan unggul dalam berbagai bidang seperti yang pernah terjadi pada masa abad ke 7 Masehi. Ketika orang-orang Barat masih tidur dan masih lemah, orang-orang Islam telah mengalami kejayaan dan kekuatan, sehingga Islam tidak hanya berkuasa di Timur Tengah, tetapi Islam juga pernah menguasai sebagian daratan Eropa, seperti Spanyol dan lain-lainnya.

Tanpa ada kesatuan, muslimin di Palestina, di Myanmar, di Tiongkok tertindas, terampas hak-hak hidupnya hingga saat ini, tanpa kemampuan muslimin lainnya untuk menolongnya, hingga tanpa kejelasan kapan akan berakhir penderitaan mereka.

Tanpa ada kesatuan, muslimin di Suriah, di Libanon dan di Timur Tengah lainnya saling berperang, saling membunuh satu sama lain. Bukannya umat ini menjadi: Homo homini socius (manusia menjadi teman sesama manusia), tetapi malah menjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala manusia lainnya). Sungguh inilah bencana kemanusiaan terbesar di muka bumi. Allah telah mengingatkan dengan firman-Nya:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal {8} : 73).

Allah berlepas diri dari dampak perselisihan dan perpecahan yang terjadi di tengah umat ini, dengan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (QS. Al-An’am 159).

Jelaslah bahwa kesatuan umat adalah harga mati bagi muslimin dimanapun berada. Agar terhindar dari adzab Allah. Allah berfirman:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.”  (QS. Ali Imran: 105).

Persatuan dan kesatuan umat Islam dapat tercapai, baik di masa Rasulullah hingga masa Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyyin, karena mereka hanya berpedoman kepada ajaran Al-Quran dan As-Sunnah dan memahaminya sesuai dengan pemahaman yang benar. Pada saat itu tidak ada golongan-golongan, harakah-harakah dan firqoh-firqoh lainnya yang kita kenal saat ini.

Untuk kembali membangun kesatuan umat, dimanapun muslimin hendaknya memahami dan mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah secara konsisten. Perselisihan hingga perpecahan umat seringkali bukan karena perbedaan ayat Al-Quran dan As-Sunnah, melainkan karena perbedaan pemahaman terhadap ayat dan hadits tersebut akibat latar belakang  sosial politik serta tradisi yang menyelimuti kehidupan umat.

Maka sudah saatnya di era globalisasi dan keterbukaan ilmu dan teknologi mendorong umat untuk kembali kepada tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah secara konsisten sebagaimana generasi awal umat ini.

Tanpa kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah dan berusaha memahaminya dengan baik dan benar, sepertinya umat Islam saat ini sulit memiliki persatuaan dan kesatuan yang hakiki. Dengan memahami Al-Quran dan As-Sunnah secara benar, maka firqoh-firqoh, partai-partai, fanatisme golongan, dan lain sebagainya yang dapat membawa perpecahan ummat Islam itu tidak akan terjadi di antara kita.

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia,

Kalau kita lihat firman Allah dalam Al-Quran yang kita jadikan  pedoman dalam hidup kita, ummat Islam itu sesungguhnya merupakan ummat yang satu atau ummatan wahidah.وان هذه امتكم امة واحدة  – Sesungguhnya umatmu ini merupakan umat yang satu (QS. Al-Mu’minun:52).

Karena umat Islam itu merupakan umat yang satu, maka kesatuan umat Islam itu seharusnya merupakan kesatuan yang utuh ber-Jama’ah, sehingga tidak mudah dihancurkan oleh orang lain.

Masyarakat muslim di jaman Rasulullah betul-betul adanya rasa keterikatan, tolong menolong dan hormat menghormati satu dengan yang lainnya. Mereka tidak mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, tidak menganiaya tetangga, tidak berdusta, tidak berbohong, tidak menipu, dan tidak saling berbuat curang.

Masyarakat muslim saat itu betul-betul dihiasi oleh rasa cinta yang tulus, kasih sayang, kejujuran, amanah, berbuat baik antara anak dan orang tua dan saling hormat menghormati antara satu dengan yang lainnya. Mereka saling berkunjung, dan mengunjungi saudaranya yang sakit, saling menyampaikan salam jika bertemu, nasihat menasihati, saling menutupi ‘aib saudaranya dan saling menjaga kelemahan di antara kaum muslimin. Dengan demikian, terciptalah suatu masyarakat yang bersatu-padu, bagaikan bangunan yang tersusun rapi, saling menguatkan bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.

