Tenaga Medis di Gaza Perlu Keajaiban (Oleh: Hamza Abu Eltarabesh, Gaza)

Petugas medis di Gaza memprotes menuntut Israel menghentikan penargetan tenaga medis, 14 Juni 2019. Mereka membawa poster Muhammad Al-Judaili yang meninggal karena ditembak sniper Israel. (Photo by Ramez Haboub/APA Images)

Tidak seorang pun di Gaza yang dikecualikan dari menjadi target Israel. Keberuntungan adalah satu-satunya hal yang menyelamatkan siapa pun di sini dari terbunuh.

Seperti tenaga medis Muhammad Al-Judaili yang kehabisan keberuntungan.

Pada 3 Mei, ia bekerja di aksi Great March of Return, protes pekanan warga Palestina di Gaza untuk menuntut agar hak-hak pengungsi Palestina dihormati sepenuhnya.

Saat itu, dia berada di sebelah ambulans yang diparkir sekitar 100 meter dari pagar yang memisahkan Gaza dan wilayah pendudukan Israel ketika dia melihat seorang anak ditembak di lengannya.

Muhammad bergegas menuju anak itu, dengan maksud memberikan pertolongan pertama. Sebelum dia bisa melakukannya, Muhammad sendiri ambruk ke tanah. Penembak jitu Israel menembak hidungnya dengan peluru baja berlapis karet.

Dia segera dibawa ke Rumah Sakit Al-Quds di Gaza selatan, tempat dia sebelumnya bekerja. Setelah tiga pekan, ia dipulangkan sehingga ia bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarganya di kamp pengungsi Al-Bureij.

Ketika dia berada di apartemennya, Muhammad jatuh pingsan. Dia dibawa kembali ke rumah sakit. Jantungnya berhenti selama beberapa menit.

Meskipun dokter berhasil menghidupkan kembali jantungnya, ia tetap koma. Tim medisnya khawatir otaknya akan rusak akibat cederanya.

Pada 4 Juni, Muhammad dipindahkan ke Rumah Sakit Al-Ahli di Hebron, sebuah kota di Tepi Barat yang diduduki. Enam hari kemudian, dia meninggal. Usianya 36 tahun saat itu.

“Saya tidak pernah berharap menjadi janda dan memiliki beban membesarkan empat anak sendirian,” kata istrinya, Muna Shurrab. “Muhammad memiliki hati yang besar yang mencintai kami semua.”

Adel, putra Muhammad yang berusia 10 tahun, ingat bagaimana mereka pergi berbelanja bersama pada Hari Raya Idul Fitri.

“Kami sangat senang,” kata Adel. “Kami pikir kami memiliki kehidupan normal kembali.”

Razan Al-Najar, gugur saat membantu di aksi Great March of Return pada April 2019. Kematiannya mendapat pemberitaan media internasional. (Foto: Ashraf Amra/APA Images)

“Saya tidak pantas dibunuh”

Muhammad adalah petugas medis keempat di Gaza yang terbunuh sejak Great March of Return dimulai 30 Maret tahun lalu.

Satu pembunuhan terhadap petugas medis seperti itu – yaitu terbunuhnya perawat Razan Al-Najjar – mendapat liputan di media internasional.

Namun, kekerasan yang dilakukan oleh Israel pada petugas medis pada umumnya ditanggapi dengan ketidakpedulian oleh pemerintah Barat.

Kementerian Kesehatan Gaza berpendapat bahwa pembunuhan petugas medis disengaja. Juru Bicara Kementerian Ashraf Al-Qedra mengatakan, Israel membidik para korban “langsung di kepala atau dada.”

Petugas medis bernama Ahmad Abu Foul menyaksikan penembakan rekannya, Muhammad Al-Judaili. Kedua pria itu telah bekerja bersama pada banyak kesempatan.

Ketika Abu Foul terluka oleh Israel selama Operasi Cast Lead – serangan besar pada akhir 2008 dan awal 2009 – Muhammadlah yang memberinya pertolongan pertama.

