New York, MINA – Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran diperkirakan telah menimbulkan kerugian ekonomi hampir 150 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.661 triliun bagi negara-negara Arab selama bulan pertama krisis. Nilai tersebut setara sekitar 4 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan Arab.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA) Rania Al-Mashat menyampaikan perkiraan itu dalam pertemuan Arria-formula Dewan Keamanan PBB yang digelar atas inisiatif Bahrain, baru-baru ini, Anadolu melaporkan.
Menurut Al-Mashat, dampak konflik tidak hanya dirasakan negara yang terlibat langsung. Gangguan keamanan di jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab turut memengaruhi perdagangan, pasokan energi dan pangan, investasi, serta stabilitas ekonomi negara-negara di kawasan.
ESCWA mencatat 21 negara Arab sebagai negara anggotanya yang membentang dari Afrika Utara hingga Timur Tengah. Sebelum konflik terbaru, sembilan dari 22 negara Arab telah berada dalam konflik atau sedang dalam proses pemulihan, dengan kondisi infrastruktur dan ruang fiskal yang terbatas.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Al-Mashat mengatakan negara-negara Arab sebelumnya telah berupaya melakukan diversifikasi ekonomi. Namun, ketidakstabilan kawasan berisiko menghambat investasi dan pembangunan, terutama apabila gangguan terhadap perdagangan dan jalur energi berlangsung berkepanjangan.
Ia menyerukan penguatan keselamatan pelayaran dan kebebasan navigasi sesuai hukum internasional, pencegahan eskalasi konflik, serta peningkatan kesiapsiagaan regional.
Menurutnya, keamanan jalur maritim perlu dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga pembangunan, pasokan kebutuhan pokok, dan stabilitas ekonomi kawasan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
















Mina Indonesia
Mina Arabic