Hadirin Rahimakumullah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar  wa lillahil hamd,

Kita selaku umat Islam yang beriman dituntut oleh Allah untuk dapat mengamalkan dan menegakkan syari’at Islam sebagai syari’at yang diturunkan Allah kepada kita untuk mengatur kehidupan kita, baik dalam hubungannya dengan Allah dalam bentuk ibadah mahdhah, seperti sholat, zakat, shaum dan haji, juga dalam hubungannya dengan sesama manusia dalam bentuk mu’amalah, seperti tentang perekonomian, kemasyarakatan, pemerintahan, hukum dan lain-lainnya.

Kita selaku ummat Islam dituntut untuk dapat menerapkan syari’at Islam secara kaffah (menyeluruh)  dalam berbagai aspek kehidupan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu merupakan musuh yang nyata bagimu”. (Q.S. Al-Baqoroh; 208).

Tantangan kedua setelah perpecahan umat adalah praktik kehidupan Islami yang seharusnya diamalkan umat Islam. Pada ayat diatas mengandung arti bahwa kita selaku ummat Islam dalam menjalankan aktifitas sehari-hari harus berpedoman kepada syari’at  Islam yang telah ditetapkan Allah dalam Al-Quran, baik dalam menjalankan roda ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan,  hukum dan lain-lainnya.

Dan apabila masyarakat muslim hidupnya tidak berpedoman pada aturan-aturan Islam yang telah ditetapkan Allah, maka akan sirnalah hakikat Islam sebagai agama Allah, dan jangan mimpi ummat Islam menjadi ummat yang  berada dalam keadilan, kesejahteraan dan kedamaian, bahkan sebaliknya kejahatan, kemaksiatan akan merajalela di mana-mana. Namun, pada akhirnya, semua itu kembali kepada kita sendiri. Adakah keinginan pada kita untuk dapat menegakkan syari’at Islam secara kaffah atau mungkin kita akan tetap berada pada aturan main Yahudi dan Nashrani. Adakah keinginan di antara kita agar ummat Islam menjadi ummat yang unggul dan mengalamai kejayaan; adakah keinginan pada kita untuk menjadi ummat yang bersatu, berjama’ah, sehingga menjadi kuat dan tidak mudah digoyang oleh orang lain. Semua itu kembali kepada diri kita sendiri. Kalau ada keinginan, marilah kita  perjuangkan dengan mulai dari diri kita sendiri, sehingga cita-cita ummat Islam menjadi ummat yang berjaya dan unggul dapat tercapai dalam ridha Allah SUBHANAHU WATA’ALA. Amin.

Hadirin kaum Muslimin Rahimakumullah,

Jika umat Islam hidup ber-Jamaah dan ber-Imamah, serta mengamalkan nilai-nilai syariat secara konsisten, maka akan terbentuklah umat teladan di muka bumi ini atau khoiro ummah, sebagaimana firman Allah:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُون

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imran: 110).

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala di atas merupakan pernyataan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yakni kaum muslimin, sebagai umat yang terbaik di antara umat manusia di muka bumi karena kompak hidup berjama’ah tidak terpecah-belah. Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya mengutip sebuah hadits dari Bahz bin Hakim bahwa tatkala membaca ayat ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. bersabda:

أنتم تتمون سبعين أمة أنتم خيرها و أكرمها عند الله

“Kalian adalah penyempurna dari 70 umat, kalian yang terbaik di antara mereka dan termulia di sisi Allah” (HR. At Tirmidzi).

Menurut Imam Qurthubi dan Imam Ibnu Katsir, predikat tersebut sama dengan predikat ummatan wasathan  yang Allah sebut dalam firman-Nya:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah:143).

Jadi jelaslah bahwa selama umat Islam berpecah belah, ber-firqoh-firqoh, maka fitnah dan kerusakan umat akan terus terjadi, sementara saudara-saudara kita seakidah yang sedang mengalami penindasan, nasibnya terkatung-katung karena tidak terbangunnya kemampuan dan kepedulian sesama. Wallahu a’lam.

Hadirin kaum Muslimin Rahimakumullah,

Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya, dan sebagai penutup dari khutbah ini marilah kita bersama-sama memanjatkan do’a ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ بِالإِسْلاَمِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالإِيْمِانِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالْقُرْآنِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِشَهْرِ رَمَضَانَ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْمُعَافَاةِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِكُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمْتَ بِهَاعَلَيْنَا

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَاأَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

اَللَّهُمَّ إِنَّانَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ
وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ
وَعَمَلٍ

اَللَّهُمَّ أَعِنَّاعَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَاالْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَادُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إَلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍوَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُحَرِّرَ الْمَسْجِدَالأَقْصَى وَأَرْضَ فِلِسْطِيْنَ وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَائِرِ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

اَللهُمَّ أَعِزَّاْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُسْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ

رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذهَدَيْتَنَا وَهَبْ َنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَامِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

رَبَّنَا آتِنَافِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَالتَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِعَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

(AK/R01)

 

Mi’raj News Agency (MINA)