Teror Maut di Nice

Oleh: Illa Kartila – Redaktur Senior Miraj Islamic News Agency (MINA)

Pesta kembang api memperingati Hari Bastille – yang menandai Revolusi Perancis dan kelahiran demokrasi di negara itu – baru saja usai di Nice, dan warga kota  yang berkumpul di Promenade de Anglais siap-siap untuk pulang ketika sebuah truk melaju dengan kencang ke arah kerumunan orang-orang itu dan menggilas mereka tanpa ampun.

Dilaporkan dalam serangan maut yang terjadi malam hari dan disebut Walikota Nice, Christian Estrosi, sebagai ‘tragedi terparah’ yang pernah menimpa kotanya,  sedikitnya 84 orang tewas dan puluhan lainnya terluka.

Menurut Damien Allemand, jurnalis media Nice-Matin seperti dikutip Fox News, tiba-tiba terdengar suara keras dan teriakan. “Hanya dalam hitungan detik, sebuah truk besar berwarna putih muncul dalam kecepatan luar biasa. Pengemudinya memutar roda agar menabrak sebanyak-banyaknya orang.”

“Saya melihat tubuh-tubuh manusia yang terlempar seperti pin bowling. Terdengar suara-suara, teriakan, tangisan yang tak mungkin saya lupakan seumur hidup. Tolong ibu saya, tolong,” seseorang berteriak dan menangis keras. Ada sebuah sepeda merah muda dalam kondisi rebah tak jauh dari tempatnya berada.

Saat keluar dari rumah makan – tempat dia berlindung dari aksi teror tersebut – Allemand melihat jasad-jasad bergelimpangan. Juga darah yang berceceran dan bagian tubuh manusia. “Malam itu bagaikan horor.”

Saksi mata lainnya, Wassim Bouhlel, mengaku melihat saat truk besar  – yang kemudian diketahui berisi senjata dan granat – melaju menuju kerumunan. Ia mengaku menyaksikan pengemudinya membawa senapan kala itu dan mulai memuntahkan peluru.

Seorang wanita asal Inggris yang tidak mau disebut namanya, sedang berjalan ke balkon ketika truk melaju kencang menceritakan kekacauan dan kebingungan dari orang-orang di sekitar lokasi. ”Beberapa orang tewas tergeletak di jalan-jalan dan orang-orang berlari di atas mayat.”

Seorang saksi bernama Antoine mengatakan kepada koran Nice-Matin, perihal laju truk maut tersebut. ”Kami berada di pantai Neptunus dan (pesta) kembang api baru saja selesai. Itu adalah ketika kita melihat sebuah truk putih berjalan dengan kecepatan 60-70 kilometer per jam.”

Saksi lain Colin Srivastava mengatakan kepada BBC, “Kami sedang duduk di depan kota tua di Nice dan melihat beberapa ratus orang berjalan ke arah kami dengan panik. Kami mencoba  bertanya kepada mereka apa yang sedang terjadi dan akhirnya seseorang mengatakan, ‘Anda harus pergi, polisi telah menyuruh kami untuk lari.’”

Zeynep Akar, saksi lainnya, mengatakan kepada CNN, bahwa ada kerumunan orang berbaris hampir 200 meter di sepanjang jalan, dan pengemudi truk langsung menabrakkan kendaraannya dari satu ujung ke ujung lainnya. “Orang-orang yang terluka telah dievakuasi dari tempat kejadian, tetapi para korban yang tewas masih berada di sepanjang jalan.”

Aksi ISIS?

Kejaksaan Agung di Paris akan menyelidiki insiden tersebut sebagai kasus terorisme.Pengemudi truk telah ditembak mati aparat. Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan teror tersebut. Namun, diyakini kalangan ekstremis berada di belakangnya, termasuk ISIS.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Fox News bahwa serangan itu sejalan dengan situasi ISIS, yang kian ‘kurang ajar’ di bawah tekanan militer internasional di Irak dan Suriah. Dua sumber antiteroris yang memonitor sosial media juga menyebutkan, akun terkait ISIS ‘bersorak’ atas serangan teror tersebut dan meminta pengikutnya untuk menggunakan tagar #Nice.

Sopir truk maut Mohammed Lahouaiej Bouhlel rupanya menyewa truk tersebut dari sebuah rental. Ia memilih kendaraan terberat – 19 ton –  dari rental untuk dikemudikan pada 11 Juni dan berjanji mengembalikan kendaraan itu Rabu (13/7). Tetapi hari Kamis (14/7) malam justru menabrakkannya ke kerumunan orang pada perayaan Bastille Day.