Abu Foul sendiri telah terluka empat kali sejak Great March of Return dimulai tahun lalu. Satu pekan sebelum Muhammad menerima cedera fatalnya, Abu Foul ditembak di kakinya.

Terlepas dari bahaya yang dia hadapi, Abu Foul telah berjanji untuk melanjutkan pekerjaannya. “Itu tugas,” katanya. “Saya tidak pantas dibunuh karena melakukan apa yang saya lakukan.”

Dia juga bagian dari kru medis yang ditargetkan dengan rudal yang ditembakkan dari pesawat tak berawak Israel selama serangan 51 hari di Gaza pada 2014.

“Adalah keajaiban bahwa kami selamat,” katanya.

Keberanian

Ali Saqir, seorang pemilik toko sepatu, adalah tetangga dan teman dekat Muhammad Al-Judaili. Dia mengingat keberanian Muhammad selama serangan Israel tahun 2014.

Ketika Kamp Al-Bureij datang di bawah tembakan Israel, Saqir memanggil Muhammad untuk meminta bantuan dalam mengevakuasi penduduknya. Meskipun Muhammad bekerja di bagian lain Gaza pada waktu itu dan perjalanan darat sangat berbahaya, dia bersikeras membawa ambulans ke Al-Bureij sehingga dia bisa membantu tetangganya.

Pada hari lain selama serangan 2014, Muhammad bekerja di daerah Beit Hanoun di Gaza utara. Israel telah menghancurkan rumah-rumah di daerah itu dan banyak dari mereka yang mengungsi berkumpul di sekitar ambulans dengan putus asa.

Pasukan Israel memerintahkan agar orang-orang menjauh dari ambulans. Tapi Muhammad tidak mematuhi perintah dan pergi dengan cepat membawa ambulans yang penuh dengan orang.

Ketika ambulans berangkat, pasukan Israel menembakkan rudal ke arahnya. “Untungnya, Muhammad berhasil berbelok dan dia selamat, bersama para penumpangnya,” kata Saqir.

“Pertama kali saya merasa tidak berdaya”

Peringatan lima tahun serangan 2014 membawa kembali kenangan menyakitkan bagi petugas medis Gaza.

Secara total, 23 petugas kesehatan Palestina terbunuh dalam serangan itu, 16 di antaranya gugur saat bertugas. Para petugas medis yang selamat, dalam banyak kasus, harus menghadapi duka cita.

Seperti Basem Al-Batsh yang bekerja untuk Departemen Pertahanan Sipil Gaza. Menjelang sore 29 Juli 2014, ia menerima telepon yang mengatakan bahwa Israel membombardir kamp pengungsi Jabaliya, tempat ia tinggal.

Basem berangkat pulang ke rumahnya. Namun ketika dia sampai di pintu masuk lingkungannya, tidak mungkin menjelajah lebih jauh lagi.

Ia mengatakan bahwa Israel menembakkan rudal pada semua yang bergerak.

“Saya bisa melihat keluargaku berlari di jalan, melarikan diri dari rumah,” katanya.

Keluarga besar Al-Batsh tinggal di gedung bertingkat. Ketika mereka mencoba melarikan diri, pasukan Israel menyerang mereka.

Lima anggota keluarga terbunuh. Di antara mereka adalah ibu Basem, Halima. “Saya menyaksikan ibuku sekarat,” katanya. “Pada saat itu, saya merasa Israel juga membunuhku.”

Begitu dia merasa cukup aman untuk bergerak, Basem mengambil tubuh ibunya dan meletakkannya di ambulans.

“Saya duduk di kursi depan dan tidak bisa melihat ke belakang kepada tubuh ibuku,” katanya. “Itu adalah pertama kalinya saya merasa tidak berdaya. Saya seorang paramedis dan pembela sipil, yang tidak bisa menyelamatkan nyawa ibunya.” (AT/RI-1/R01)

 

Sumber: The Electronic Intifada

 

Mi’raj News Agency (MINA)