Virus Corona dan Sentimen Rasis

Oleh: Taufiqurrahman, Redaktur Kantor Berita MINA Edisi Arab

Sangat disayangkan, wabah virus Corona mulai menjangkiti jiwa banyak orang. Meski secara fisik tubuh mereka negatif Corona.

Gejalanya berupa sentimen rasis terhadap etnis China. Sejumlah kasus rasis dilaporkan terjadi di beberapa negara Eropa. Di Prancis warga keturunan Tionghoa marah karna surat kabar lokal Le Courier Picard memajang berita utama ” Alerte jaune ” (Waspada Kuning) dan ” Le péril jaune? ” (Bahaya Kuning?), dilengkapi foto perempuan China memakai masker pelindung.

Di Kanada komunitas China juga jadi sasaran rasis. Sejumlah orang tua siswa, di York, pinggiran kota Toronto, mengedarkan dan menandatangani petisi daring melarang siswa yang baru kembali dari China masuk sekolah. Kasus serupa terjadi di Italia.

Di Indonesia, Penulis perhatikan, gejala rasis muncul akibat kasus Corona. Meski baru di media sosial namun cukup meresahkan. Bukan tidak mungkin jika dibiarkan kejadian seperti di Eropa bisa terjadi di Indonesia.

Ujaran kebencian mengarah kepada ungkapan-ungkapan rasis tersebar di medsos seiring dengan semakin merebaknya kasus virus Corona. Alih-alih turut prihatin terhadap para korban yang mayoritas menimpa warga China, justru senang karena memandang kasus tersebut sebagai adzab bagi China.

Kebencian terhadap rezim China yang diskriminatif terhadap etnis Uighur jadi dalih umpatan sial yang layak bagi China. Tanpa membedakan antara warga dengan pemerintahnya. Tanpa membedekan antara isu kemanusiaan dengan isu politik.

Padahal diantara korban Corona terdapat wanita tua, anak dan bahkan bayi baru lahir. Yang tentu bukan pelaku diskirminasi terhadap etnis Uighur. Layakkah mereka turut memperoleh umpatan karma? Pantaskah kita senang di atas penderitaan mereka ?

Bahagiakah hati anda menyaksikan bayi perempuan berusia 9 bulan mengulurkan tangannya dari balik kaca hendak memeluk sang ayah namun tak sanggup karena terjangkit Corona?

Oleh WHO kasus Corona masuk darurat internasional. Tercatat 26 negara terjangkiti Corona. Hingga artikel ini ditulis sebanyak 28018 kasus ditemukan. Dan 564 korban meninggal. Dari data korban jiwa, hanya dua orang yang bukan merupakan warga Negara China.

Sejumlah pihak terkait berjuang bersama-sama menanganinya. Pemerintah China tentu tidak sanggup mengatasinya sendiri. Mereka sangat butuh dukungan internasional. Tidakkah kita semua peduli ?

Penanganan tidak boleh hanya berhenti pada karantina dan pemberhentian jalur transportasi dari dan ke China. Langkah tersebut hanya memperlambat penyebaran virus. Semua harus aktif menemukan solusi menghabisi virus ini hingga tuntas. Serta menyembuhkan mereka yang terjangkiti. Jangan lagi ada korban !

Kasus Corona tidak boleh melebar menjadi masalah baru akibat sikap waspada berlebihan terhadap warga China. Ulah rasis dalam bentuk apapun tidak dapat dibenarkan. Dengan alasan apapun. Kepada siapapun.

Penjelasan pola penyebaran virus ini harus massif. Jauh lebih gencar dari hoax-hoax seputar Corona. Solusi bijak pencegahan dan penanganan di setiap negara harus jelas diterima warga secara merata. Etnis China bukan virus. Mereka manusia dengan hak-hak yang sama seperti yang lain. Menjauhi semua orang keturunan Tionghoa bukanlah cara mencegah penyebaran virus. Stop rasis ! (RA 02/P1)