Manajer rental,  Kalashinov mengatakan pria berusia 31 tahun warga Perancis keturunan Tunisia  itu menggunakan kartu kredit dan SIM untuk dapat meminjam truk. “Kami hanya menyewakan truk di sini, bukan senjata. Kami semua sangat terkejut.”

Pada Kamis itu, Bouhlel memarkir kendaraannya di jalan pinggiran kota, di dalam barisan untuk pesta kembang api selama sekitar sembilan jam. Ketika ditanya polisi, ia mengaku mengantarkan es krim.

“Prancis kembali jadi sasaran serangan teror,” kata Presiden Prancis Francois Hollande. “Namun sejauh ini belum diketahui, apakah pengemudi truk melakukan serangan sendirian atau ada kelompok di belakangnya.”

Menurut laporan, pria tersebut dikenal polisi dalam kasus kriminal ringan, tetapi tidak dikategorikan sebagai potensial melakukan serangan teror. Akibat serangan di Nice itu, Presiden Hollande menyatakan akan memperpanjang situasi darurat yang masih diterapkan di Prancis hingga tiga bulan mendatang.

Dia menuduh kelompok teror ISIS yang bertanggung jawab atas insiden maut itu. Hollande seperti dikutip The Telegraph berjanji akan memperkuat peran Perancis dalam memerangi kelompok teror tersebut. Karenanya dia akan mengirimkan militer untuk memerangi ISIS di Irak dan Suriah. “Tidak ada yang bisa membuat kita menyerah memerangi terorisme.”

Solidaritas bagi Perancis

Sejumlah pemimpin negara mengecam serangan tersebut dan menyatakan solidaritas bagi rakyat Perancis. Kanselir Jerman Angela Merkel menyampaikan bela sungkawa terhadap keluarga korban dan kecaman terhadap serangan teror. Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menyebutnya “serangan teror mengerikan”, karena serangan terjadi pada Hari Bastille.

Dalam pidatonya, Obama juga menawarkan bantuan kepada pemerintah Perancis yang saat ini tengah melakukan investigasi terhadap insiden tersebut. “Atas nama rakyat Amerika, saya mengecam keras serangan teroris mengerikan di Nice, Perancis yang membunuh dan melukai puluhan warga sipil.”

Obama menambahkan, bangsa Amerika akan tetap berdiri bersama Perancis, salah satu sekutu terdekat AS, di saat negeri itu merespon tragedi ini. “Kami tahu Republik Perancis memiliki karakter dan akan tetap bertahan jauh setelah tragedi mengerikan itu.”

Calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton dan saingannya Donald Trump dari Partai Republik juga mengecam serangan teror di Nice. Clinton menyatakan, “Semua warga AS bersolidaritas dengan rakyat Prancis, dan menyatakan dengan suara bersama: Kita tidak akan bisa diintimidasi.” Sementara Donald Trump menyatakan ini situasi perang.

Pernyataan duka dan solidaritas juga disampaikan petinggi Uni Eropa. Presiden Dewan Eropa Donald Tusk menyatakan terkejut dan syok karena Prancis diserang pada hari nasionalnya, dan menyerukan dunia untuk bersatu menyokong Perancis. “Ini sebuah paradoks tragis, bahwa korban adalah mereka yang merayakan kebebasan, persamaan dan persaudaraan.”

“Pemerintah Indonesia pun mengutuk keras peristiwa tersebut dan menyampaikan rasa simpati serta duka cita kepada keluarga korban,” kata pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri RI.

Pascaperistiwa itu, Menlu Retno LP Marsudi telah memerintahkan Konjen RI di Marseille untuk memastikan apakah ada WNI yang turut menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Hasil penelusuran sejauh ini, belum ada laporan terkait adanya WNI yang menjadi korban.

“Namun demikian KJRI Marseille terus melakukan koordinasi dengan otoritas setempat, melakukan penelusuran ke tempat-tempat perawatan korban serta menghubungi WNI yang tinggal di Nice dan sekitarnya,” katanya.

Seperti adegan horor, truk itu melaju ratusan meter, menabrak kerumunan orang yang baru saja  selesai menyaksikan atraksi kembang api perayaan Bastille Day. “Truk itu seperti memotong arus manusia,” ujar anggota parlemen lokal, Erik Ciotti.

Seorang saksi mata, Frank Sidoli melihat langsung bagaimana truk itu melaju dan menabrak orang. “Saya melihat orang-orang berjatuhan. Kemudian truk dihentikan, kami berada hanya lima meter dari truk tersebut.

Seorang wanita ada di sana, dia kehilangan akal. Anaknya tergeletak di tanah, mengalami perdarahan. Teror kerap mengorbankan orang-orang yang tak berdosa dan tidak tahu apa-apa. (R01/P001)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)