Tel Aviv, MINA – Sebuah video yang menampilkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang memesan kopi di sebuah kafe memicu kontroversi di media sosial setelahGrok AI menyebut rekaman tersebut sebagai hasil rekayasa digital atau deepfake.
Video yang beredar luas pada Ahad (15/3) itu memperlihatkan Netanyahu duduk santai di sebuah kedai kopi di Tel Aviv sambil memegang secangkir kopi dan berbicara kepada kamera. Dalam rekaman tersebut, ia tampak menanggapi rumor yang beredar di media sosial tentang kabar kematiannya dengan nada bercanda.
Dalam potongan video tersebut, Netanyahu bahkan melontarkan pernyataan bernada sarkastik terkait isu yang beredar. Ia menggunakan ungkapan dalam bahasa Ibrani yang secara harfiah berarti “mati demi sesuatu”, yang dalam percakapan sehari-hari bermakna sangat menyukai sesuatu.
Pernyataan itu dimaksudkan untuk menepis spekulasi yang berkembang di dunia maya.
Baca Juga: Israel Culik 28 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Jurnalis Al Jazeera
Namun, alih-alih meredam rumor, video tersebut justru memicu polemik baru setelah chatbot AI Grok di platform X menyatakan bahwa rekaman itu merupakan deepfake atau hasil manipulasi kecerdasan buatan. Dalam tanggapannya, Grok menyebut video tersebut sebagai rekayasa digital tingkat tinggi yang tidak merepresentasikan kejadian nyata.
Kontroversi ini muncul di tengah maraknya teori konspirasi terkait kondisi Netanyahu. Sebelumnya, warganet juga memperdebatkan sebuah video lain yang memperlihatkan kejanggalan visual, termasuk dugaan jumlah jari yang tidak wajar, yakni anomali yang sering muncul pada konten yang dihasilkan oleh teknologi AI generatif.
Isu tersebut semakin memanas karena sempat beredar kabar bahwa Netanyahu meninggal atau melarikan diri ke luar negeri setelah meningkatnya ketegangan konflik regional yang melibatkan Israel, Iran, dan sekutunya.
Kekosongan aktivitas di akun resmi pemerintah Israel selama beberapa waktu juga memperkuat spekulasi di kalangan pengguna media sosial.
Baca Juga: Sedikitnya 234 Pemukim Israel Serbu Halaman Masjid Al-Aqsa
Fenomena ini menunjukkan bagaimana perang informasi di era kecerdasan buatan semakin kompleks. Para analis menilai teknologi deepfake kini membuat publik sulit membedakan antara rekaman asli dan rekayasa digital, terutama di tengah konflik geopolitik yang memicu banjir informasi dan disinformasi di internet. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Empat Warga Palestina Syahid dalam Pelanggaran Terbaru Israel di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic