Washington, MINA – Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengakui adanya kesalahan dalam penanganan perang melawan Iran, khususnya soal penempatan pasukan di kawasan Timur Tengah. Pengakuan itu disampaikan dalam sebuah forum yang disiarkan CBS News, Senin (19/10).
Pernyataan tersebut muncul setelah Vance ditanya Joey Amor, suami Sersan Mayor Nicole Amor, personel AS yang tewas dalam serangan di sebuah pangkalan militer di Kuwait.
Joey menyebut drone Iran memang senjata yang merenggut nyawa istrinya, tetapi menurutnya ada banyak kegagalan mendasar yang membuat serangan itu bisa terjadi. Vance menjawab bahwa informasi terkadang tidak sampai kepadanya dan berjanji menanggapi setiap kegagalan dengan serius.
Vance mengakui lokasi penempatan prajurit merupakan kesalahan besar yang seharusnya bisa ditangani lebih baik. Ia menyatakan hal itu kini telah diperbaiki. Ia juga mengatakan AS telah mengubah taktik militernya untuk menghadapi ancaman drone Iran yang terus meningkat.
Baca Juga: Trump Jadikan Kerusuhan Prancis Sebagai Materi Kampanye di Pemilu Sela
Perang AS-Iran pecah pada Februari lalu. Menurut Middle East Monitor, konflik ini telah menewaskan sedikitnya 21 personel AS. Iran menerapkan strategi perang asimetris dengan meluncurkan drone murah dalam jumlah besar, sementara AS harus memakai sistem pertahanan udara canggih yang mahal untuk menangkisnya.
Kantor Anggaran Kongres AS (CBO) pada September lalu memperkirakan stok rudal pencegat AS tinggal sepertiga dari persediaan.
Sebelumnya, pada April 2026, Vance memimpin delegasi AS dalam perundingan dengan Iran di Islamabad, Pakistan. Pembicaraan selama sekitar 21 jam itu berakhir tanpa kesepakatan untuk mengakhiri perang. Hingga kini, konflik antara kedua negara belum berakhir. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Trump Sebut Paris Segera Jadi Kota Muslim, Desak Macron Tutup Perbatasan
















Mina Indonesia
Mina Arabic