Tema dan Faedah Surat Al-Fatihah

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Surat Al-Fatihah ini diawali dengan sub tema aqidah, ibadah, dan metode beragama. Dimulai dengan tema aqidah seperti kalimat,

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

 “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,” (Qs. Al-Fatihah: 2). Ayat ini adalah isyarata kepada tauhid uluhiyyah dan juga tauhid rububiyyah.

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Fatihah: 3). Ayat ini adalah isyarat kepada tauhid Asma’ wa Sifat (nama-nama agung Allah dan sifat-sifat-Nya).

مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

“Yang menguasai di Hari Pembalasan.”  Ayat ini adalah isyarat keimanan kepada hari akhir.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”  (Qs. Al-Fatihah: 5). Ayat ini adalah isyarat tentang peribadahan seorang hamba.

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Qs. Al-Fatihah: 6-7). Ayat ini menerangkan kepada umat Islam bagaimana metode dalam beragama.

Faedah surat Al-Fatihah

Pertama, surat ini dimulai dengan kata “alhamdu” karena Allah Ta’ala memberikan nikmat dan karunia-Nya kepada para hamba-Nya sebelum mereka sendiri memintanya. Karena itu sudah sepantasnya sebagai hamba, setiap muslim memuji Allah. Bahkan Allah Ta’ala sendiri yang mengingatkan mereka (para hamba) untuk lebih banyak memujinya. Disebutkan dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya Tuhanmu menyukai puji-pujian.” (As-Silsilah Ash-Shahihah No. 3179).

Kedua, dalam surat Al-Fatihah ini disebutkan dua amalan hati yang sangat penting, yaitu; ikhlas (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah) dan tawakkal (dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan).

Ketiga, disebutkan pula dalam surat Al-Fatihah ini, pentingnya teman dan panutan yang shalih (Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka).”

Keempat, Isyarat kepada pentingnya persatuan umat ini; hal ini dapat dilihat dari firman-Nya, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan,”  ayat ini menggunakan ungkapan ‘kami’ dan bukan ‘saya’.

Kelima, kebutuhan manusia yang terus menerus akan hidayah dengan berbagai jenisnya (petunjuk, taufik, dan kekokohan). Setidaknya ada beberapa hidayah yang selalu dibutuhkan oleh manusia, antara lain sebagai berikut.

  1. Hidayah petunjuk (irsyad) seperti yang tertera di dalam firman Allah Ta’ala,

وَاِنَّكَ لَتَهْدِيْ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus,” (Asy-Syura: 52) yakni; sesungguhnya engkau wahai Muhammad menunjuki manusia kepada jalan yang lurus.

  1. Hidayah taufik, sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah,

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Qs. Al-Qashash: 56) yakni; sesungguhnya engkau Muhammad, tidak dapat membuat seseorang mendapatkan hidayah, namun hanya Allah-lah yang dapat memberikan manusia taufik untuk menerima kebenaran dan petunjuk.

  1. Hidayah kekokohan, sebagaimana yang tertera di dalam firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka.” (Qs. Muhammad: 17), yakni “menambah petunjuk kepada mereka” adalah mengokohkan mereka di atas petunjuk hingga setiap kali bertambah ketakwaan mereka maka bertambah kokoh mereka di atasnya. Oleh karena itu, Allah mewajibkan kita membaca doa tersebut disetiap shalat kita.

Keenam, Allah Ta’ala memulai firman-Nya di dalam al Qur’an dengan kata “alhamdu”, maka berikut ini sebagian dari keutamaan-keutamaan memuji Allah hingga kita dapat menyadari betapa pentingnya pujian kepada Allah di dalam kehidupan seorang hamba. Antara lain sebagai berikut.

– Sebaik-baiknya hamba Allah adalah orang-orang yang gemar memuji-Nya.

– Sebaik-baik doa adalah ucapan “Alhamdulillah.”

– Perkataan yang paling Allah cintai adalah “subhanallahi wa bihamdihi.”

– “alhamdu” adalah sebab kokohnya nikmat bagi seorang hamba dan juga sebab

bertambahnya nikmat tersebut.

Ketujuh, Allah Ta’ala berfirman,”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” Dalam ayat tersebut, penyebutan ibadah lebih dahulu daripada penyebutan permohonan pertolongan karena ibadah adalah jalan menuju pertolongan.

Kedelapan, surat Al-Fatihah dan surat Al-Baqarah juga surat Ali Imran mempunyai keterkaitan, berikut penjelasannya.

– Akhir surat Al-Fatihah “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus” berkaitan erat dengan awal surat Al-Baqarah “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; pentunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Akhir surat Al-Fatihah “…bukan (jalan) mereka yang dimurkai…”  Mereka adalah orang-orang Yahudi, maka setelahnya surat Al-Baqarah menjelaskan secara detail keadaan-keadaan mereka dengan Tuhan mereka. Kemudian disebutkan, “dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”  dan mereka adalah orang-orang Nashrani, maka surat Ali Imran menjelaskan secara detail bagaimana sikap-sikap mereka terhadap Tuhan mereka.(A/RS3/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)