WARGA KRISTEN IRAK MENGUNGSI TINGGALKAN ISIL

Keluarga Kristen di Mosul, Irak (Gambar: ARA News)
Keluarga Kristen di Mosul, Irak (Gambar: ARA News)

Mosul, Irak , 25 Ramadhan 1435/23 Juli 2014 (MINA) – Penduduk beragama Kristen di Kota Mosul, di provinsi Nineveh,  Irak utara mulai meninggalkan kota tersebut setelah kelompok bersenjata Negara Islam menguasai kota itu.

Warga Kristen Irak mengaku menghadapi tekanan di tengah pertumbuhan kekuatan kelompok sempalan Al-Qaeda yang sebelumnya bernama ISIL, di beberapa daerah di Irak, ARA News yang dikutip MINA melaporkan , Rabu.

Setelah mengumumkan kekhalifahan mereka di daerah-daerah Suriah dan Irak, militan Negara Islam tersebut menyeru komunitas Kristen di Mosul untuk tunduk kepada aturan Islam ISIL.

ISIL akan membuang mata pelajaran non-Muslim dan menuntut pelajar Kristen menerima perwalian kelompok dengan membayar denda, atau pergi meninggalkan kota.

Ribuan orang Kristen mengungsi setelah kelompok militan tersebut mendeklarasikan negara Islam di Mosul dimulai 10 Juni lalu. Namun, pernyataan terbaru ISIL, mendorong warga Kristen yang tersisa untuk melarikan diri dan mencari prlindungan di luar wilayah kekuasaan ISIL.

Kepala Uskup untuk Mosul dan sekitarnya, Uskup Agung Peter Moshi, menyatakan kepada media lokal pada Ahad lalu bahwa semua orang Kristen meninggalkan pusat kota Mosul.

“Saya menolak untuk bertemu dengan para pemimpin ISIL di provinsi Nineveh untuk membicarakan kedudukan warta Kristen dengan mereka,” katanya.

Uskup Agung Moshi menunjukkan bahwa 200 keluarga Kristen tiba di kota Al-Hamadaniya pada Jumat pekan lalu, sementara keluarga lain menuju ke kota Duhok dan Erbil di Kurdistan Irak.

Menurut Moshi, lebih dari 500 keluarga Kristen masih berada di Mosul pekan lalu sebelum pernyataan terbaru oleh Negara Islam. Mereka dievakuasi dari kota untuk menghindari penganiayaan oleh milian ISIL.

Peneliti Kurdi Goran Sadoun mengatakan, Kurdistan Irak telah menyebabkan ribuan orang mengungsi dari Mosul, termasuk warga Kristen, membuat didirikannya kamp-kamp di Duhok dan Erbil.

Sadoun menyeru semua organisasi internasional untuk “campur tangan dalam melindungi minoritas di kota Mosul dan kota Irak lainnya”.

Militan Negara Islam telah membakar gereja Syriac di Mosul yang berdiri sejak tahun 1836. (T/P09/P04)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0