Virus Corona dan Sentimen Rasis (2)

Oleh : Taufiqurrahman, wartawan MINA

Wabah Coronavirus masuk status darurat. Saat artikel ini ditulis, sudah 1363 orang meninggal karenanya. Sepekan yang lalu, saat bagian pertama “Virus Corona dan Sentimen Rasis” ditulis, tercatat 564 korban jiwa. Jumlah yang terjangkit kini mencapai 42.500 orang di seluruh dunia. Meningkat hampir 100 % dibanding empat hari lalu, 59.651 kasus.  Artinya Corona telah membunuh lebih dari 100 orang dan menjangkiti lebih dari 2000 orang setiap harinya.

Jumlah ini sudah melampaui jumlah kematian akibat SARS secara global yang mencapai total 777 orang dari 9.098 kasus. Virus MERS mematikan 22 orang dari 44 kasus yang terjadi di Arab Saudi.

Corona sudah menyebar di 26 negara. Bukan tidak mungkin Corona menyebar lebih luas dan memakan korban lebih banyak jika penanganan kasus ini tidak menggunakan cara-cara yang luar biasa dan kerjasama dunia internasional.

Semua potensi harus dikerahkan dengan maksimal. Tugas mereka berupaya menghentikan penyebaran virus ini dan berjuang menyembuhkan mereka yang terjangkit. China sudah sangat terbuka mengungkap perkembangan investigasi kasus ini. Mereka menyambut baik berbagai bentuk bantuan.

Bantuan secara kolektif dan individu mulai berdatangan. Sejumlah organisasi internasional menyatakan siap. WHO, Uni Eropa dan ASEAN diantaranya. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Arab Saudi dan Indonesia siap turun tangan. Demikian halnya perusahaan-perusahaan besar dunia. Bahkan warga Arab di China menawarkan diri menjadi relawan tenaga medis. Ada juga yang menyumbang 11 kudanya. Di Hongkong sejumlah warga suka rela mengirim masker.

Langkah demikian harus segera diikuti negara-negara maju. Mereka yang unggul dalam sains teknologi di bidang kesehatan harus menjadi yang terdepan menangani kasus ini. Jangan biarkan China berdiri sendiri menghadapinya. Jangan sampai bertambah korban jiwa.

Wabah Corona murni krisis kemanusiaan yang membutuhkan solidaritas dunia untuk menghadapinya. Segala sentimen negatif terhadap China tidak boleh muncul dalam kasus ini. Singkirkan dulu kebencian terhadap China. Warga China bukan virus. Semua harus bergerak membantu atas nama kemanusiaan.

Di sisi lain apa yang dialami komunitas China di Kanada dan Italia berupa pelarangan siswa China masuk sekolah dan pelecehan etnis China oleh surat kabar Prancis Le Courier Picard nyata-nyata aksi rasis. Laknat dan suka cita sejumlah orang di Indonesia yang menganggap China layak merasakan musibah itu bentuk rasis lainnya. Semua adalah bentuk anti solidaritas kemanusiaan. Gerakan yang harus dihentikan.

Sekali lagi kasus Corona tidak boleh melebar menjadi masalah baru akibat sikap waspada berlebihan terhadap warga China. Ulah rasis dalam bentuk apapun tidak dapat dibenarkan. Dengan alasan apapun. Kepada siapapun.

(RA 02)