UMI Makassar- Institut Leimena Gelar Webinar Bahas Peran Penting “Pesantren Mahasiswa” Perkokoh Kerukunan Umat Beragama

Makassar, MINA – Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar dan Institut Leimena menggelar Webinar Internasional dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang dilaksanakan pada Kamis malam (28/10).

Kegiatan bertema “Moderasi Beragama dan Toleransi Keberagaman Melalui Pesantren Mahasiswa: Membangun Kebangsaan dan Kemanusiaan Melalui Literasi Keagamaan Lintas Budaya” ini didukung Templeton Religion Trust.

Kegiatan menghadirkan Pembicara Kunci Prof Dr Ir H Muh Hattah Fattah MS, Wakil Rektor V Bidang Kerja sama dan Promosi UMI, serta  narasumber lainnya adalah Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Muhammad Suaib Tahir, Dr Chris Seiple (Senior Research Fellow, University of Washington), dan dr Ni Made Ayu Masnathasari SKed Alumnus FK UMI.

Webinar dipandu atau dimoderatori oleh Dr H M Ishaq Shamad MA Kepala UPT Pengembangan Karakter dan Dakwah UMI.

Pembicara kunci, Prof Dr Ir H Muh Hattah Fattah membahas peran penting “Pesantren Mahasiswa” dalam memperkokoh kerukunan antar umat beragama yang beragam di Indonesia.

Hattah mengatakan, webinar ini bertujuan untuk memahami pentingnya moderasi beragama dan toleransi keberagaman dalam membangun kebangsaan dan kemanusiaan. Selain itu, peranan pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya dan program “Pesantren Mahasiswa” UMI dalam ikut memperkuat landasan moderasi beragama dan toleransi keberagaman tersebut.

“Malam ini kita mendapatkan khasanah yang luar biasa bagaimana mewujudkan secara konkrit tentang moderasi beragama dan toleransi keberagaman. Saya berharap pertemuan ini tidak sampai di sini tapi kita akan lanjutkan dengan kegiatan-kegiatan yang konkrit sehingga persoalan moderasi beragama itu betul-betul dapat dirasakan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, perguruan tinggi pertama yang menyambut mahasiswa baru dengan program pesantren kilat. Program ini dicetuskan sejak tahun 90-an.

Setiap mahasiswa baru wajib mengikuti program ini selama tiga hari di pondok pesantren Darul Mukhlisin Padanglampe, Pangkep yang bertujuan menyambut mahasiswa dengan pendekatan spiritual.

Disadari bahwa mahasiswa yang masuk di UMI berasal dari lembaga pendidikan/sekolah yang berbeda-beda, dan dari tahun ke tahun menunjukkan semakin rendahnya pemahaman/pengetahuan dasar tentang Islam, serta makin tipis kesadarannya tentang akhlaqul karimah.

Sementara itu, Muhammad Suaib Tahir membahas pentingnya mengembangkan moderasi beragama dan toleransi keberagaman dalam pendidikan untuk ikut mencegah masuknya paham-paham radikal.

Ekstrimisme itu sebenarnya ada sebagai musuh negara dan juga agama oleh karena itu saya yakin bahwa salah satu upaya untuk mencegah ini terjadi di tengah-tengah masyarakat kita adalah bagaimana kita meningkatkan atau menyebarkan nilai dan pesan tentang moderasi beragama.

Dia menekankan tidak ada kerukunan agama yang membolehkan kekerasan dan tidak ada satupun agama yang memerintahkan tentang kekerasan semuanya mengajak kepada perdamaian. “Oleh karena itu saya berharap dengan kegiatan moderasi beragama ini dapat menekan penyebaran paham-paham radikal masyarakat kita lebih baik,” imbuhnya.

Dr Chris Seiple menjelaskan konsep Literasi Keagamaan Lintas Budaya, beserta latar belakang dan visinya, dengan penekanan pada kompetensi dan skill yang perlu dikembangkan.

“Saya sangat setuju bahwa terorisme adalah musuh peradaban. Ekstrimisme itu ada sayangnya di semua tradisi keagamaan dan tanggung jawab bagi orang-orang beragama lah untuk bisa mengatasi ini,” katanya.

dr Ni Made Ayu Masnathasari menceritakan pengalamannya sebagai mahasiswa kedokteran dengan latar belakang agama Hindu di UMI.

“Bagaimana kita menerima perbedaan itu sehingga perbedaan itu menjadi sesuatu yang indah kemudian menjadikannya akhir kedamaian yang dapat memperkuat persatuan kesatuan kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,” pungkasnya.(L/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)